News / Nasional
Selasa, 21 April 2026 | 14:44 WIB
Istana Negara di Jakarta. (Suara.com/Novian)
Baca 10 detik
  • Kopassus melalui akun Instagram resminya membantah kabar keributan antara Pangkopassus Letjen TNI Djon Afriandi dengan protokol Istana.
  • Kabar bohong yang viral pada Selasa (21/4/2026) tersebut menyebut Djon Afriandi menampar protokol karena menunggu bertemu Prabowo.
  • Pihak Kopassus menegaskan narasi tersebut adalah informasi palsu yang sengaja disebarkan untuk menciptakan kegaduhan dan memecah belah instansi.

Suara.com - Komando Pasukan Khusus (Kopassus) bergerak cepat meredam kabar miring yang beredar di jagat maya.

Melalui akun Instagram resminya, @penkopassus, Korps Baret Merah tersebut secara resmi melabeli narasi keributan antara Panglima Komando Pasukan Khusus (Pangkopassus) Letjen TNI Djon Afriandi dengan salah seorang di Istana sebagai berita bohong atau fake news.

Kopassus meminta masyarakat untuk tidak termakan isu yang tidak bertanggung jawab tersebut.

"Waspada sedang beredar kabar bohong yang menyeret nama petinggi TNI dan lingkungan Istana. Narasi ini mengklaim adanya keributan antara Pangkopassus dan pihak protokoler," tulis akun @penkopassus pada Selasa (21/4/2026).

Komando Pasukan Khusus (Kopassus) secara resmi melabeli narasi keributan antara Danjen Kopassus (Pangkopassus) dengan pihak protokoler Istana sebagai berita bohong atau fake news. (tangkap layar/ ist)

Diketahui, media sosial dihebohlan dengan beredarnya kabar yang menyebutkan bahwa Letjen TNI Djon Afriandi menampar protokol Istana. Adapun dalam narasi tersebut Djon disebut harus menunggu sekitar 20 menit untuk bertemu Prabowo. Sedangkan Prbowo disebut langsung meminta Djon masuk untuk melakukan pertemuan karena sudah ditunggu.

Terkait itu, pihak Kopassus menegaskan bahwa narasi yang viral di media sosial itu hanyalah karangan belaka yang bertujuan untuk memancing kegaduhan di tengah masyarakat.

"Faktanya ini hanyalah karangan yang tidak memiliki bukti valid. Iformasi ini sengaja disebar untuk menciptakan kegaduhan dan memecah belah soliditas internal institusi negara," tegas unggahan tersebut.

Load More