Lifestyle / Komunitas
Selasa, 19 Mei 2026 | 15:15 WIB
film Pesta Babi (YouTube/Indonesia Baru)
Baca 10 detik
  • Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale menyutradarai dokumenter investigasi mengenai dampak ekspansi industri besar di Papua Selatan.
  • Film ini menyoroti deforestasi 2,5 juta hektar hutan akibat proyek pembangunan yang mengancam keberlangsungan hidup masyarakat adat setempat.
  • Proses produksi selama empat tahun di Papua menghasilkan karya yang memicu diskusi publik luas terkait isu agraria.

Suara.com - Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita merupakan karya sutradara Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale. Film dokumenter ini mengangkat isu perjuangan masyarakat adat di Papua Selatan melawan ekspansi industri besar-besaran.

Berikut 10 fakta film Pesta Babi yang wajib kamu ketahui.

1. Film Dokumenter Investigasi Berdurasi Panjang

Pesta Babi adalah film dokumenter berdurasi sekitar 95 menit (ada yang menyebut 90-96 menit).

Film ini menggabungkan penelitian sejarah, antropologi, investigasi jurnalistik, dan analisis kebijakan.

Proses pembuatannya memakan waktu hingga 4 tahun, dengan pengambilan gambar di lima distrik di Papua Selatan seperti Merauke, Boven Digoel, dan Mappi.

2. Disutradarai Duo Dokumenter Kritis

Dandhy Laksono dikenal sebagai jurnalis dan sutradara dokumenter yang sering mengangkat isu sosial-politik. Ia berkolaborasi dengan Cypri Paju Dale.

Keduanya membawa pengalaman panjang dalam mendokumentasikan isu lingkungan dan hak masyarakat adat.

Baca Juga: Link Nonton Film Pesta Babi Gratis, Tinggal Isi Google Form Ini

Film ini diproduksi oleh kolaborasi WatchDoc, Ekspedisi Indonesia Baru, Pusaka Bentala Rakyat, Jubi.id, Greenpeace Indonesia, dan LBH Papua Merauke.

3. Mengangkat Deforestasi Terbesar di Sejarah Modern

Film Pesta Babi menyoroti rencana konversi 2,5 juta hektar hutan Papua menjadi perkebunan industri sawit, tebu, dan proyek pangan skala besar.

Atas nama “ketahanan pangan” dan “transisi energi”, proyek ini disebut sebagai salah satu deforestasi terbesar dalam sejarah dunia modern.

Cerita dimulai dari kedatangan kapal-kapal yang membawa ratusan alat berat.

4. Judul “Pesta Babi” Punya Makna Simbolis Dalam

Bagi masyarakat adat Papua, pesta babi adalah ritual budaya penting yang melambangkan perdamaian, hubungan sosial, dan perayaan.

Dalam film, judul ini menjadi metafor tajam untuk menggambarkan “pesta” eksploitasi tanah dan sumber daya yang dilakukan atas nama pembangunan, sekaligus mengkritik pola kolonialisme baru di era kontemporer.

5. Fokus pada Perjuangan Masyarakat Adat

Film merekam perlawanan suku Malind, Yei, Awyu, dan Muyu yang mempertahankan tanah leluhur. Mereka memasang salib raksasa dan palang adat sebagai bentuk protes.

Banyak narasumber seperti perempuan Papua yang menjadi buruh sawit mengungkap realitas upah rendah dan hilangnya hutan sebagai sumber pangan tradisional.

6. Tayang Perdana di Luar Negeri

Pra-peluncuran dan gala premiere dilakukan di Papua, Selandia Baru (Auckland, 7 Maret 2026), Australia, dan kemudian di Taman Ismail Marzuki, Jakarta (12 April 2026).

Film ini juga diputar di forum internasional, menarik perhatian global terhadap isu Papua.

7. Kontroversi dan Pembubaran Nobar

Film ini menjadi viral karena sejumlah acara nonton bareng (nobar) di kampus dan komunitas dibubarkan, seperti di Yogyakarta, Mataram, dan Ternate.

Meski pemerintah menyatakan tidak ada larangan resmi, film ini memicu perdebatan sengit tentang kebebasan berekspresi dan narasi seputar Papua. Semakin dilarang, semakin banyak orang penasaran.

8. Melibatkan Risiko bagi Pembuatnya

Proses syuting dilakukan di bawah bayang-bayang militerisasi dan pembatasan akses media di Papua.

Sutradara dan tim mengungkapkan pengalaman berjalan kaki berhari-hari, kehujanan, serta risiko pribadi dalam mengungkap fakta-fakta sensitif ini.

9. Bukan Sekadar Dokumenter Lingkungan

Pesta Babi juga membahas sejarah panjang operasi militer di Papua selama 60 tahun, isu separatisme yang kerap dijadikan alasan, serta dampak sosial-ekonomi terhadap masyarakat adat.

Film ini menantang narasi resmi “pembangunan” dengan menampilkan testimoni langsung dari warga terdampak.

10. Memicu Diskusi Publik yang Luas

Film Pesta Babi bukan hanya tontonan, melainkan alat advokasi. Banyak kalangan muda, mahasiswa, dan aktivis menggelar nobar mandiri disertai diskusi.

Film ini membuka mata tentang konflik agraria, hak ulayat, dan masa depan hutan Papua, sekaligus mempertanyakan model pembangunan nasional yang berkelanjutan.

Film Pesta Babi hadir di tengah polarisasi isu Papua yang kompleks. Bagi sebagian orang, ini adalah teriakan keadilan bagi masyarakat adat.

Bagi yang lain, ini narasi sepihak yang perlu dikaji ulang. Yang jelas, film ini berhasil membawa isu yang selama ini berada di pinggiran ke pusat perbincangan nasional dan internasional.

Jika kamu ingin menonton, saat ini film Pesta Babi tersedia melalui pemutaran komunitas dan diskusi publik, bukan rilis umum di platform streaming.

Load More