- Berawal dari daun-daun gugur di Hutan Ranjuri, Anto mengembangkan Batik Valiri dengan pewarna alami yang mengangkat kekayaan alam, budaya, dan sejarah Kabupaten Sigi.
-
Masyarakat adat Desa Beka menjaga Hutan Ranjuri melalui aturan adat, membuktikan bahwa hutan yang dilestarikan dapat menjadi benteng ekologis sekaligus sumber penghidupan.
-
Didukung program inkubasi Gampiri Interaksi, Batik Valiri menjadi contoh ekonomi restoratif yang sejalan dengan visi Kabupaten Lestari: menjaga hutan sambil meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Kalau pewarna sintetis cukup satu kali celup, warna langsung keluar. Tapi pewarna alami butuh kesabaran. Itu yang membuat nilainya berbeda," kata Anto.
Bagi Anto, kesabaran itu adalah bagian dari penghormatan terhadap alam yang menjadi sumber kehidupan usahanya.
Hutan yang Dijaga, Ekonomi yang Tumbuh
Praktik Batik Valiri tumbuh dari cara masyarakat adat Desa Beka memperlakukan hutannya.
Pemanfaatan hasil hutan dilakukan tanpa merusak ekosistem. Seluruh proses dikelola melalui musyawarah adat sehingga fungsi hutan sebagai penyimpan air, pelindung dari bencana, sekaligus ruang budaya tetap terjaga.
Di saat yang sama, hutan juga menciptakan nilai ekonomi baru melalui batik yang lahir dari identitas lokal. Model seperti inilah yang dikenal sebagai ekonomi restoratif: membangun kesejahteraan masyarakat sekaligus memulihkan dan menjaga alam.
Menguatkan Usaha Berbasis Kelestarian
Transformasi Batik Valiri semakin kuat melalui program inkubasi Gampiri Interaksi.
Selama delapan bulan, Batik Valiri mendapat pendampingan untuk memperkuat tata kelola usaha, menyusun standar operasional, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, hingga membuka akses pasar dan permodalan.
Baca Juga: Film Tanah Runtuh Berlatar Konflik Poso, Kamera Bergerak Liar Jadi Tantangan Pemain
"Batik Valiri sudah kuat secara sosial dan budaya, tapi aspek lingkungannya perlu diperkuat. Lewat workshop dan kolaborasi, kami mendorong transisi ke pewarna alami tanpa merusak ekosistem," ujar Nedya Sinintha Maulaning, perwakilan Gampiri Interaksi.
Melalui pelatihan tersebut, para perajin belajar teknik ekstraksi warna, penggunaan bahan pengunci alami, serta pentingnya membudidayakan tanaman pewarna.
Komitmen itu juga diwujudkan melalui penanaman kembali pohon mangga, ketapang, dan jati di kawasan Ranjuri. Pada 2023, sekitar 50 pohon diadopsi sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan sumber bahan baku.
Fondasi Kabupaten Lestari
Sekitar 70 persen wilayah Kabupaten Sigi merupakan kawasan hutan. Di tengah kondisi itu, Batik Valiri memperlihatkan bahwa perlindungan hutan tidak harus berjalan berlawanan dengan pertumbuhan ekonomi.
Melalui usaha berbasis komunitas, Batik Valiri menciptakan nilai tambah dari kekayaan lokal tanpa mengurangi fungsi ekologis hutan. Praktik ini sejalan dengan visi Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) yang mendorong pembangunan berbasis kekuatan lokal, perlindungan ekosistem, dan kesejahteraan masyarakat.
Bagi Gampiri Interaksi maupun LTKL, Batik Valiri menjadi contoh nyata bahwa ekonomi restoratif dapat tumbuh dari tingkat komunitas.
Berita Terkait
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu
-
Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama
-
Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan
-
Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?
-
10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas
-
Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja
-
Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?
-
175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya
-
Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?
-
Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi