Suara.com - Di tengah meningkatnya kebutuhan pembangunan dan tekanan perubahan iklim, upaya mengurangi emisi sering kali dikaitkan dengan teknologi baru, material modern, atau bangunan berstandar hijau.
Namun, sebagian jawabannya mungkin sudah lama hadir di sekitar kita—melalui rumah-rumah tradisional yang dibangun berdasarkan pengetahuan lokal dan hubungan dekat dengan alam.
Konsep tersebut dikenal sebagai arsitektur vernakular, yaitu pendekatan membangun yang berkembang dari kondisi lingkungan, budaya, dan kebutuhan masyarakat setempat.
Ketua Komunitas Arsitektur Hijau Angkatan 40, Avril Silvio Brasdia, menjelaskan bahwa arsitektur vernakular tidak lahir dari satu standar desain yang seragam.
Bentuk dan karakter bangunan tumbuh dari kebiasaan hidup masyarakat sekaligus kondisi geografis tempat bangunan itu berdiri.
“Biasanya rumah-rumah vernakular ini dibangun berdasarkan apa yang berkembang dari konteks tapak, misalnya bisa dari aktivitas sehari-hari warga di sana, dan budaya yang berkembang di daerah tersebut yang tentunya bisa memberikan nilai lokal pada bangunannya,” ujar Avril.
Karena itu, rumah tradisional di berbagai daerah Indonesia memiliki bentuk yang berbeda-beda. Ada yang dirancang dengan kolong tinggi untuk menghadapi banjir, ada yang memaksimalkan sirkulasi udara di wilayah tropis, hingga menggunakan bentuk atap tertentu untuk menyesuaikan curah hujan dan suhu setempat.
Mengurangi Emisi Lewat Material yang Lebih Dekat
Di balik bentuknya yang khas, salah satu nilai yang dinilai relevan saat ini adalah penggunaan material lokal.
Baca Juga: Lampu Hijau Bukan Berarti Boleh Jalan, Ini Aturan Yellow Box Junction yang Sering Dilanggar
Menurut Avril, bangunan vernakular umumnya memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar lokasi pembangunan. Pendekatan tersebut berpotensi mengurangi kebutuhan distribusi bahan bangunan dari wilayah lain yang membutuhkan energi besar.
“Kalau kita mengambil nilai vernakular untuk diterapkan pada bangunan yang akan kita ciptakan, di mana dari segi materialnya berasal dari kekayaan alam sekitar penggunaan material lokal, maka berpotensi memangkas jarak logistik sehingga *carbon footprint* material dapat berkurang,” katanya.
Pendekatan ini menjadi semakin penting karena sektor bangunan merupakan salah satu penyumbang emisi terbesar secara global.
Data yang dirangkum Ecochain dengan mengutip International Energy Agency (IEA) 2023 dan UNEP Global ABC 2022 menunjukkan sektor bangunan dan konstruksi menyumbang sekitar 37–39 persen emisi CO global, sementara 7–11 persen di antaranya berasal dari produksi material bangunan**.
Dalam konteks tersebut, penggunaan material lokal dinilai dapat menjadi salah satu cara untuk menekan emisi sejak tahap pembangunan.
Belajar dari Cara Bangunan Beradaptasi dengan Alam
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Beda Cushion Wardah Colorfit Hijau dan Krem: Intip Harga, Kandungan, dan Manfaatnya
- 5 HP Android dengan Kualitas Setara iPhone 13 Pro dan iPhone 13 Pro Max
Pilihan
-
Derita Masyarakat RI Bertambah Kini Harga Pertamax Naik, Apa yang Harus Dilakukan?
-
Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
-
Namanya Terseret Isu Dugaan Korupsi BGN, Yahya Golkar: Semua Anggota Komisi IX DPR Tak Terlibat!
-
Perhatian! Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250/Liter
-
Susunan Pemain Timnas Indonesia vs Mozambik di FIFA Matchday Malam Ini
Terkini
-
3 Maskara Andalan Davina "Terikat Janji" agar Bulu Mata Lentik dan Panjang di Depan Kamera
-
3 Produk Lipstik Andalan Asha Assuncao, Bibir Jadi Plumpy Ala Davina 'Terikat Janji'
-
5 Tone Up Sunscreen untuk Mencerahkan Wajah, Anti White Cast Menurut Review Pengguna
-
5 Rekomendasi Sayur yang Mudah Ditanam di Pot, Lahan Sempit Bukan Halangan
-
Jakarta Baru Punya 5,31 Persen Ruang Terbuka Hijau: Mengapa Warga Turun Tangan Kawal Taman Kota?
-
4 Parfum Evangeline Best Seller di Shopee, Wanginya Bikin Susah Pindah ke Parfum Lain
-
5 Rekomendasi Sunscreen SPF 30 untuk Dipakai Indoor, Ringan dan Harga Terjangkau
-
3 Lipstik Viva Cosmetics Paling Laris di Shopee Menurut Ulasan dan Harganya
-
4 Sepatu Lari Super Trainer Pesaing Adidas Adizero Evo SL, Terbaik Buat Jarak Jauh
-
Saat Pakaian Lama Punya Hidup Baru: Inspirasi Fashion Berkelanjutan dari Uniqlo