- Acaraki di PIK 2 menghadirkan konsep Jamu Experience Cafe untuk mendekatkan minuman herbal tradisional kepada generasi muda.
- Pengunjung dapat menyaksikan langsung proses peracikan dan mengkreasikan jamu dengan berbagai bahan pendamping agar lebih sesuai selera.
- Inovasi penyajian modern ini berhasil menjadikan jamu sebagai bagian gaya hidup tanpa menghilangkan identitas budaya Indonesia.
“Aku bukan anak yang tumbuh dengan kebiasaan minum jamu, jadi awalnya agak takut rasanya bakal aneh. Tapi waktu coba beras kencur dengan susu, ternyata enak dan creamy. Rasanya tetap unik, tapi enggak bikin kaget,” ujarnya.
Menurutnya, daya tarik utama justru terletak pada cara penyajian dan pengalaman yang ditawarkan.
“Menurutku ini yang bikin seru. Kita jadi enggak merasa sedang minum sesuatu yang kuno. Ada unsur budaya, tapi cara penyampaiannya kekinian banget. Jadi pengin ngajak teman-teman lain yang biasanya cuma nongkrong sambil kopi,” katanya.
Pendekatan inovatif ini juga mendapat apresiasi dari Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, yang menilai bahwa pengembangan produk berbasis bahan alam perlu terus didorong dengan tetap menjaga standar keamanan dan kualitas.
“Setiap pagi, saya rutin mengonsumsi jamu jahe. Sebuah kebiasaan yang mencerminkan keyakinannya bahwa budaya minum jamu adalah tradisi baik yang tidak boleh hilang dan harus diwariskan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti besarnya potensi Indonesia yang memiliki sekitar 30.000 spesies tanaman herbal, yang dapat menjadi fondasi pengembangan produk kesehatan berbasis alam jika didukung pendekatan ilmiah dan regulasi yang tepat.
“Cafe Jamu Indonesia menjadi simbol bahwa jamu tidak sedang ditinggalkan zaman, ia justru sedang menemukan jalannya. Dari warisan leluhur, jamu melangkah ke masa depan kesehatan global, membawa cerita tentang budaya, sains, dan kreativitas Indonesia yang terus bergerak maju,” tutup Taruna.
Melalui cara penyajian yang lebih terbuka, rasa yang bisa disesuaikan, serta pengalaman yang interaktif, jamu kini hadir sebagai bagian dari gaya hidup, bukan sekadar warisan.
Ia tidak lagi berdiri di sudut nostalgia, melainkan masuk ke ruang pergaulan baru, menyapa generasi muda dengan cara yang lebih cair tanpa kehilangan identitasnya sebagai budaya Indonesia.
Baca Juga: Problematika Finansial Generasi Muda dalam Kami Bukan Jongos Berdasi
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- Akhir Dilema PCX vs Vario: Skutik Baru Honda Hadir Bawa Kamera Dashcam dan Mesin Lebih Buas
Pilihan
-
Prabowo Copot Dadan Hindayana, Nanik S Dayang Resmi Jadi Kepala BGN!
-
674 Korban Kebakaran Kemayoran Mengungsi, Posko Bantuan dan Layanan Kesehatan Disiagakan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
Terkini
-
Pelajaran dari Jose Ramos-Horta: Rekonsiliasi Lebih Kuat daripada Balas Dendam
-
Apa Zodiak Paling Imut? Ternyata Ini Jawaban dan Alasannya!
-
3 Sabun Cuci Muka yang Lolos Penilaian Dokter, Bantu Bersihkan Wajah Tanpa Bikin Ketarik
-
Sunscreen yang Bagus itu Merk Apa? Ini 5 Pilihan 'Holy Grail' Menurut Review
-
Kekayaan Ruben Onsu yang Setop Nafkahi Sarwendah selama 6 Bulan
-
4 Trik Feng Shui Sederhana di Kamar Tidur yang Bisa Lancarkan Rezeki dan Karier
-
4 Sunscreen SPF Tinggi yang Direkomendasikan Dokter untuk Cuaca Panas Menyengat
-
Apakah Air Mawar Bisa Bikin Wajah Glowing? Ini 4 Produk Mulai Rp8 Ribuan yang Ramai Diburu
-
Sendalu Permaculture, Jembatan Warga Urban Menuju Hidup yang Lebih Sadar
-
4 Ciri Pelaku Love Scamming Seperti Kasus Fabiola Elizabeth Agnes