Lifestyle / Female
Selasa, 12 Mei 2026 | 11:07 WIB
Pejaten Shelter. (Dok. Pejaten Shelter)
Baca 10 detik
  • Dr. Susana Somali mendirikan Pejaten Shelter pada 2009 di Jakarta untuk menyelamatkan anjing dan kucing yang terlantar.
  • Shelter ini merawat lebih dari 2.500 hewan melalui penyediaan layanan medis, rehabilitasi, hingga proses adopsi yang ketat.
  • Lembaga ini juga aktif mengedukasi masyarakat mengenai tanggung jawab pemilik hewan untuk memutus rantai penelantaran satwa.

Suara.com - Suara gonggongan anjing dan kepakan kandang kucing terdengar silih berganti di sebuah sudut Pejaten Barat, Jakarta Selatan. Di tempat itu, ratusan hewan terlantar hidup berdampingan.

Sebagian datang dengan luka terbuka, tubuh kurus, atau trauma akibat kekerasan. Namun di tangan Dr. Susana Somali, SPPK, mereka mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup.

Perempuan yang akrab disapa dr. Susana itu mendirikan Pejaten Shelter pada 2009. Awalnya sederhana. Ia hanya menyelamatkan anjing dan kucing terlantar secara pribadi menggunakan biaya sendiri.

Namun seiring waktu, jumlah hewan yang membutuhkan pertolongan terus bertambah. Dari aksi kecil itu, lahirlah sebuah shelter yang kini merawat lebih dari 2.500 anjing dan kucing di Jakarta dan Bandung.

Pejaten Shelter. (Dok. Pejaten Shelter)

“Banyak hewan datang dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Ada yang dibuang setelah sakit, ada yang menjadi korban kekerasan, bahkan ada yang sengaja ditelantarkan,” kata dr. Susana.

Bagi dr. Susana, masalah hewan jalanan bukan sekadar soal populasi. Ada persoalan empati dan tanggung jawab manusia yang belum selesai. Ia melihat masih banyak orang menganggap hewan sebagai objek, bukan makhluk hidup yang juga bisa merasakan sakit dan ketakutan.

Karena itu, Pejaten Shelter tidak hanya fokus menyelamatkan hewan dari jalanan. Shelter ini juga memberikan perawatan medis, rehabilitasi, vaksinasi, sterilisasi, hingga perawatan jangka panjang bagi hewan berkebutuhan khusus.

Hewan-hewan yang pulih kemudian akan masuk ke program adopsi dengan proses seleksi ketat agar tidak kembali mengalami penelantaran.

Di shelter tersebut, dr. Susana dan timnya nyaris bekerja tanpa henti. Aktivitas rescue bisa datang kapan saja, mulai dari laporan warga, penyerahan hewan oleh pemilik, hingga kondisi darurat di jalanan. Operasional shelter selama ini banyak berjalan dari dana pribadi dan bantuan donatur.

Baca Juga: Sadis! Pemuda Mabuk Lempar Kucing dari Balkon Setinggi 6 Meter Cuma Disanksi Ringan

“Kami tidak mungkin bekerja sendiri. Kesadaran masyarakat sangat penting. Kadang membantu itu tidak harus besar, bisa dimulai dari tidak menyakiti dan tidak membuang hewan,” ujarnya.

Selain rescue, Pejaten Shelter juga aktif mengedukasi masyarakat tentang pentingnya sterilisasi, larangan kekerasan terhadap hewan, dan tanggung jawab sebagai pemilik satwa. Menurut dr. Susana, edukasi menjadi langkah penting untuk memutus rantai penelantaran yang terus berulang.

Komitmen itu juga diwujudkan melalui kerja sama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat dan Taman Margasatwa Ragunan dalam kegiatan pelepasliaran satwa.

Di tengah keterbatasan, Pejaten Shelter perlahan tumbuh menjadi ruang aman bagi hewan-hewan yang selama ini terabaikan. Bagi dr. Susana, perjuangan itu bukan soal popularitas atau penghargaan, melainkan tentang welas asih.

“Kalau manusia bisa memilih untuk hidup layak, hewan juga seharusnya punya kesempatan yang sama untuk hidup tanpa rasa sakit dan ketakutan,” katanya.

Di balik riuh suara kandang dan aktivitas rescue yang tak pernah berhenti, dr. Susana terus menjaga satu keyakinan sederhana: kepedulian kecil dari banyak orang bisa menyelamatkan lebih banyak kehidupan.

Load More