- Survei Populix Januari 2026 mencatat 80 persen responden Indonesia memilih emas sebagai aset aman di tengah ketidakpastian ekonomi.
- Public Gold Indonesia merayakan satu dekade dengan fokus utama memberikan edukasi investasi emas bagi perencanaan keuangan jangka panjang.
- Perusahaan menargetkan sepuluh juta pelanggan pada 2030 serta telah mendapatkan sertifikasi SNI untuk menjamin kualitas produk logam mulia.
Suara.com - Ketika ketidakpastian ekonomi global terus membayangi, mulai dari tensi geopolitik, fluktuasi harga minyak, hingga arah suku bunga yang sulit diprediksi, masyarakat Indonesia tampaknya semakin melirik emas sebagai tempat berlindung yang dianggap aman.
Temuan Survei Populix edisi Januari 2026 menunjukkan bahwa 80 persen responden memilih emas sebagai aset safe haven, menjadikannya instrumen investasi yang paling dipercaya di tengah kondisi yang penuh ketidakpastian. Angka ini menunjukkan bahwa emas masih memiliki daya tarik kuat sebagai penyimpan nilai kekayaan dibandingkan berbagai instrumen lainnya.
Namun, tingginya kepercayaan terhadap emas belum sepenuhnya diikuti oleh pemahaman yang memadai mengenai fungsi emas dalam perencanaan keuangan jangka panjang.
Banyak masyarakat yang masih memandang emas sebatas perhiasan atau instrumen simpanan tradisional. Padahal, secara historis emas dikenal sebagai aset yang relatif mampu menjaga nilai kekayaan saat terjadi inflasi maupun pelemahan mata uang.
Melihat kondisi tersebut, Public Gold Indonesia menempatkan edukasi sebagai salah satu fokus utama selama satu dekade kehadirannya di Tanah Air.
Founder dan Executive Chairman Public Gold Group, Dato' Seri Louis Ng, mengatakan perusahaan tidak hanya berperan sebagai penyedia logam mulia, tetapi juga berupaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya kepemilikan emas fisik sebagai bagian dari strategi keuangan jangka panjang.
“Dengan visi menyediakan akses mudah, aman, dan terjangkau terhadap kepemilikan emas fisik berkualitas tinggi, Public Gold Indonesia ingin pula memberikan makna bagi masyarakat luas tentang pentingnya emas sebagai strategi investasi jangka panjang dan safe-haven asset,” kata Louis Ng dalam perayaan satu dekade Public Gold Indonesia di Jakarta, Sabtu (6/6/2026).
Bukan Sekadar Beli Emas
Jika sebelumnya emas kerap dianggap sebagai instrumen investasi yang identik dengan generasi orang tua, kini persepsi tersebut mulai berubah. Generasi Z dan milenial semakin banyak yang menjadikan emas sebagai salah satu pilihan untuk melindungi aset di tengah ketidakpastian ekonomi.
Baca Juga: Tren Emas Terus Memburuk Sejak Pandemi: Ada Apa dengan Pasar China?
Head of Operations Public Gold Indonesia, Febrina Amalia, menilai perubahan pola pikir ini menjadi sinyal positif bagi perkembangan literasi keuangan di Indonesia.
Menurutnya, semakin banyak masyarakat yang mulai memahami bahwa investasi tidak selalu identik dengan mencari keuntungan tinggi dalam waktu singkat, tetapi juga tentang menjaga nilai aset dalam jangka panjang.
Selama 10 tahun beroperasi di Indonesia, Public Gold mencatat telah melayani sekitar 50 ribu pelanggan dan didukung ribuan Public Gold Business Owner (PGBO) yang turut menyebarkan edukasi mengenai emas melalui berbagai kegiatan di sejumlah daerah.
Perusahaan bahkan menargetkan dapat menjangkau 10 juta pelanggan pada 2030 sebagai bagian dari upaya memperluas ekosistem edukasi emas di Indonesia.
Target tersebut didukung oleh tren meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi emas, terutama saat kondisi ekonomi global belum menunjukkan stabilitas penuh.
Selain memperluas literasi, Public Gold juga baru memperoleh sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk produknya. Sertifikasi ini menjadi salah satu bentuk pengakuan terhadap standar kualitas produk yang ditawarkan kepada konsumen.
Bagi Public Gold, edukasi tetap menjadi fondasi utama. Sebab, kepemilikan emas dinilai tidak hanya berkaitan dengan investasi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan finansial keluarga yang dapat diwariskan lintas generasi.
Di tengah semakin banyaknya pilihan instrumen investasi, tren yang ditunjukkan survei Populix mengingatkan bahwa masyarakat masih menaruh kepercayaan besar pada emas. Tantangan berikutnya adalah memastikan kepercayaan tersebut diiringi pemahaman yang cukup, sehingga keputusan investasi yang diambil tidak hanya berdasarkan tren, tetapi juga pengetahuan yang matang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Media Italia Bongkar Ada Kontrak Lebih dari Rp25 T di Balik Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
Terkini
-
Pertamina Kilang Plaju Resmi Salurkan Biosolar B50, Tambah Pasokan Energi dari Sumatera Selatan
-
Sidang Korupsi Perkimtan Palembang Ungkap Rp440 Juta Masuk ke Eks Kadis, Lalu Mengalir ke Mana?
-
Cak Imin Minta Prabowo Revisi 108 Undang-Undang demi Kedaulatan Ekonomi
-
PKB Gaungkan Prabowonomics di Harlah ke-28, Cak Imin: Ini Bukan Akal-akalan
-
11 Warna Bedak yang Cocok untuk Kulit Hitam Manis, Dijamin Nampak Menyatu dan Flawless!
-
Cak Imin: Indonesia Kehilangan Arah Ekonomi Selama 25 Tahun
-
Peneliti Politik Hukum Beberkan Dugaan Anatomi Korupsi Eks Jampidsus
-
Di Hadapan Prabowo, Ijtima Ulama Sampaikan 3 Rekomendasi Strategis untuk Bangsa
-
Di Depan Prabowo, PKB Ngaku Siap Jadi Bagian Utama Wujudkan Anggaran Pro Rakyat
-
Kapolri Bertemu Direktur FBI, Sepakati Penguatan Investigasi dan Pertukaran Intelijen