- Dr. Timothy Astandu menerima penghargaan MURI di Jakarta pada Juli 2026 setelah mengunjungi 197 negara berdaulat.
- Pencapaian tersebut membuktikan bahwa paspor Indonesia tetap dapat digunakan untuk mengunjungi seluruh negara berdaulat di dunia.
- CEO Populix tersebut berhasil membagi waktu antara perjalanan internasional dan tanggung jawab memimpin perusahaan riset teknologi.
Disiplin mengatur waktu menjadi kunci agar dua peran tersebut tetap berjalan beriringan.
Dari Percakapan Sederhana Lahir Ide Besar
Bagi Timothy, perjalanan tidak pernah sekadar mengejar destinasi.
Di setiap negara yang dikunjungi, ia memilih berbincang dengan masyarakat lokal dari berbagai latar belakang. Dari percakapan-percakapan sederhana itu, ia menemukan banyak perspektif yang sering kali berbeda dengan stereotip yang selama ini berkembang.
Pengalaman tersebut kemudian menginspirasinya mendirikan Populix, perusahaan riset yang berupaya menghadirkan suara masyarakat secara lebih akurat melalui pendekatan berbasis data.
Nama Populix sendiri berasal dari bahasa Latin vox populi, yang berarti "suara rakyat". Filosofi tersebut menjadi dasar perusahaan dalam menyediakan layanan riset pasar, riset kebijakan publik, platform survei mandiri PopSurvey, hingga AskLumia, platform riset berbasis kecerdasan buatan (AI). Saat ini Populix didukung lebih dari 1,3 juta responden di Indonesia dan Asia Tenggara.
Petualangan Belum Berakhir
Meski telah menuntaskan perjalanan ke seluruh negara berdaulat, Timothy belum ingin berhenti menjelajah.
Target berikutnya adalah mengunjungi seluruh provinsi di Indonesia, termasuk enam provinsi yang masih belum sempat ia datangi setelah pemekaran wilayah di Papua. Ia juga ingin menjadi orang Indonesia pertama yang pernah terbang menggunakan 200 maskapai penerbangan berbeda di dunia.
Baca Juga: iQOO Z11 Resmi di Indonesia, HP Baterai 9.020mAh Pertama Pecahkan Rekor MURI
Saat ini, target tersebut tinggal selangkah lagi. Timothy hanya perlu mencoba sekitar delapan maskapai tambahan dan berharap seluruh misinya dapat rampung sebelum akhir tahun.
Baginya, menjelajah bukan sekadar berpindah tempat, melainkan cara untuk memahami manusia, memperluas perspektif, dan membawa pulang pelajaran yang bisa diterapkan dalam kehidupan maupun dunia kerja.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bawa Kasus Penebangan Pohon ke Jalur Hukum, Farhan Siap Lapor Gubernur Jabar dan KLH
- Harta Kekayaan Iptu Setya Budi Dias, Oknum KPK Pemeras Bupati Pemalang
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
- 5 Sepatu Kasual Nyaman untuk Jalan Kaki di Kota, Ringan dan Empuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Harga Cuma Rp1 Jutaan, 5 HP Ini Punya Kamera di Atas Ekspektasi
-
Telan Anggaran Rp 3,82 Triliun, Purbaya Minta Fasilitas Sekolah Rakyat Layak Dipakai
-
Kapal Mutiara Sentosa Terbakar di Perairan Madura, Penumpang Terjun ke Laut
-
Kinerja Ekspor Industri Tekstil RI Diproyeksi Moncer pada 2027, Tumbuh hingga 4%
-
Disumbang Pemerintah, Laba Bersih Pupuk Indonesia Meroket 250,3% di Semester I-2026
-
Pemda Guyur Anggaran Rp 500 Juta buat Alokasi Pendidikan
-
Ironi Ruang Kota: Ketika Mal Harus Terbuka, tapi "Rumah Rakyat" Dipagari Kawat Berduri
-
Tekiro Cetak Sejarah Dunia Lewat Kompetisi Mekanik Terbesar di GIIAS 2026
-
Kualanamu Perluas Konektivitas melalui Rute Baru Wings Air ke Mandailing Natal
-
Tak Hanya Transaksi, Bank Digital Kini Mulai Salurkan Kredit Mobil