Suara.com - Sampah plastik masih menjadi salah satu masalah lingkungan terbesar di Indonesia. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2025, sampah plastik menempati urutan kedua dalam komposisi sampah nasional.
Penumpukan sampah plastik tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga dapat menghasilkan mikroplastik yang masuk ke rantai makanan manusia dan berpotensi berdampak pada kesehatan.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, berbagai inovasi terus dikembangkan, salah satunya adalah bioplastik. Dilansir dari i3L University (24/6/2026), bioplastik merupakan jenis plastik yang berasal dari biomassa terbarukan. Namun, apakah bioplastik benar-benar dapat menjadi solusi untuk menggantikan plastik konvensional?
Penelitian AI untuk Mengukur Kecepatan Penguraian Bioplastik
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, sekelompok peneliti dari Agricultural University of Athens (AUA) melakukan penelitian berjudul “A Data-Driven Framework for Predicting PHBV Biodegradation-Induced Weight Loss Based on Laboratory and Real-Environment Condition Tests”. Penelitian ini berfokus pada kelompok bioplastik yang disebut polyhydroxyalkanoates (PHA).
PHA merupakan jenis plastik yang diproduksi melalui proses fermentasi mikroba dan dirancang agar dapat terurai secara alami. Karena karakteristik tersebut, material ini dianggap sebagai salah satu kandidat utama pengganti plastik sekali pakai.
Dalam penelitian ini, para ilmuwan mengumpulkan data dari berbagai pengujian laboratorium serta kondisi lingkungan nyata. Data tersebut kemudian digunakan untuk melatih model Artificial Intelegence (AI) agar mampu memprediksi tingkat kehilangan massa atau kerusakan material selama proses biodegradasi.
Pendekatan ini dinilai dapat mempercepat pengembangan bioplastik yang lebih efektif dan aman. Pasalnya, pengujian biodegradasi secara konvensional sering kali membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk memperoleh hasil yang akurat.
Bioplastik Berpotensi Menjadi Alternatif Plastik Konvensional
Baca Juga: Pemerintah Bebaskan Bea Masuk Impor LPG dan Bahan Baku Plastik Jadi 0%
Hasil penelitian menunjukkan bahwa model AI yang dikembangkan mampu memprediksi proses biodegradasi dengan tingkat akurasi yang tinggi. Para peneliti menemukan bahwa lama paparan di lingkungan, jenis lingkungan tempat material berada, serta komposisi bahan bioplastik menjadi faktor utama yang memengaruhi kecepatan penguraian.
Selain itu, suhu yang lebih tinggi cenderung mempercepat proses degradasi, sementara karakteristik tertentu pada material dapat memperlambat proses tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa tidak semua bioplastik akan terurai dengan kecepatan yang sama. Kondisi lingkungan tempat bioplastik dibuang turut menentukan seberapa cepat material tersebut dapat terdegradasi.
Dengan demikian, label “bioplastik” tidak serta-merta berarti sebuah produk akan langsung hancur dalam waktu singkat setelah dibuang ke alam. Meski belum dapat dianggap sebagai solusi tunggal untuk mengatasi krisis sampah plastik, penelitian ini menunjukkan bahwa bioplastik memiliki potensi besar sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan plastik konvensional.
Pemanfaatan AI juga membuka peluang bagi peneliti dan industri untuk mengembangkan material yang lebih mudah terurai tanpa harus menunggu proses pengujian yang panjang.
Namun, upaya mengurangi pencemaran plastik tetap memerlukan langkah lain, seperti pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, peningkatan sistem pengelolaan sampah, serta perubahan perilaku konsumsi masyarakat. Dengan kombinasi inovasi teknologi dan perubahan gaya hidup, peluang untuk mengurangi dampak sampah plastik terhadap lingkungan akan semakin besar.
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- 7 Lukisan Pembawa Hoki Menurut Feng Shui untuk Dipajang di Ruang Tamu
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 12 Sepeda Gunung United Detroit Lengkap dengan Harga dan Spesifikasinya
- 5 Rekomendasi Rice Cooker Digital, Nasi Tetap Pulen hingga 48 Jam
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Jatuh dari Tongkang di Sungai Baung OKI, Dua Korban Ditemukan Meninggal
-
Karhutla Dekati Runway Bandara Atung Bungsu, Penerbangan Pagar Alam Masih Normal?
-
Baru 2 Hari Direhab, Anak Mantan DPRD Muratara Kabur Usai Dobrak Pintu Yayasan
-
Program Cetak Sawah Berhadapan dengan Karhutla, Api Membakar Lahan di Muara Enim
-
Kebakaran Bromo Meluas hingga 520 Hektare, Destinasi Wisata Probolinggo Disebut Masih Aman
-
Pernah Jadi Anak Buah Nadiem, Pakar Minta Kejagung Ganti Jaksa Chatarina di Kasus Eks Jampidsus
-
Puluhan Kios di Bawah Jembatan Babat Terbakar, Polisi Selidiki Dugaan Pembakaran Sampah
-
30 Ribu Kopdes Merah Putih Dikebut Sebelum 17 Agustus, Siapa yang Akan Mengelola?
-
Bangga! Prestasi Apik Ditorehkan Kevin Diks di Awal Musim Bundesliga 2026/2027
-
Prabowo Puji Sepatu Inovasi BRIN Berbahan Limbah Sawit, Harganya Cuma 60 Ribuan!