Lifestyle / Komunitas
Rabu, 22 April 2026 | 12:25 WIB
Ilustrasi Generasi Muda Aceh (Freepik)
Baca 10 detik
  • Pemerintah dan tokoh Aceh menekankan pentingnya peran generasi muda sebagai faktor kunci keberlanjutan pembangunan daerah masa depan.
  • Program AMANAH akan diluncurkan kembali untuk memperkuat kapasitas keterampilan, kewirausahaan, dan ekonomi kreatif bagi pemuda di Aceh.
  • Penyediaan ruang pengembangan yang adaptif sangat diperlukan agar pemuda mampu menjadi aktor utama dalam menghadapi tantangan global.

Suara.com - Minimnya ruang pengembangan dan keterlibatan generasi muda dalam pembangunan masih menjadi tantangan di Aceh. Padahal, tanpa kesiapan anak muda, arah pembangunan berisiko tidak berkelanjutan di tengah perubahan ekonomi global.

Peran generasi muda kembali ditegaskan sebagai faktor kunci dalam menentukan arah pembangunan Aceh. Menjelang relaunching program Aneuk Muda Aceh Unggul dan Hebat (AMANAH), perhatian terhadap penguatan kapasitas anak muda semakin menguat.

Malik Mahmud Al Haythar menegaskan bahwa masa depan Aceh sangat bergantung pada kualitas generasi mudanya.

Dalam pertemuan dengan pengurus AMANAH, ia menekankan pentingnya pembangunan yang tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga pada pengembangan manusia.

Ruang kreatif bagi generasi muda di Aceh. (Dok. Istimewa)

Menurutnya, tanpa kesiapan generasi muda, pembangunan berisiko kehilangan arah dan tidak berkelanjutan. Ia juga mengingatkan agar modernisasi tetap berjalan seiring dengan menjaga karakter dan identitas Aceh.

Ketua Yayasan AMANAH, Syaifullah Muhammad, menyebut relaunching program menjadi upaya membuka kembali akses pengembangan keterampilan bagi anak muda, sekaligus memperluas kolaborasi lintas sektor.

Ia menjelaskan bahwa penguatan kapasitas generasi muda tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan ekonomi masa depan, termasuk sektor ekonomi kreatif dan kewirausahaan berbasis potensi lokal.

Pandangan serupa disampaikan Syech Muharram yang menilai pentingnya menghadirkan ruang bagi anak muda untuk mengembangkan diri. Menurutnya, generasi muda perlu didorong agar tidak hanya menjadi penonton dalam pembangunan, tetapi juga aktor utama.

Sementara itu, Illiza Sa’aduddin Djamal melihat bahwa tantangan ke depan menuntut generasi muda yang adaptif dan inovatif. Ia menilai ruang-ruang pengembangan seperti AMANAH bisa menjadi salah satu instrumen untuk mendorong lahirnya gagasan dan inisiatif baru.

Baca Juga: Luka dari Meurawoe: Membaca Aceh Pasca-DOM dalam Bayang Suram Pelangi

Di tengah perubahan ekonomi dan tuntutan global, posisi generasi muda menjadi semakin strategis. Tanpa penguatan kapasitas dan dukungan ekosistem yang memadai, peluang pembangunan bisa terlewat. Sebaliknya, jika dimaksimalkan, generasi muda berpotensi menjadi motor utama yang menentukan arah dan masa depan Aceh.

Load More