Lifestyle / Komunitas
Kamis, 30 April 2026 | 15:26 WIB
Ilustrasi Hari Buruh. (Freepik)

Suara.com - Tanggal 1 Mei tiap tahun terdapat dua hari besar bersejarah bagi Tanah Air. Ada Hari Buruh yang menjadi tonggak peringatan bagi hak-hak buruh seantero Nusantara hingga dunia.

Melalui Hari Buruh, para pekerja dari berbagai daerah memberikan aspirasi mereka melalui rangkaian demonstrasi dan unjuk rasa.

Ada juga Hari Pembebasan Irian Barat yang menjadi cikal bakal masuknya Pulau Papua ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Mari mengulas secara mendalam dua hari besar pada tanggal 1 Mei tersebut.

Hari Peringatan Pembebasan Irian (Papua) Barat

Petugas melakukan perawatan monumen Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Kamis (26/9/2024). [Suara.com/Alfian Winanto]

 

Setiap tanggal 1 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pembebasan Irian Barat.

Momen ini bukan sekadar coretan di kalender, melainkan puncak dari perjuangan panjang mengembalikan kedaulatan Indonesia secara utuh dari Sabang sampai Merauke.

Awal Mula Adanya Hari Pembebasan Irian Barat

Latar belakang peringatan ini bermula dari Konferensi Meja Bundar (KMB) tahun 1949.

Kala itu, Belanda mengakui kedaulatan Indonesia, namun sengaja "menggantung" status Papua Barat.

Baca Juga: 1 Mei Bank Buka atau Tidak? Ini Daftar Lengkap Libur Bank Mei 2026

Belanda bersikeras mempertahankan wilayah tersebut, sementara Indonesia menegaskan bahwa Papua adalah bagian sah dari NKRI.

Penundaan yang berlarut-larut ini memicu ketegangan diplomatik hingga konfrontasi militer melalui Tri Komando Rakyat (Trikora) pada 1961.

Momen menuju pembebasan

Dunia internasional, melalui PBB, akhirnya turun tangan untuk menghindari perang besar.

Berdasarkan Persetujuan New York (15 Agustus 1962), Belanda wajib menyerahkan kekuasaan atas Papua kepada otoritas sementara PBB yang bernama United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA).

Momentum 1 Mei

Setelah masa transisi di bawah kendali PBB, tepat pada 1 Mei 1963, UNTEA secara resmi menyerahkan administrasi Papua Barat sepenuhnya kepada pemerintah Indonesia.

Penyerahan ini menandai berakhirnya penjajahan Belanda di Nusantara. Bendera Merah Putih pun berkibar gagah di bumi Cendrawasih, menggantikan bendera Belanda.

Peringatan ini menjadi pengingat akan pentingnya persatuan nasional dan penghormatan atas pengorbanan para pahlawan yang memastikan Papua tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari pangkuan Ibu Pertiwi.

Hari Buruh

Sejumlah massa buruh melakukan aksi unjuk rasa di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, Senin (1/5/2023). [Suara.com/Alfian Winanto]

Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day yang jatuh setiap 1 Mei memiliki akar sejarah yang mendalam.

Momen ini lahir dari perjuangan kelas pekerja untuk mendapatkan hak-hak dasar yang manusiawi.

Tragedi Haymarket

Latar belakang utamanya adalah peristiwa Tragedi Haymarket di Chicago, Amerika Serikat, pada Mei 1886.

Kala itu, ribuan buruh melakukan aksi demonstrasi besar-besaran untuk menuntut pengurangan jam kerja menjadi 8 jam sehari.

Sebelum gerakan ini masif, buruh sering kali dipaksa bekerja hingga 12 atau 16 jam sehari dalam kondisi yang buruk dan berbahaya.

Aksi yang awalnya damai tersebut berubah menjadi konflik berdarah antara massa dan pihak kepolisian.

Ledakan bom dan kerusuhan menyebabkan banyak korban jiwa, baik dari kalangan buruh maupun aparat.

Peristiwa memilukan ini kemudian menjadi simbol perlawanan buruh sedunia terhadap eksploitasi.

Pengakuan Global

Pada tahun 1889, melalui Kongres Sosialis Internasional di Paris, tanggal 1 Mei ditetapkan sebagai hari libur bagi para buruh dan menjadi momentum solidaritas internasional.

Adapun di Indonesia sendiri, Hari Buruh sempat dilarang pada masa Orde Baru karena dikaitkan dengan paham tertentu.

Namun, setelah era Reformasi, 1 Mei kembali dirayakan secara terbuka dan ditetapkan sebagai Hari Libur Nasional sejak tahun 2014 guna menghormati kontribusi buruh dalam pembangunan ekonomi bangsa.

Kontributor : Armand Ilham

Load More