- Pasar emas China mengalami kelesuan signifikan akibat penyusutan minat investor terhadap aset logam mulia dalam beberapa minggu terakhir.
- Data per 3 Juni 2026 menunjukkan arus modal keluar ETF emas China mencapai USD 1,48 miliar dan penurunan transaksi fisik.
- Saham perusahaan tambang emas di bursa Hong Kong mengalami kejatuhan massal akibat perubahan psikologi investor di pasar global.
Suara.com - Pasar emas China, yang selama ini menjadi salah satu pilar utama penopang reli harga emas global bersama dengan aksi borong bank sentral, menunjukkan tanda-tanda kelesuan yang nyata dalam beberapa minggu terakhir.
Tingginya ketidakpastian pasar membuat minat investor di negara tersebut terhadap logam mulia mulai menyusut.
Laporan dari Gelonghui Finance mengungkapkan adanya tren penurunan aset yang dikelola oleh reksa dana bursa emas. Berdasarkan data per 3/6/2026, sebanyak 14 produk ETF (Exchange-Traded Fund) emas di China mencatatkan akumulasi arus modal keluar (net outflow) yang cukup besar, yakni menembus angka lebih dari RMB 10 idiom atau setara sekitar USD 1,48 miliar dalam kurun waktu satu bulan terakhir.
Fenomena ini menandai adanya pergeseran psikologis di kalangan pemodal. Strategi investasi yang sebelumnya populer seperti membeli emas saat harganya sedang terkoreksi (buying on dips), kini mulai ditinggalkan akibat kondisi pasar global yang dinilai terlalu fluktuatif.
Sinyal kelesuan ini tidak hanya terjadi pada instrumen reksa dana, tetapi juga merembet ke sektor pasar modal. Saham perusahaan pertambangan dan produsen emas yang melantai di bursa efek Hong Kong secara serempak mengalami kejatuhan massal yang dinilai cukup tidak biasa oleh para analis.
Beberapa emiten besar yang mencatatkan penurunan signifikan antara lain:
- China National Gold International Resources & Jihai Gold: Merosot sebesar 3,6 persen.
- Zijin Mining: Anjlok sebesar 3,5 persen.
- Shandong Gold & Zhaojin Mining: Melemah hingga mendekati 3 persen.
- Zijin Gold International: Turun sebanyak 2,4 persen.
Tren pelemahan ini juga menyeret emiten emas lainnya ke zona merah, termasuk Chifeng Gold, Lingbao Gold, China Silver Group, Zhufeng Gold, serta Tongguan Gold.
Dilansir dari Kitco, hal ini berkebalikan dengan tren sangat masif pada awal tahun, saat harga emas internasional dan domestik berkali-kali memecahkan rekor tertinggi sepanjang sejarah hampir setiap hari.
Data operasional terbaru yang dirilis oleh Shanghai Gold Exchange (SGE) memperlihatkan bahwa total penarikan emas fisik sepanjang bulan Mei hanya menyentuh angka 63,5 ton.
Baca Juga: Kemendag Ungkap Penyebab Koreksi Harga Emas pada Awal Juni 2026
Angka volume transaksi ini merupakan yang terendah sejak Februari 2020, saat China pertama kali dihantam oleh gelombang awal pandemi COVID-19. Jika dibandingkan dengan perolehan pada Maret tahun ini, aktivitas penarikan emas fisik tersebut telah merosot hingga separuhnya.
Meskipun terjadi penurunan secara jangka pendek, para pelaku industri dan pengamat pasar yang diwawancarai oleh Gelonghui Finance tetap optimistis.
Mereka menilai bahwa fluktuasi harga saat ini merupakan hal yang wajar. Alasan inti yang mendasari nilai alokasi strategis emas sebagai aset pelindung kekayaan dinilai masih sangat kokoh untuk horizon investasi jangka menengah hingga jangka panjang.
Berita Terkait
-
Emas Melesat, Perak Menggila! Ini Pemicu Lonjakan Harga Logam Mulia Hari Ini
-
Harga Emas Antam Lagi Murah Dibanderol Rp 2,75 Juta per Gram
-
Rupiah Nyaris Jebol ke Rp18.000! Himbara Ramai-ramai Tunjuk Thomas Djiwandono, Ada Apa?
-
Fatal Akibat Kurang Tidur: Belajar dari Kisah Influencer yang Meninggal Saat Live Streaming
-
Dana IPO Mulai Terserap, Merdeka Gold Pacu Produksi Tambang Emas Pani
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper
-
Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi
-
Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget
-
Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan
-
Langkah Kecil yang Diam-Diam Bisa Membuat Perempuan Lebih Percaya Diri
-
JPMorgan Optimistis Kepada BBRI, Saham Dinilai Masih Murah
-
Fakta Lain Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi: Dua Lembaga Negara Italia Boikot
-
BBRI Direkomendasikan JPMorgan, Saham Berpotensi Reli Jangka Pendek
-
Ketika Sensasi Berburu Hadiah Instan Jadi Daya Tarik Baru Konsumen
-
Sasar Hotel Hingga Kosan, Pemkab Bogor Wajibkan Pemilik Laporkan Indikasi Penyimpangan Seksual