- Kementerian Agama menyelenggarakan sidang isbat sejak 1963 untuk menetapkan awal bulan Hijriah berdasarkan metode hisab dan rukyat.
- Perbedaan penentuan Idul Fitri terjadi karena adanya perbedaan kriteria visibilitas hilal antara metode wujudul hilal dan MABIMS.
- Idul Adha cenderung dirayakan secara serentak karena posisi hilal telah memenuhi kriteria seluruh pihak secara astronomis.
Suara.com - Sidang isbat adalah forum resmi Kementerian Agama untuk menetapkan awal bulan Hijriah, khususnya Ramadan, Syawal (Idul Fitri), dan Zulhijah (Idul Adha).
Sejak dilembagakan lewat Keputusan Menteri Agama Nomor 47 Tahun 1963, sidang ini menjadi agenda rutin nasional. Namun, publik sering bertanya: mengapa Idul Fitri kerap berbeda harinya antar ormas, sementara Idul Adha hampir selalu kompak?
Sejarah Singkat Sidang Isbat
Sidang isbat pertama kali digelar sekitar dekade 1950-an, dengan beberapa catatan menyebut tahun 1962 sebagai awal resmi. Tujuannya jelas: menyatukan penetapan hari besar Islam.
Untuk Idul Adha, sidang dilakukan setiap 29 Zulhijah guna memastikan awal bulan dan menentukan 10 Zulhijah sebagai hari raya kurban.
Akar Perbedaan: Hisab vs Rukyat
Perbedaan muncul dari metode penentuan awal bulan:
- Hisab: perhitungan astronomi yang digunakan Muhammadiyah. Dengan metode ini, tanggal bisa ditentukan jauh hari.
- Rukyat: pengamatan langsung hilal setelah matahari terbenam, dipakai NU.
- Pemerintah: menggabungkan keduanya melalui hisab imkanur rukyat, lalu menunggu laporan rukyat di lapangan.
Kriteria MABIMS: Standar Regional
Dikutip dari RRI, negara-negara MABIMS (Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura) menyepakati kriteria visibilitas hilal sejak 2022:
Baca Juga: Sidang Isbat Idul Adha 2026 Hari Ini Jam Berapa? Cek Jadwal dan Link-nya
- Ketinggian minimal 3 derajat.
- Elongasi minimal 6,4 derajat.
Namun, Muhammadiyah tetap memakai kriteria wujudul hilal: cukup jika bulan sudah di atas ufuk, tanpa syarat tambahan.
Mengapa Idul Fitri Lebih Sering Beda
Pada akhir Ramadan, posisi hilal sering berada di kondisi “kritis”: rendah atau elongasi kecil.
- Bagi Muhammadiyah, karena hilal sudah di atas ufuk, 1 Syawal ditetapkan keesokan harinya.
- Bagi NU dan pemerintah, karena hilal belum memenuhi kriteria MABIMS, Ramadan digenapkan 30 hari.
Contoh nyata adalah potensi perbedaan Idul Fitri 2026: Muhammadiyah menetapkan 20 Maret, sementara pemerintah dan NU 21 Maret.
Mengapa Idul Adha Lebih Kompak
Sebaliknya, pada akhir Zulkaidah posisi hilal biasanya sudah tinggi dan jelas memenuhi semua kriteria. Data astronomi menjelang Idul Adha 2026 menunjukkan tinggi hilal 3,29–6,95 derajat dengan elongasi 8,91–10,62 derajat.
- Kriteria wujudul hilal terpenuhi.
- Kriteria imkanur rukyat juga terpenuhi.
Karena semua pihak sepakat, Idul Adha hampir selalu dirayakan serentak.
Jadi, perbedaan Idul Fitri berakar dari kondisi hilal yang sering “abu-abu” dan interpretasi metode yang berbeda. Sementara Idul Adha lebih kompak karena posisi hilal biasanya sudah jelas dan memenuhi standar semua pihak.
Kalau kamu tertarik, kita bisa bahas lebih lanjut soal sejarah sidang isbat, kriteria MABIMS terbaru, atau perbedaan hisab dan rukyat.
Berita Terkait
-
Sidang Isbat Idul Adha 2026 Hari Ini Jam Berapa? Cek Jadwal dan Link-nya
-
Jadwal Puasa Dzulhijjah 2026: Keutamaan, Tata Cara, dan Hal yang Membatalkan
-
Mengenal 'Ambo', Sapi Raksasa 1,15 Ton Asal Tangerang yang Dipilih Prabowo untuk Idul Adha 2026
-
1 Dzulhijjah 2026 Jatuh Tanggal Berapa? Ini Jadwal Sidang Isbat Penentuannya
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu
-
Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama
-
Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan
-
Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?
-
10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas
-
Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja
-
Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?
-
175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya
-
Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?
-
Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi