Suara.com - Perubahan kondisi lingkungan kian terasa dalam beberapa tahun terakhir. Suhu udara meningkat, kualitas air menurun, dan ruang terbuka hijau semakin terdesak oleh pembangunan. Situasi ini menandai tekanan serius terhadap keberlanjutan lingkungan, terutama di wilayah perkotaan.
Di tengah kondisi tersebut, River Ranger Jakarta melihat krisis ini bukan sekadar ancaman, tetapi panggilan untuk bertindak, terutama bagi generasi muda.
Founder dan Ketua River Ranger Jakarta, Syahiq Harpi, menilai anak muda memiliki peran penting sebagai agen perubahan. Menurutnya, potensi itu lahir dari inisiatif, energi, dan cara pandang yang masih terbuka.
Namun, ia menekankan bahwa dorongan untuk berubah harus berangkat dari satu hal mendasar: rasa memiliki dan kepedulian terhadap lingkungan tempat mereka hidup.
Surga Turun di Tanah Papua
Ada satu kenangan yang selalu membekas di ingatan Syahiq ketika ia berada di Papua. Saat itu, ia sedang berdiskusi dengan beberapa orang mengenai keindahan alam Indonesia.
Mereka menganggap bahwa "surga kecil yang turun ke bumi" itu ada di Papua. Namun, di sinilah Syahiq membantahnya: “Aku bilang ke mereka gini, ‘saya tra percaya bahwa surga itu ada di sini kaka'.”
“Baru, kenapa kau tra percaya begitu?” balas seseorang.
“Mana ada surga itu sampah, mana ada itu plastik?” timpal Syahiq.
Baca Juga: Bisakah Pariwisata Indonesia Tetap Tumbuh Tanpa Merusak Lingkungan?
Ketika mendengar itu, lawan bicaranya tiba-tiba terdiam. Air mata menetes di pipi mereka. Sebenarnya mereka merasa aware, merasa peduli bahwa benar di surga itu tidak ada plastik. Mereka baru saja menyadari betapa rapuhnya keindahan tersebut jika tidak dijaga oleh tangan-tangan yang peduli.
Di sana River Ranger menunjukkan, betapa mirisnya sungai-sungai di Jawa Barat saat ini. Sungai Cisadane, Sungai Ciliwung, Sungai Cimahi yang sangat kotor, hingga Sungai Citarum yang baru saja dibersihkan oleh Pandawara, tetapi kembali lagi seperti semula.
“Kita ngeliatin ke orang-orang Papua, mereka bilang, ‘kotor banget sungai ini’. Nah nih ya, andaikan, ibaratnya kalian bayangkan, kita adalah orang yang datang dari masa depan. Nih loh sungai kalian nanti, kalau misalnya, kalian masih melakukan yang seperti ini, karena dulu sungai kita tuh kayak kalian. Nah sebelum kayak gini, kamu mau nggak sungai kalian kayak gini? Enggak kan? Please change,” ujar Koordinator Kurikulim River Ranger Jakarta, Andriana (Nana).
Kisah inilah yang menjadi fondasi perjuangan River Ranger Jakarta. Syahiq ingin anak muda Indonesia memiliki "mata" yang sama dengan orang-orang yang menangis peduli. Iya menegaskan bahwa kerusakan lingkungan tidak berasal dari sampahnya, tapi dari empati manusianya yang sudah hilang.
Pesan untuk Generasi Muda
Bagi generasi Z dan milenial, tantangannya adalah membangun sistem kemandirian. Kita tidak bisa lagi terus-menerus bergantung pada kebijakan pemerintah yang sering kali berjalan lambat. Anak muda harus mandiri dari lingkup paling kecil, rumah. Mulai dari mengolah sampah organik hingga mengurangi jejak karbon pribadi.
Menjadi agen perubahan di bumi yang rapuh ini memang tidak mudah. Banyak yang merasa bahwa aksi satu orang tidak akan berarti apa-apa. Namun, bagi Nana, kita harus jadi contoh untuk orang lain. Dari situ kita akan merasakan semua orang akan berubah karena pengaruh kita.
Pada akhirnya, menjaga bumi bukanlah tentang menyelamatkan sesuatu yang jauh di luar sana. Ini adalah tentang menyelamatkan masa depan kita sendiri, di tempat kita berdiri saat ini. Seperti halnya hutan Papua yang menyimpan surga, masa depan bumi pun menyimpan harapan ketika kita cukup berani untuk mencintai dan menjaganya sebelum semuanya terlambat.
Penulis: Vicka Rumanti
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 14 Juli 2026, Banyak Teka-teki Akhirnya Terjawab
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Potensi Menang Praperadilan: Siasat Redam Konflik Polri-Kejagung
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
DPR Siapkan Panja Khusus Awasi Program MBG, Ini Alasannya
-
Gelap Mata karena Tunangan Digoda: Sabetan Samurai Pemuda Lumajang Berakhir 12 Jahitan
-
Sihir Messi Sampai ke Bogor: Cerita Warga Ciampea Terharu Emosi di Alun-Alun Tegar Beriman
-
Bukan Bebas, Kejagung Pastikan Febrie Adriansyah Tetap Tersangka Usai Pelimpahan dari Polri
-
Siapa 'Tamu Tak Diundang' yang Disinggung Prabowo dalam Pidatonya?
-
6 Cara Membersihkan Sepatu Sekolah Putih yang Kotor agar Bersih seperti Baru
-
Marak Kepala Daerah Kena OTT, Tito: Integritas Tak Bisa Dijamin Meski Dipilih Rakyat
-
Transformasi Digital Sukses, Bisnis Madu Asal Lampung Manfaatkan QRIS dan Pembiayaan BRI
-
Lionel Scaloni Menyebut Argentina Bangkit Akibat Kesalahan Fatal Pelatih Inggris
-
Bukan Cuma Tubuh, Ini 5 Alasan Fermentasi Makanan Ramah untuk Lingkungan