Lifestyle / Komunitas
Selasa, 14 Juli 2026 | 11:58 WIB
Unsplash/ Carlos Felipe Ramírez Mesa

Suara.com - Kopi menjadi salah satu komoditas pertanian yang paling banyak dikonsumsi di dunia. Meningkatnya permintaan global membuka peluang ekonomi bagi negara-negara penghasil kopi.

Namun, di balik peluang tersebut, muncul tantangan besar: bagaimana meningkatkan produksi tanpa mengorbankan hutan dan keanekaragaman hayati.

Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) menilai sistem budidaya kopi berbasis agroforestri dapat menjadi salah satu solusi untuk menjawab tantangan tersebut.

Data UNCTAD menunjukkan, perdagangan global produk berbasis keanekaragaman hayati, termasuk kopi, kakao, rempah-rempah, dan hasil hutan lainnya, mencapai sekitar 3,78 triliun dolar AS pada 2024. Angka tersebut menunjukkan besarnya peran komoditas berbasis alam terhadap perekonomian dunia.

Permintaan yang terus meningkat juga memberikan nilai tambah bagi negara-negara penghasil kopi.

Di Thailand, misalnya, nilai ekspor kopi dan produk olahan kopi berbasis keanekaragaman hayati mencapai sekitar 154 juta dolar AS pada 2024, naik 22,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Namun, peningkatan permintaan juga berpotensi mendorong perluasan lahan perkebunan yang dapat mengancam ekosistem apabila tidak dikelola secara berkelanjutan.

Agroforestri sebagai solusi

UNCTAD mendorong penerapan sistem agroforestri dalam budidaya kopi arabika. Metode ini menggabungkan tanaman kopi dengan pepohonan dalam satu hamparan lahan sehingga fungsi produksi dan konservasi dapat berjalan bersamaan.

Baca Juga: IMF Pertahankan Target Ekonomi Indonesia, 'Lebih Baik' dari India dan Filipina

Keberadaan pohon pelindung tidak hanya menjaga keseimbangan ekosistem, tetapi juga membantu meningkatkan penyerbukan, memperbaiki kesuburan tanah, mengurangi risiko erosi, serta meningkatkan ketahanan tanaman terhadap hama dan cuaca ekstrem.

Dengan pendekatan tersebut, produktivitas kebun kopi dapat meningkat tanpa harus membuka kawasan hutan baru.

Selain mendukung praktik budidaya, UNCTAD juga bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan untuk membangun sistem ketertelusuran (traceability) kopi. Sistem ini memungkinkan asal-usul biji kopi ditelusuri mulai dari petani hingga konsumen sehingga memperkuat transparansi rantai pasok sekaligus memenuhi standar pasar internasional.

Inisiatif tersebut didukung melalui pendanaan dari Dana Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Memberdayakan perempuan di sektor kopi

Pada Maret 2026, UNCTAD mengunjungi fasilitas pengolahan kopi di Provinsi Xiangkhouang, Laos. Salah satu hal yang menarik perhatian adalah seluruh pekerja di fasilitas tersebut merupakan perempuan.

Load More