- International Global Network menyelenggarakan konferensi AYIMUN di Four Points by Sheraton Bekasi pada 11–12 April 2026 mendatang.
- Kegiatan simulasi sidang PBB ini bertujuan melatih kemampuan diplomasi, kepemimpinan, dan komunikasi kritis bagi ratusan generasi muda.
- Program ini didukung pemerintah dan institusi pendidikan sebagai sarana membangun karakter siswa agar siap menjadi pemimpin global.
Suara.com - Upaya membentuk generasi muda yang siap menghadapi tantangan global tidak lagi cukup hanya mengandalkan capaian akademik semata. Di tengah dunia yang semakin terhubung, anak muda perlu ruang untuk mengenal minatnya, mengasah keterampilan lunak, serta memahami cara berinteraksi dalam konteks internasional.
Inilah yang coba dihadirkan oleh Asia Youth International Model United Nations melalui penyelenggaraan AYIMUN Presents Al-Muhajirien MUN pada 11–12 April 2026 di Four Points by Sheraton Bekasi.
Konferensi ini bukan sekadar simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa, melainkan ruang belajar yang hidup. Di dalamnya, ratusan peserta dari berbagai jenjang pendidikan diajak untuk menyelami isu-isu global, bertukar perspektif, sekaligus melatih keberanian dalam menyampaikan gagasan.
Inisiatif ini digagas oleh International Global Network (IGN), organisasi pendidikan yang konsisten membuka akses bagi generasi muda untuk berkembang melalui berbagai program internasional.
Presiden IGN, Muhammad Fahrizal, menegaskan bahwa Model United Nations bukan hanya tentang peran bermain sebagai delegasi negara.
“Model United Nations is more than just a simulation. It is a transformative learning experience,” ujarnya. Menurutnya, melalui forum seperti ini, peserta tidak hanya belajar tentang isu global, tetapi juga mengasah kemampuan berpikir kritis, komunikasi, serta memahami kompleksitas diplomasi dunia nyata.
Semangat ini juga sejalan dengan visi pendidikan yang lebih luas. Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, melihat program seperti AYIMUN sebagai bagian dari upaya membangun generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Ia menekankan bahwa pendidikan berkualitas harus mampu melahirkan individu yang tidak hanya siap membangun bangsa, tetapi juga mampu berperan sebagai pemimpin global. “Good education not only prepares us to build our nation, but also to become global leaders,” ungkapnya.
Dukungan serupa juga datang dari Tri Adhianto Tjahyono, yang menilai kegiatan ini sebagai simulasi nyata kehidupan masa depan. Ia menyoroti pentingnya kemampuan komunikasi, negosiasi, dan kepemimpinan yang dilatih dalam forum tersebut.
Baca Juga: Minyak Dunia Tembus USD 110, Subsidi RI Terancam Bengkak Rp79 Triliun
“Kita tidak hanya butuh tenaga kerja. Kita butuh anak muda yang mampu menjadi communicator, negotiator, dan pemimpin,” ujarnya, menegaskan bahwa keterampilan ini semakin relevan bagi kota-kota berkembang seperti Bekasi.
Lebih jauh, kolaborasi dengan Yayasan Waqaf Al-Muhajirien Jakapermai menunjukkan bagaimana institusi pendidikan dapat berperan aktif membuka akses pengalaman global bagi siswanya.
Ketua yayasan, H. M. Syafiudin, menjelaskan bahwa program ini menjadi bagian dari pembelajaran berbasis praktik melalui inisiatif AGILE dan Global Perspectives, di mana siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga menerapkannya secara langsung dalam forum internasional.
Dampak nyata dari pendekatan ini terlihat dari pengalaman peserta. Salah satunya adalah Revina Nadine Nugraha, yang mengaku mengalami perubahan besar setelah mengikuti berbagai program MUN.
Dari seorang anak yang pemalu, ia berkembang menjadi pribadi yang lebih percaya diri dan mampu bersosialisasi dengan lebih luas. Pengalamannya menjadi bukti bahwa ketika anak muda diberikan ruang yang tepat, mereka mampu menemukan potensi terbaik dalam dirinya.
Melalui kegiatan seperti AYIMUN, anak muda tidak hanya diperkenalkan pada isu-isu global, tetapi juga diajak untuk terlibat aktif dalam mencari solusi.
Mereka belajar bahwa diplomasi bukan sekadar konsep, melainkan keterampilan yang bisa dilatih sejak dini, mulai dari mendengarkan, memahami perbedaan, hingga menyampaikan ide secara konstruktif.
Pada akhirnya, mendorong anak muda untuk menemukan minat, mengembangkan soft skills, dan terhubung dengan dunia bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Dunia yang terus berubah menuntut generasi yang adaptif, terbuka, dan mampu bekerja sama lintas budaya.
Dan melalui ruang-ruang seperti inilah, benih-benih pemimpin masa depan mulai tumbuh, berani bermimpi, siap berdialog, dan mampu mengambil peran di panggung global.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 14 Juli 2026, Banyak Teka-teki Akhirnya Terjawab
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Potensi Menang Praperadilan: Siasat Redam Konflik Polri-Kejagung
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
Kopdes Merah Putih Boleh Kelola Tambang? Jubir Gerindra: yang Penting Sesuai Aturan
-
BPDP Ungkap Temuan Riset Sawit, Bisa untuk Suplemen Ibu Hamil hingga Bensin
-
4 Pelembap Anti-Aging Lokal untuk Usia 25-an, Wajah Awet Muda Bebas Penuaan
-
Hampir Semua Pelaku Kejahatan SDA-LH Divonis Bersalah, Tapi Tak Jera!
-
Kisah di Balik Foto Messi Mandikan Lamine Yamal yang Viral Jelang Final Piala Dunia
-
Menangis Saat Antar Anak Masuk Sekolah Rakyat
-
5 Sabun Cuci Muka Pond's Men untuk Mengatasi Kulit Kusam dan Berminyak
-
Parfum Scarlett Tahan Berapa Jam? Ini 3 Varian yang Diklaim Paling Awet
-
Transformasi Bisnis Rumahan Jadi Brand Dunia Hingga Raih Penghargaan BRI
-
Lebih dari Putus Cinta, Ini Alasan Friendship Breakup Terasa Menyakitkan