- Tamu negara mengunjungi Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral di Jakarta sebagai simbol diplomasi kerukunan beragama di Indonesia.
- Kedua bangunan bersejarah ini merepresentasikan visi Presiden Soekarno tentang kehidupan beragama yang harmonis dan penuh toleransi.
- Kunjungan tersebut menegaskan posisi Indonesia di mata dunia sebagai negara moderat yang menjunjung tinggi semangat persatuan.
Suara.com - Indonesia dikenal sebagai negara dengan keberagaman yang tinggi, baik suku, budaya, maupun agama. Salah satu wujud nyata dari komitmen toleransi dan kerukunan beragama di Tanah Air adalah kunjungan rutin setiap tamu negara atau pemimpin dunia ke Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta.
Agenda ini bukan sekadar wisata religi, melainkan simbol diplomasi yang kuat untuk memperkenalkan model kehidupan beragama yang harmonis di Indonesia.
Menurut penjelasan dari Kementerian Agama RI, ada dua alasan utama mengapa lokasi ini selalu menjadi agenda wajib.
Pertama, kawasan tersebut merupakan simbol berakhirnya kolonialisme. Masjid Istiqlal dibangun sebagai bentuk pernyataan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa setelah lepas dari penjajahan. Letaknya yang strategis di pusat ibu kota, dekat Monumen Nasional (Monas), semakin memperkuat makna historis ini.
Kedua, dan yang paling penting, Presiden pertama RI Soekarno memiliki visi besar untuk menghadirkan simbol kehidupan beragama yang harmonis. Beliau ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia, sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, mampu hidup berdampingan secara damai dengan pemeluk agama lain.
Masjid Istiqlal yang megah berdiri berdekatan dengan Gereja Katedral, menciptakan pemandangan unik yang menjadi bukti nyata toleransi. Kedua bangunan suci ini tidak hanya bersebelahan secara fisik, tetapi juga saling menghormati dan mendukung.
Keberadaan Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral semakin memperkuat pesan ini. Terowongan sepanjang sekitar 34 meter ini menjadi jalur penghubung langsung antara umat Muslim dan umat Katolik, memudahkan silaturahmi antarumat beragama.
Banyak tamu negara, termasuk Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier dan bahkan Paus Fransiskus, merasa terkesan dengan konsep ini. Mereka melihat langsung bagaimana Indonesia mempraktikkan moderasi beragama dan kerukunan yang inklusif.
Kunjungan tamu negara ke kedua tempat ibadah ini memiliki makna mendalam. Pertama, sebagai bentuk penghargaan terhadap sejarah dan visi founding fathers Indonesia. Kedua, sebagai ajang promosi internasional bahwa Indonesia adalah negara yang toleran dan moderat.
Baca Juga: Si Loreng dan Wirabumi: Sapi Kurban Jumbo Prabowo-Gibran yang Curi Perhatian di Istiqlal
Di tengah berbagai konflik berbasis agama yang terjadi di berbagai belahan dunia, model Istiqlal-Katedral menjadi contoh sukses bagaimana perbedaan justru dapat menjadi kekuatan persatuan.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa di antara denting lonceng gereja dan suara bedug masjid yang bergantian, tersimpan pesan damai yang universal. Kunjungan ini juga memperkuat hubungan bilateral Indonesia dengan negara-negara sahabat, terutama dalam isu kebudayaan, toleransi, dan kerjasama antaragama.
Bagi Indonesia sendiri, agenda ini menjadi pengingat bagi seluruh rakyat untuk terus menjaga kerukunan.
Masjid Istiqlal bukan hanya masjid terbesar di Asia Tenggara yang mampu menampung ratusan ribu jemaah, tetapi juga ikon kebanggaan nasional yang mewakili semangat Bhinneka Tunggal Ika. Sementara Gereja Katedral menjadi saksi sejarah perjuangan umat Katolik di Indonesia.
Secara keseluruhan, setiap tamu negara diajak ke Masjid Istiqlal dan Katedral karena keduanya merepresentasikan esensi Indonesia: merdeka, beragam, dan bersatu dalam perbedaan. Kunjungan ini bukan hanya protokol diplomasi, melainkan pernyataan tegas bahwa toleransi adalah fondasi utama pembangunan bangsa.
Dengan demikian, kunjungan ke Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral tetap akan menjadi agenda penting bagi setiap tamu negara yang datang ke Indonesia. Ini adalah warisan Soekarno yang terus hidup, sekaligus bukti bahwa kerukunan beragama bukan utopia, melainkan realitas yang dapat dirasakan dan dilihat langsung di Jakarta.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Soal TNI-Komcad Dikerahkan di Demo Mahasiswa, Ini Reaksi Komisi I DPR
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
- Motor Mirip Harley-Davidson Harga Rasa Matic: Mending Morbidelli C252V atau QJ Motor SRV250?
Pilihan
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari APBD Satu Kabupaten di NTB
Terkini
-
Estetika Regeneratif Jadi Tren Baru, Fokus pada Regenerasi Alami untuk Kulit yang Lebih Berkualitas
-
Di Tengah Arsitektur Modern, Komunitas Ini Berupaya Menjaga Rumah Vernakular
-
4 Sepatu Lari Lokal untuk Daily Trainer, Empuk dan Anti Cedera Buat Latihan Setiap Hari
-
5 Tips Feng Shui Teras Rumah agar Mendatangkan Hoki dan Energi Positif
-
4 Sepatu Asics Paling Nyaman untuk Jalan Jauh Menurut Pengguna, Kaki Bebas Pegal
-
3 Produk Viva Cosmetics yang Dijual Murah untuk Cerahkan Wajah dan Pudarkan Flek Hitam
-
Apa Saja Amalan Bulan Muharram? Ini Anjuran yang Sesuai Sunah
-
5 Cushion di Bawah Rp100 Ribu yang Awet dan Minim Oksidasi, Cocok untuk Makeup Harian
-
3 Lip Balm yang Bikin Bibir Gelap Tampak Lebih Pink, Harga Mulai Rp31 Ribuan
-
Bulan Suro Benarkah Keramat? Simak Penjelasannya dalam Islam