- Seorang siswa bernama Kayla mengembangkan perban luka ramah lingkungan berbahan dasar SCOBY dari fermentasi teh kombucha.
- Penelitian tersebut dipresentasikan di India dan dipublikasikan pada jurnal ilmiah internasional serta meraih pendanaan riset.
- Keberhasilan inovasi ini didukung oleh kurikulum holistik BINUS SCHOOL Simprug yang memfasilitasi eksplorasi bakat siswa sejak dini.
Suara.com - Bagi sebagian besar orang, kombucha mungkin hanya dikenal sebagai tren minuman teh fermentasi yang menyegarkan dan kaya manfaat bagi kesehatan pencernakan. Namun, di tangan seorang remaja bernama Kayla, lapisan selulosa yang dihasilkan dari proses fermentasi teh tersebut—atau yang biasa disebut SCOBY (Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast)—bisa disulap menjadi sesuatu yang jauh lebih berdampak bagi dunia medis dan lingkungan.
Berawal dari rasa ingin tahu yang besar, Kayla berhasil mengembangkan SCOBY menjadi sebuah perban alternatif ramah lingkungan untuk pembalut luka. Inovasi luar biasa ini ia tuangkan dalam sebuah makalah ilmiah berjudul “Chitosan-Guar Gum Coated SCOBY Bacterial Cellulose As A Potential Material For Sustainable Wound Dressing”.
Menembus Panggung Akademis Internasional
Riset yang dikembangkan Kayla ini bukan sekadar tugas sekolah pengisi waktu luang. Melalui dedikasinya yang mendalam, ia berhasil berdiri di depan para akademisi dunia untuk mempresentasikan hasil temuan tersebut dalam sebuah konferensi internasional yang diselenggarakan oleh The NorthCap University, India.
Tak berhenti di sana, jurnal ilmiah hasil penelitiannya pun sukses menembus publikasi di International Journal of Environmental Sciences. Berkat gagasan ramah lingkungan yang dinilai sangat layak untuk diwujudkan ini, Kayla juga berhasil membawa pulang Global Youth Action Fund Grant senilai USD 2.500.
Menariknya, Kayla tidak tumbuh menjadi remaja yang hanya menghabiskan waktu di dalam laboratorium saja. Di sekolahnya, BINUS SCHOOL Simprug, tempat ia menimba ilmu selama 15 tahun sejak TK, ia dikenal sebagai sosok all-rounder yang aktif. Kayla pernah mengemban tanggung jawab sebagai Presiden OSIS, Deputy Secretary-General Model United Nations, hingga aktif di klub menyanyi dan tarian tradisional.
"Saya lebih banyak fokus pada kompetisi akademis, tetapi di sini saya juga dapat mengeksplor lebih banyak bidang disiplin lain di luar akademis... Saya didorong untuk berkembang secara holistik," ungkap Kayla.
Pentingnya Ruang untuk Mengeksplorasi Passion
Tumbuhnya peneliti muda seperti Kayla tentu tidak lepas dari peran ekosistem di sekitarnya. Kemandirian berpikir dan kemampuan menulis riset independen yang dimiliki Kayla rupanya dipupuk sejak dini melalui penerapan kurikulum International Baccalaureate (IB) secara penuh di sekolahnya.
Baca Juga: Di Tengah Tantangan Lingkungan, Bagaimana Industri AMDK Bertransformasi ke Arah Hijau?
Melalui program yang konsisten, para siswa diberi ruang personal untuk membangun identitas akademis dan mendalami apa yang benar-benar mereka minati. Pendekatan holistik inilah yang pada akhirnya membuat lulusan seperti Kayla memiliki modal serta kesiapan mental yang berbeda saat melangkah ke jenjang yang lebih tinggi.
Isaac Koh, Kepala Sekolah BINUS SCHOOL Simprug, turut menyampaikan bahwa lingkungan belajar yang tepat menjadi kunci utama dalam memupuk potensi luar biasa setiap anak. "Kami tidak hanya mempersiapkan mereka untuk diterima di universitas terbaik, kami mempersiapkan mereka untuk berkembang di sana," jelasnya.
Kisah Kayla memberikan kita sudut pandang baru tentang generasi muda hari ini di tahun 2026: bahwa dengan ruang eksplorasi yang tepat, sebuah tren gaya hidup sehat yang sederhana di rumah pun bisa diubah menjadi inovasi sains yang diakui oleh dunia global.
Berita Terkait
-
Gelas Reusable Tak Selalu Lebih Ramah Lingkungan, Ini Temuan Peneliti
-
Kurangi Limbah Deterjen, Binatu di Tangsel Gunakan Ekoenzim Buatan Sendiri
-
SIG Gandeng BRIN Kembangkan Semen Hijau, Bidik Pasar Material Ramah Lingkungan
-
Tren Less Waste di Media Sosial: Konten Estetik vs Aksi Nyata, Menang Siapa?
-
Eco-Friendly Mahal: Tantangan Anak Muda yang Ingin Peduli Lingkungan
Terpopuler
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
- 6 Sepatu Jalan Terbaik yang Nyaman Dipakai Lari dari Brand Luar dan Lokal
- Di Mana Tempat Beli Sepatu Asics Ori di Indonesia? Ini 5 Rekomendasi Toko Tepercaya
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Dua Mahasiswa Indonesia Bawa Isu Kesehatan Mental Lewat Sepak Bola ke Markas PBB
-
Daftar Tim Super League Paling Banyak Rekrut Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia
-
Pengacara Don Ritto: Emas 74 Kg di Rumah Febrie Adriansyah Milik Pengusaha Bidang Dakwah
-
Tolak Laporan 'Amplop' Bupati Kuansing, KPK Segera Panggil Menhut Raja Juli
-
Rilis Forever July, Sunmi Bandingkan Sensasi Jatuh Cinta bak Hujan Deras
-
Bukan Destinasi Wisata! Pesona Mematikan Gunung Anak Krakatau yang Terlarang Bagi Wisatawan
-
Lowongan Kerja BRI Terbaru Juli 2026 untuk Lulusan D3 dan S1, Ini Link Daftarnya
-
4 Rekomendasi Pelembap Wajah yang Tidak Lengket, Kulit Kenyal dan Terhidrasi
-
Mitsubishi New Xforce Resmi Meluncur, Pakai Hybrid Generasi Terbaru
-
Madura United Datangkan Bek Tengah Vava Mario Yagalo, Siap Perkuat Lini Belakang