Lifestyle / Komunitas
Selasa, 21 Juli 2026 | 14:14 WIB
Yogyakarta Gamelan Festival 2026. [ist]
Baca 10 detik
  • YGF ke-31 mengangkat tema Sukacita untuk menegaskan gamelan sebagai sumber kegembiraan dan kebersamaan.
  • Rangkaian acara meliputi lokakarya meditasi gamelan, Rembug Budaya tentang HKI, serta konser lintas budaya dengan penampil dari Indonesia dan mancanegara.
  • Spirit kebersamaan ditonjolkan sebagai pesan utama, menjadikan gamelan bahasa universal yang hidup, relevan, dan berakar pada tradisi.
  •  

Suara.com - Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) kembali hadir di tahun ke-31, berlangsung pada 21 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Pasar Ngasem, Kota Yogyakarta.

Festival yang digagas Komunitas Gayam 16 ini mengusung tema “Sukacita” (Joy), menegaskan gamelan bukan sekadar instrumen musik, melainkan sumber kegembiraan, ruang kebersamaan, dan penyegaran batin.

Sejak pertama kali digelar pada 1995, YGF telah menjadi ajang pertemuan seniman dan penikmat gamelan dari berbagai belahan dunia.

"Selama lebih dari tiga dekade, festival ini menjadi wadah untuk menjaga relevansi gamelan di tengah perkembangan zaman sekaligus membuka ruang eksplorasi artistik baru," kata Ketua Komunitas Gayam 16, Ari Wulu.

Ketua YGF 31, Lanoke “Uke”, menambahkan bahwa tema Sukacita dipilih untuk menekankan gamelan sebagai spirit kebersamaan.

“Kegembiraan dapat lahir dari proses memainkan, mendengarkan, dan mengeksplorasi gamelan bersama. Sukacita yang kami maksud bukan hanya euforia, tetapi kegembiraan yang berasal dari harmoni dan keberagaman,” tambah Uke saat konferensi pers di Hotel Loman Park Yogyakarta, Senin (20/7/2026).

Sebagai bagian dari Bulan Warisan Dunia DIY, festival ini mendapat dukungan penuh dari Dinas Kebudayaan DIY.

“Nilai-nilai penting yang terkandung di dalam gamelan harus dikuatkan Pemda DIY sebagai aksi pelestarian karya budaya yang sudah ditetapkan UNESCO," imbuh Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi.

Rangkaian program YGF 31 meliputi:

Baca Juga: Fadli Zon Dorong Cerita Rakyat Jadi Gerakan Nasional, Bukan Sekadar Warisan Budaya

1. Lokakarya Gamelan sebagai Musik Meditasi (21 hingga 22 Juli 2026), mengeksplorasi vibrasi gamelan sebagai sarana refleksi dan penciptaan sukacita kolektif.

2. Rembug Budaya (27 Juli 2026), membahas pentingnya perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) bagi komunitas musik tradisi.

3. Konser Gamelan (31 Juli hingga 2 Agustus 2026), menghadirkan 16 kelompok penampil dari berbagai daerah di Indonesia serta mancanegara, termasuk Prancis dan Belanda.

Konser puncak di Plaza Ngasem akan menjadi ruang perjumpaan lintas budaya, memperlihatkan gamelan sebagai bahasa universal yang hidup dan terus berkembang.

"Melalui YGF 31, kami berharap generasi muda melihat gamelan sebagai budaya yang hidup, terbuka terhadap inovasi, dan tetap berakar kuat pada tradisi," pungkas Ari Wulu.

Load More