Lifestyle / Male
Selasa, 14 Juli 2026 | 15:15 WIB
Miftah Maulana alias Gus Miftah. (Instagram/pengajiangusmiftah)
Baca 10 detik
  • Gus Miftah adalah pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji di Yogyakarta yang dikenal luas melalui gaya dakwah santai.
  • Silsilah Gus Miftah memicu perdebatan publik antara klaim keturunan Kiai Ageng Besari dengan latar belakang keluarga sederhana.
  • Kiprah dakwah moderatnya membuat Gus Miftah diakui sebagai tokoh berpengaruh bagi generasi muda serta umat Islam Indonesia.

Suara.com - Miftah Maulana Habiburrohman, atau yang kerap disapa Gus Miftah, merupakan salah satu tokoh dakwah yang cukup dikenal di Indonesia saat ini. Lahir pada 5 Agustus 1981 di Adiluhur, Jabung, Lampung Timur, ia kini menjadi pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji di Sleman, Yogyakarta.

Gaya dakwahnya yang santai, humoris, namun tetap sarat hikmah membuatnya dekat dengan berbagai kalangan, terutama generasi muda. Namun, di balik popularitasnya, muncul pertanyaan yang sering dibahas publik: Apakah Gus Miftah benar-benar keturunan kyai?

Istilah “Gus” dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU) biasanya merujuk pada anak atau keturunan kyai, yaitu ulama atau pemimpin pesantren yang dihormati.

Penggunaan gelar ini sering dikaitkan dengan nasab atau garis keturunan yang memiliki latar belakang keagamaan kuat. Oleh karena itu, banyak yang penasaran dengan latar belakang keluarga Gus Miftah.

Silsilah Keluarga Gus Miftah

Gus Miftah (Instagram)

 

Usut punya usut, Gus Miftah merupakan keturunan kesembilan dari Kiai Muhammad Ageng Besari, atau yang juga dikenal sebagai Kiai Hasan Besari, pendiri Pesantren Tegalsari di Ponorogo, Jawa Timur.

Pesantren Tegalsari adalah salah satu pesantren tertua dan berpengaruh di Nusantara, yang melahirkan banyak ulama besar.

Ayah Gus Miftah, M. Murodhi bin M. Boniran, disebut sebagai bagian dari silsilah ini. Sementara kakeknya, Mbah Boniran, juga menjadi titik rujukan dalam penelusuran nasab keluarga.

Gus Miftah lahir dari keluarga sederhana di Lampung. Ayahnya, M. Murodhi, diketahui pernah mengikuti transmigrasi ke Sumatera. Meski demikian, keluarganya memiliki ikatan dengan tradisi pesantren di Jawa.

Gus Miftah adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Pendidikannya dimulai di madrasah di Lampung, kemudian hijrah ke Yogyakarta pada 1999 setelah lulus Madrasah Aliyah.

Baca Juga: Gus Miftah: Pesantren Harus Jadi Benteng Lawan Bullying dan Kecanduan Gadget

Di Yogyakarta, ia aktif di lingkungan NU, pernah kuliah di UIN Sunan Kalijaga meski tidak selesai dan terlibat dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Baru pada 2023, ia menyelesaikan S1 Pendidikan Agama Islam di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, dan bahkan melanjutkan ke jenjang S2.

Pada usia 21 tahun, sekitar 2002, Gus Miftah mulai serius berdakwah. Ia mendirikan Pondok Pesantren Ora Aji yang kini menjadi pusat pendidikan dan dakwah.

Perjalanannya sebagai mubaligh tidak selalu mulus. Sosoknya pernah mengalami berbagai tantangan, termasuk kritik atas gaya dakwahnya yang dianggap “nyentrik” atau berbeda dari kyai tradisional. Namun, hal ini justru membuatnya semakin dikenal luas.

Kontroversi Seputar Nasab Gus Miftah

Miftah Maulana alias Gus Miftah (Instagram/@pengajiangusmiftah)

 

Meski banyak sumber yang mengafirmasi keturunannya dari Kiai Ageng Besari, tidak sedikit pula yang mempertanyakan keabsahan klaim ini.

Beberapa perangkat desa di Ponorogo dan tokoh lokal menyebut bahwa silsilah keluarga Gus Miftah lebih dekat dengan leluhur di wilayah Bantengan, bukan langsung dari garis Tegalsari.

Load More