Suara.com - Rumah-rumah tradisional yang dahulu menjadi identitas berbagai daerah di Indonesia kini semakin sulit ditemukan. Di banyak wilayah, bangunan yang lahir dari budaya, kondisi alam, hingga kebiasaan masyarakat setempat mulai tergantikan oleh rumah-rumah modern dengan desain yang seragam. Perubahan ini dinilai membuat identitas arsitektur lokal perlahan memudar.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Komunitas Arsitektur Hijau, organisasi yang dibentuk mahasiswa arsitektur Universitas Katolik Parahyangan dan telah berdiri selama hampir empat dekade. Komunitas ini berfokus pada pelestarian arsitektur vernakular Indonesia melalui kegiatan dokumentasi dan publikasi.
Ketua Arsitektur Hijau Angkatan ke-40, Avril Silvio Brasdia, mengatakan arsitektur vernakular memiliki nilai yang tidak dimiliki bangunan modern karena lahir dari karakter dan konteks suatu daerah.
“Bangunan atau ruang yang tercipta dari arsitektur vernakular tentunya bisa memberikan nilai lokal yang dimasukkan ke dalam desainnya, sehingga ketika nanti kita melihat desain-desain vernakular kita jadi bisa mengenali. Misalnya, oh desain ini dibangun di Pulau Kalimantan,” ujar Avril.
Menurutnya, perkembangan arsitektur modern membuat banyak masyarakat memilih bangunan yang dinilai lebih praktis dan mudah dibangun dengan material industri. Akibatnya, ciri khas lokal yang selama ini membentuk identitas suatu wilayah mulai berkurang karena bentuk bangunan menjadi semakin seragam.
Perubahan tersebut, kata Avril, terlihat dalam salah satu ekspedisi yang dilakukan angkatan sebelumnya di Desa Oesosole, Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Saat melakukan pengamatan, tim menemukan sebagian besar rumah di desa tersebut telah menggunakan material modern. Hanya tersisa satu rumah yang masih mempertahankan bentuk vernakular secara utuh.
Meski begitu, masyarakat setempat disebut masih mempertahankan sistem pengukuran ruang tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.
Bagi Arsitektur Hijau, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pendokumentasian sebelum jejak arsitektur lokal benar-benar hilang. Dokumentasi tidak hanya dilakukan untuk menyimpan data, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat mengenai kekayaan arsitektur Nusantara.
“Tujuan utama kita itu adalah untuk menjadi wadah pelestarian arsitektur vernakular, yang dimana kita itu mewujudkannya melalui pendokumentasian dan juga pempublikasian arsitektur vernakular. Itu adalah fokus kita yang dilandasi dengan semangat yaitu demi ilmu dan masyarakat,” jelas Avril.
Baca Juga: Mimpi Mungil Si Tukang Kliping
Hasil dokumentasi kemudian diterjemahkan dalam berbagai bentuk publikasi dan pameran agar pengetahuan tersebut dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.
“Setelah kita mendapatkan ilmu, kita juga mempunyai kewajiban untuk menerjemahkan dan memamerkan agar dapat mengedukasi masyarakat akan pengetahuan arsitektur, terutama arsitektur Nusantara,” lanjutnya.
Melalui upaya tersebut, Arsitektur Hijau berharap nilai budaya yang terkandung dalam arsitektur vernakular tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Sebab, pelestarian arsitektur vernakular tidak hanya soal menjaga keberadaan bangunan tradisional, tetapi juga mempertahankan identitas budaya yang melekat di dalamnya.
Avril pun mengajak masyarakat untuk lebih memperhatikan nilai lokal yang ada di sekitar.
“Peka-pekalah terhadap budaya di sekitar kita, nilai lokal di sekitar kita, karena sebenarnya budaya itu sendiri bisa menjadi identitas yang memberikan kita keunikan di tengah kemodernisasian ini,” tutupnya.
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Melayat ke Yogya, Susi Pudjiastuti Kenang Sosok Nasirun
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Kado Kemerdekaan: Pemutihan Pajak Kendaraan di Agustus 2026, Buruh dan Ojol Dapat Diskon Khusus
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Nadiem Makarim Tantang Audit BPKP di Sidang Banding, Minta Hakim Periksa Ulang Bukti
-
Prabowo dan PM Thailand Sepakati Kemitraan Strategis Baru, Fokus Pangan hingga Energi
-
Jangan Korbankan Nyawa Demi Target! BGN Didesak Usut Tuntas Keracunan Massal MBG di Semarang
-
Trauma Kolektif: Pagar Tinggi Mal Ingatkan Warga pada Kerusuhan Agustus
-
Kasus Bayi Dijual Rp20 Juta Belum Tuntas, Polisi Didesak Usut Sosok Pemberi Uang
-
Dipukul Balok Kayu, Wanita di Palembang Gagalkan Aksi Begal hingga Pelaku Ditangkap
-
Dua Kata Tijjani Reijnders Usai Timnas Indonesia Dibantai Vietnam 0-3
-
Ingin Rumah Terasa Lebih Elegan? Tren Interior Kini Mengandalkan Permainan Cahaya dari Keramik
-
Haykal Ungkap Hal yang Bikin Tak Nyaman di Palembang, Pengemis hingga Sungai Jadi Sorotan
-
Kreativitas Generasi Muda Indonesia Berbuah Manis, Ribuan Pelajar Sukses Bangun Bisnis