Suara.com - Masalah sampah di Indonesia kerap disederhanakan sebagai persoalan perilaku individu. Namun bagi Nada Arini, akar persoalannya justru jauh lebih dalam: sistem yang belum mendukung perubahan.
Bagi Nada, seorang ibu berusia 46 tahun sekaligus pendiri Sustainable Indonesia, kebiasaan masyarakat hanyalah bagian kecil dari persoalan besar yang lebih struktural. Ia melihat, sistem yang ada justru belum memberi ruang yang cukup bagi masyarakat untuk menjalani gaya hidup berkelanjutan.
Masalah Sistemik yang Membuat Orang “Lelah”
Menurut Nada, rendahnya angka daur ulang di Indonesia bukan semata karena kurangnya kesadaran. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan tingkat daur ulang nasional baru mencapai sekitar 22 persen—angka yang masih jauh dari ideal.
Minimnya fasilitas pengolahan sampah menjadi salah satu penyebab utama. Di banyak wilayah, masyarakat yang ingin memilah atau mendaur ulang sampah justru tidak memiliki akses yang memadai. Dalam situasi seperti ini, upaya individu sering kali terasa sia-sia.
Nada menggambarkan pengalaman tersebut sebagai “berenang melawan arus”.
“Soalnya kita kan ada di dalam sistem yang tidak mendukung… jadi kita itu kayak berenang melawan arus, capek pastinya,” ujarnya.
Kondisi ini membuat praktik sustainable living bukan hanya soal komitmen pribadi, tetapi juga soal daya tahan menghadapi sistem yang tidak berpihak. Rasa lelah menjadi konsekuensi yang wajar, terutama ketika perubahan yang dilakukan tidak diikuti oleh dukungan lingkungan sekitar.
Sustainable Indonesia Sebagai Wadah Edukasi Sustainable Living
Melihat kondisi tersebut, Nada bersama Sustainable Indonesia memilih fokus pada masyarakat urban. Menurutnya, kelompok ini memiliki sumber daya yang relatif lebih besar, baik dari sisi finansial, waktu, maupun akses informasi.
Namun di sisi lain, gaya hidup yang serba nyaman justru menjadi tantangan tersendiri.
Baca Juga: Merawat Alam dari Hulu, Eiger Adventure Land Angkat 6 Ton Sampah di Puncak
“Kita fokusnya ke masyarakat urban… mereka punya daya untuk berubah, tapi sering kali paling malas karena sudah nyaman,” kata Nada.
Data juga menunjukkan bahwa tingkat konsumsi di perkotaan relatif tinggi. Timbulan sampah di kota-kota besar Indonesia berkisar antara 0,5 hingga 0,8 kilogram per orang per hari. Angka ini memperlihatkan bahwa perubahan perilaku di kelompok urban memiliki dampak signifikan terhadap pengurangan sampah secara keseluruhan.
Awalnya, Sustainable Indonesia menjalankan berbagai program seperti edutrip, ekspedisi, dan workshop. Namun seiring keterbatasan sumber daya, kini mereka lebih fokus pada workshop online dan edukasi melalui media sosial, cara yang dinilai lebih efisien untuk menjangkau lebih banyak orang.
Perubahan Tidak Bisa Hanya Individual
Meski mendorong perubahan dari individu, Nada menegaskan bahwa solusi tidak bisa berhenti di level personal. Perubahan besar, menurutnya, harus ditopang oleh sistem yang mendukung.
Ia menyoroti bahwa sejumlah regulasi terkait lingkungan sebenarnya sudah ada, tetapi sering kali lemah dalam implementasi dan pengawasan. Akibatnya, dampak kebijakan tidak benar-benar terasa di tingkat masyarakat.
Selain itu, ia juga menilai perlu adanya intervensi yang lebih luas, termasuk dalam mengatur pola konsumsi. Misalnya, dengan membatasi iklan yang mendorong perilaku konsumtif atau mendorong pelaku usaha untuk beralih ke material yang lebih ramah lingkungan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Bedak yang Mengandung Niacinamide, Bantu Cerahkan Wajah dan Kontrol Sebum
- 5 HP Snapdragon untuk Budget Rp2 Juta, Multitasking Stabil dan Hemat Baterai
- Mitsubishi Destinator dan XForce Lagi Promo di Bulan Mei, Harga Jadi Segini
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
Pilihan
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
Terkini
-
Posisi Tempat Tidur yang Pas Menurut Feng Shui, Demi Jaga Keharmonisan dan Cegah Insomnia
-
4 Alternatif Lipstik MAC yang Tahan Lama dan Lebih Terjangkau, Mulai Rp70 Ribuan
-
Review Buku Milenial Bisa Memimpin: Panduan Jadi Leader di Tengah Perubahan Zaman
-
Promo Khusus Member Superindo 21-27 Mei 2026: Popok Bayi hingga Skincare Jadi Murah Banget
-
Promo Superindo Terbaru, Minyak Goreng Cuma Rp20 Ribuan, Susu dan Kecap Diskon Besar
-
6 Cushion Non-Comedogenic untuk Makeup Mulus Tanpa Khawatir Wajah Breakout
-
Hair Dryer Canggih Hadir dengan Teknologi Ion dan Kolagen untuk Rambut Lebih Sehat
-
4 Ide Olahan Daging Sapi Kurban yang Tahan Lama untuk Stok Anak Kos
-
7 Destinasi Wisata Terbaik di Bengkulu yang Wajib Dikunjungi Wisatawan
-
Banyak Orang Baru Sadar, Memisahkan Uang per Kebutuhan Bikin Finansial Lebih Aman