- Berawal dari daun-daun gugur di Hutan Ranjuri, Anto mengembangkan Batik Valiri dengan pewarna alami yang mengangkat kekayaan alam, budaya, dan sejarah Kabupaten Sigi.
-
Masyarakat adat Desa Beka menjaga Hutan Ranjuri melalui aturan adat, membuktikan bahwa hutan yang dilestarikan dapat menjadi benteng ekologis sekaligus sumber penghidupan.
-
Didukung program inkubasi Gampiri Interaksi, Batik Valiri menjadi contoh ekonomi restoratif yang sejalan dengan visi Kabupaten Lestari: menjaga hutan sambil meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Suara.com - Afrianto membungkuk, memungut satu per satu daun yang telah gugur di lantai Hutan Ranjuri, Desa Beka, Kabupaten Sigi.
Ia tak membawa kapak atau gergaji. Baginya, hutan bukan tempat mengambil kayu, melainkan ruang menemukan warna.
Di tangan Anto, begitu ia akrab disapa, daun-daun itu berubah menjadi pewarna alami yang kemudian menghiasi lembaran Batik Valiri.
"Selama ini batik identik dengan motif Jawa. Padahal di Sigi, kita punya kekayaan alam, budaya, dan sejarah yang sangat kuat. Dari Hutan Ranjuri saja, saya melihat ada banyak hal yang bisa diangkat, termasuk pewarna alami dari tanaman yang tumbuh di sana," ujar Anto.
Hutan Ranjuri yang berada di samping tempat produksinya bukan sekadar sumber inspirasi. Bagi masyarakat adat Desa Beka, kawasan seluas sekitar sembilan hektare itu adalah ruang sakral sekaligus sumber kehidupan yang dijaga secara turun-temurun.
Di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pembangunan lestari tidak selalu lahir dari proyek besar. Di hutan kecil inilah alam, adat, budaya, dan ekonomi bertemu dalam satu ekosistem yang saling menghidupi.
Saat banjir bandang melanda Sigi, Hutan Ranjuri menjadi benteng alami yang membantu meredam dampaknya. Ketika kemarau datang, mata air dari kawasan itu memenuhi kebutuhan air bersih warga.
Meski berstatus hutan produktif, pemanfaatannya diatur melalui hukum adat. Tak ada pohon yang ditebang untuk kepentingan Batik Valiri. Masyarakat hanya memanfaatkan daun-daun yang telah gugur melalui kesepakatan bersama para tetua adat.
Cara sederhana itu menjadi fondasi sebuah gagasan: hutan yang dijaga justru mampu menghidupi masyarakat.
Baca Juga: Film Tanah Runtuh Berlatar Konflik Poso, Kamera Bergerak Liar Jadi Tantangan Pemain
Mengangkat Identitas Sigi
Sebelum mendirikan Batik Valiri pada 2019, Anto bekerja bertahun-tahun sebagai perajin batik di Kota Palu. Pengalaman itu membuatnya bertanya, mengapa kekayaan alam dan budaya Sigi belum banyak hadir dalam motif batik.
Ia pun memilih pulang dan menjadikan Sigi sebagai cerita utama di setiap lembar kain.
Motif-motif Batik Valiri terinspirasi dari identitas lokal, mulai dari Pohon Rau di Hutan Ranjuri, daun kelor, senjata tradisional guma, jejak megalitik, hingga taiganja yang memiliki makna penting dalam tradisi Kaili.
Tak hanya motifnya, proses produksinya pun mulai beralih menggunakan pewarna alami dari tumbuhan sekitar. Peralihan itu membutuhkan proses yang jauh lebih panjang.
Sekitar sepuluh kilogram daun kering hanya cukup mewarnai lima lembar kain. Daun direbus selama empat jam, lalu kain dicelup berulang hingga sekitar dua puluh kali agar warna meresap sempurna.
Berita Terkait
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu
-
Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama
-
Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan
-
Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?
-
10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas
-
Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja
-
Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?
-
175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya
-
Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?
-
Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi