- I Gede Nyoman Agastya Yatra menyatakan perusahaan harus memandang keberlanjutan sebagai investasi jangka panjang yang efisien secara ekonomi.
- Perusahaan perlu menerapkan sistem pemilahan sampah di sumbernya agar biaya pengelolaan tetap efektif dan layak secara finansial.
- Strategi harga yang matang membantu perusahaan mengelola biaya lingkungan sejak awal proses produksi demi mencapai titik impas.
Suara.com - Banyak perusahaan masih menganggap pengelolaan sampah sebagai biaya tambahan yang harus ditekan. Cara pandang ini membuat investasi lingkungan kerap menjadi prioritas terakhir karena dinilai tidak memberikan keuntungan secara langsung.
Namun, pendekatan berbeda diterapkan di Nuanu Creative City. Bagi Head of Environment Nuanu Creative City, I Gede Nyoman Agastya Yatra, keberlanjutan bukan sekadar kewajiban perusahaan, melainkan investasi jangka panjang yang dapat mendukung keberlangsungan bisnis.
"Keberlanjutan bukan sekadar slogan. Semua harus bisa diukur dan dihitung," ujar Agastya.
Menurut Agastya, istilah keberlanjutan sering dimaknai secara berbeda oleh setiap orang. Dalam konteks bisnis, keberlanjutan bukan berarti mengesampingkan efisiensi demi menjalankan program lingkungan. Sebaliknya, perusahaan perlu merancang sistem pengelolaan lingkungan yang tetap efektif sekaligus efisien secara biaya.
"Kalaupun pengelolaan lingkungan merupakan tanggung jawab perusahaan, bukan berarti kita boleh mengabaikan efisiensi. Justru kita harus terus berpikir bagaimana menjalankannya dengan biaya yang seefisien mungkin," katanya.
Cara pandang ini juga berlaku dalam pengelolaan sampah. Agastya menilai banyak perusahaan masih mengukur keberhasilan hanya dari sampah yang berhasil diangkut keluar kawasan. Padahal, yang lebih penting adalah memastikan sistem tersebut mampu bertahan dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan.
Ia mengingatkan bahwa biaya pengelolaan sampah juga dipengaruhi faktor eksternal. Sebagian besar plastik berasal dari produk turunan minyak bumi. Ketika harga minyak naik, biaya produksi plastik ikut meningkat, sehingga biaya pengelolaan sampah plastik pun menjadi lebih mahal.
Karena itu, menurut Agastya, tidak semua perusahaan perlu langsung berinvestasi pada teknologi pengolahan sampah yang kompleks. Langkah paling realistis justru dimulai dari membangun sistem pemilahan sampah sejak dari sumbernya.
"Kalau sebuah perusahaan masih memiliki keterbatasan modal, cukup lakukan pemilahan sampah dengan baik. Sampah yang sudah dipilah bisa dijual ke pengepul, lalu diteruskan ke industri daur ulang," ujarnya.
Baca Juga: Lahan Pertanian Bisa Jadi Penyerap Karbon? Penelitian Ini Ungkap Potensinya
Pandangan Agastya sejalan dengan tulisan Marco Bertini dalam MIT Sloan Management Review. Bertini menilai perusahaan perlu merancang ulang strategi harga agar biaya lingkungan tidak selalu muncul di akhir proses produksi.
Menurutnya, perusahaan perlu mempertimbangkan apa yang sebenarnya dibayar pelanggan, siapa yang menanggung biaya, serta kapan biaya tersebut dialokasikan. Dengan begitu, biaya lingkungan dapat dikelola sejak awal rantai produksi, bukan hanya menjadi beban setelah produk dihasilkan.
Pada akhirnya, Agastya menekankan bahwa keberlanjutan tidak selalu identik dengan investasi besar. Yang lebih penting adalah membangun sistem yang mampu berjalan secara konsisten dan layak secara ekonomi.
"Yang penting sistemnya bisa berjalan dan minimal mencapai titik impas (break even point)," katanya.
Agastya melanjutkan, dengan perencanaan yang matang, perusahaan dapat membangun sistem pengelolaan sampah yang efisien, berkelanjutan, sekaligus memberikan manfaat ekonomi dalam jangka panjang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Harga Serum Penghilang Flek Hitam yang Efektif dan Aman, Ini 5 Rekomendasi Produknya
- Warga Jogja Protes Desil Naik, Status Miskin Masuk Desil 9, Pemda DIY Minta BPS Klarifikasi
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Pati Kompak! Ratusan Ormas Deklarasi Damai di Alun-alun, Tegaskan Tolak Aksi Provokatif
-
Dari Panggung KKI 2026, Belasan UMKM Sumsel Membidik Pasar Nasional hingga Ekspor
-
Cek Kesehatan Gratis Efektif Deteksi Dini dan Eliminasi Kasus TBC di Tangsel
-
Karhutla Sumsel Belum Terkendali, 8 Lokasi Masih Terbakar, Air Makin Menipis
-
Guncang Lima Kota Besar, Deddy Corbuzier Bawa Invasi Indonesia Podcast Festival 2026 ke Luar Jakarta
-
Kemendagri Dorong Digitalisasi Transaksi Daerah Tak Sekadar Pembayaran, tapi Dongkrak PAD
-
Indonesia - China Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Bidang Pertahanan
-
Praperadilan Febrie: Ahli Sebut TPPU Pasca 2026 Wajib Pakai Pasal 607, Bukan UU Lama
-
28 Tahun Berlalu, Luka Mei 1998 Kembali Disuarakan Lewat Lagu
-
Bayi 3 Bulan di OKU Terbaring di ICU, 11 Hari Setelah Diduga Dianiaya Ayah Kandung