Lifestyle / Komunitas
Rabu, 22 April 2026 | 13:44 WIB
Macam-Macam Kecurangan UTBK 2026, Ini Risiko dan Sanksinya! (freepik)

Suara.com - Pelaksanaan UTBK SNBT 2026 kembali menjadi sorotan. Bukan hanya soal persaingan masuk perguruan tinggi negeri yang semakin ketat, tetapi juga maraknya berbagai modus kecurangan yang semakin canggih dan terorganisir.

Di hari pertama pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer atau UTBK 2026, panitia sudah menemukan banyak pelanggaran, mulai dari joki ujian, manipulasi identitas, hingga penggunaan teknologi tersembunyi seperti alat bantu dengar. Bahkan, beberapa kasus melibatkan sindikat yang menawarkan “jasa lulus instan”.

Fenomena ini tentu memprihatinkan. Selain merugikan peserta lain, kecurangan juga berisiko besar terhadap masa depan pelakunya. Lalu, apa saja bentuk kecurangan UTBK 2026 yang terungkap? Dan apa sanksinya?

Macam-Macam Kecurangan UTBK 2026

Berikut beberapa modus kecurangan yang berhasil diungkap panitia:

1. Perjokian (Joki Ujian)

Modus klasik yang masih terjadi hingga sekarang. Dalam kasus UTBK 2026, ditemukan satu orang yang mengikuti ujian menggunakan dua identitas berbeda, bahkan lintas tahun. Artinya, ada orang lain yang menggantikan peserta asli demi mendapatkan nilai tinggi.

2. Manipulasi Foto dan Identitas

Peserta mencoba mengelabui sistem dengan mengubah foto pendaftaran, misalnya mengatur posisi wajah atau atribut seperti jilbab agar tidak terdeteksi. Namun, teknologi face recognition yang digunakan panitia mampu mendeteksi perbedaan tersebut.

Baca Juga: 7 Aplikasi Rasionalisasi UTBK-SNBT Gratis, Ukur Peluang Lolos Kampus Impian

3. Penggunaan Alat Bantu Dengar (Teknologi Curang)

Ini menjadi salah satu kasus paling mengejutkan di UTBK 2026. Seorang peserta UTBK di Universitas Diponegoro (Undip) diketahui menggunakan alat bantu dengar kecil yang ditanam di dalam telinga untuk menerima jawaban dari luar.

Bahkan, alat tersebut harus dilepas oleh dokter THT karena posisinya terlalu dalam. Akhirnya peserta yang diketahui hendak mendaftar ke fakultas kedokteran tersebut diinterogasi sebelum diserahkan Polres setempat dan sempat mendapat pembinaan dari pihak berwajib.

4. Sindikat Kecurangan Terorganisir

Tidak hanya individu, panitia juga menemukan indikasi adanya jaringan atau sindikat yang menawarkan bantuan kecurangan kepada peserta. Biasanya, mereka menjanjikan kelulusan dengan imbalan biaya tertentu.

Aturan dan Sanksi Jika Curang di UTBK

Panitia SNPMB tidak main-main soal kecurangan. Berikut konsekuensi yang harus siap ditanggung peserta UTBK jika terbukti curang:

1. Diskualifikasi Otomatis

Peserta yang terbukti curang akan langsung dikeluarkan dari proses seleksi nasional.

2. Pembatalan Hasil Ujian

Nilai UTBK yang sudah diperoleh akan dinyatakan tidak sah.

3. Potensi Diblacklist

Dalam kasus tertentu, pelaku bisa masuk daftar pengawasan atau blacklist untuk seleksi berikutnya.

4. Risiko Hukum (Jika Terlibat Sindikat)

Jika terbukti terlibat jaringan kecurangan, pelaku bisa terkena proses hukum, terutama jika ada unsur penipuan atau pemalsuan dokumen.

Kecurangan UTBK Kini Semakin Canggih

Ada beberapa alasan utama tindakan curang saat tes penerimaan mahasiswa perguruan tinggi. Di antaranya tekanan tinggi untuk masuk PTN favorit, kemajuan teknologi (alat kecil, sulit terdeteksi), aAdanya pihak yang memanfaatkan peluang bisnis ilega, hingg kurangnya kesadaran akan risiko jangka panjang

Padahal, sistem UTBK saat ini sudah semakin ketat dengan:

  • Metal detector
  • Verifikasi biometrik
  • Face recognition
  • Monitoring real-time

Kecurangan UTBK 2026 menunjukkan bahwa modus yang digunakan semakin beragam, mulai dari cara klasik seperti joki hingga teknologi canggih seperti alat bantu dengar tersembunyi.

Namun, satu hal yang pasti bahwa risikonya jauh lebih besar dibanding keuntungannya. Dengan sistem pengawasan yang semakin canggih, peluang untuk lolos dari kecurangan sangat kecil. Sebaliknya, konsekuensi seperti diskualifikasi hingga masalah hukum bisa menghancurkan masa depan.

Jadi, daripada mencari jalan pintas, jauh lebih aman dan bijak untuk mempersiapkan diri dengan belajar yang jujur.

Kontributor : Rishna Maulina Pratama

Load More