Lifestyle / Komunitas
Kamis, 07 Mei 2026 | 12:09 WIB
Wisata Tubing di Sungai Pusur Klaten. (Dok; newrivermoon.com)
Baca 10 detik
  • Pusur Institute sejak 2017 menggerakkan konservasi sungai di Klaten untuk mengatasi permasalahan sampah melalui kolaborasi lintas sektor.
  • Program konservasi melibatkan pemuda dalam penghijauan hulu, pelepasan ikan endemik, serta pengelolaan sampah untuk pemulihan ekosistem sungai.
  • Pemanfaatan sungai menjadi destinasi wisata dan sistem pembayaran jasa lingkungan berhasil meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar sungai.

Gerakan itu berkembang menjadi relawan kebersihan sungai bersama Pusur Institute dan dukungan dari AQUA Klaten.

Jembatan yang melintas di Sungai Pusur. (Suara.com/Bimo Aria Fundrika

Sedikit demi sedikit, masyarakat mulai ikut terlibat membersihkan sungai, membuka akses kawasan, hingga menyediakan tempat sampah di sekitar lokasi.

Kini, kawasan tersebut berkembang menjadi ruang wisata berbasis alam. Salah satu pengelolanya adalah New Rivermoon yang menyediakan aktivitas river tubing, outbound, hingga restoran bernuansa alam.

Managing Director New Rivermoon, Prakoso, mengatakan upaya menjaga sungai tetap menjadi bagian penting dari aktivitas usaha mereka.

“Kami dari 2017 bersih-bersih sungai. Setelah pandemi, kami membuka restoran dan tetap menjaga pengelolaan lingkungan,” ujarnya.

Mereka juga mulai memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik, hingga menggunakan instalasi pengolahan air limbah agar tidak mencemari sungai.

“Pelan-pelan kami berkomitmen menjaga alam supaya bisnis tetap berjalan dan lingkungan tetap terjaga,” katanya.

Sementara di wilayah hilir, fokus gerakan diarahkan pada pertanian regeneratif dan pengelolaan irigasi. Menariknya, sebagian petani di wilayah hilir kini mulai ikut membayar jasa lingkungan kepada masyarakat di kawasan hulu.

Skema ini dikenal sebagai pembayaran jasa lingkungan, yakni mekanisme di mana pihak yang menikmati manfaat air ikut berkontribusi menjaga kawasan resapan.

Baca Juga: Kurangi Ketergantungan Diesel, IESR Desak Prioritaskan PLTS di Daerah Terpencil

Dana tersebut digunakan untuk konservasi, mulai dari penanam

Emperan Merapi Montong (EMMON). (Suara.com/Bimo Aria Fundrika

an pohon hingga pembuatan biopori.

Menurut Lintang, saat ini sudah ada sejumlah pihak seperti universitas dan perusahaan yang ikut menjadi “buyer” dalam skema tersebut.

“Misalnya satu pohon punya nilai manfaat sekitar Rp5.000 per tahun untuk menjaga lingkungan,” ujarnya.

Kolaborasi lintas sektor ini juga mendapat dukungan dari Danone AQUA. Public Affairs & Sustainability Senior Manager AQUA, Jeffri Ricardo, mengatakan konservasi air menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan ekonomi masyarakat.

“Kami berkomitmen untuk mengembalikan air ke alam lebih banyak daripada air yang digunakan,” ujarnya.

Load More