Lifestyle / Male
Jum'at, 05 Juni 2026 | 18:06 WIB
Dr. Timothy Astandu, Orang Indonesia Pertama yang Menjelajahi 197 Negara. (dok. ist)
Baca 10 detik
  • Dr. Timothy Astandu menjadi orang pertama berpaspor Indonesia yang berhasil mengunjungi 197 negara serta wilayah di dunia.
  • Perjalanan tersebut dilakukan untuk melakukan observasi langsung guna memverifikasi stereotipe dan memahami perilaku masyarakat secara mendalam.
  • Pengalaman tersebut melatarbelakangi pendirian perusahaan riset Populix pada tahun 2018 untuk mendemokratisasi akses data masyarakat di Indonesia.

Suara.com - Bagi sebagian orang, keliling dunia mungkin menjadi mimpi seumur hidup. Namun bagi Dr. Timothy Astandu, perjalanan lintas negara bukan sekadar soal mengumpulkan cap paspor, melainkan cara memahami manusia secara lebih mendalam.

Pendiri perusahaan riset Populix ini tercatat sebagai orang pertama yang berhasil menggunakan paspor Indonesia untuk menjelajahi secara tuntas 197 negara dan wilayah di dunia. Pencapaian tersebut telah diakui oleh tiga komunitas perjalanan internasional bergengsi, yakni Travelers' Century Club (TCC), NomadMania, dan Most Traveled People (MTP).

Dari total 197 destinasi yang dikunjungi, sebanyak 193 merupakan negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dua negara pengamat PBB yaitu Vatikan dan Palestina, serta dua wilayah dengan pengakuan terbatas, yakni Taiwan dan Kosovo.

Namun bagi Timothy, angka tersebut bukanlah tujuan utama.

Sebagai seorang peneliti, ia justru memanfaatkan setiap perjalanan sebagai kesempatan untuk mempelajari perilaku manusia secara langsung. Mulai dari mengobrol dengan warga lokal, mengunjungi pasar tradisional, hingga mengamati kebiasaan konsumsi masyarakat di berbagai belahan dunia.

"Setiap percakapan dengan penduduk lokal merupakan data yang menarik. Setiap pasar yang dimasuki menjadi arena observasi lapangan," ungkap Timothy.

Belajar Melampaui Stereotipe

Salah satu pelajaran terbesar yang ia dapatkan selama menjelajah dunia adalah pentingnya memverifikasi asumsi melalui pengalaman langsung.

Menurut Timothy, banyak gambaran tentang suatu negara yang terbentuk dari pemberitaan atau media sosial ternyata tidak selalu sama dengan realitas di lapangan.

Baca Juga: Kasus Riset Palsu di Denmark, Mendiktisaintek Temukan Dugaan Pencatutan Nama Kampus

Irak, misalnya, yang selama bertahun-tahun identik dengan konflik dan ketidakstabilan politik, justru meninggalkan kesan mendalam baginya karena keramahan masyarakatnya.

"Orang Irak benar-benar ramah. Memperlakukan semua orang layaknya tamu mereka sendiri. Bahkan di beberapa kesempatan mereka mengajak saya untuk makan di rumahnya," katanya.

Pengalaman serupa juga ia temukan di sejumlah negara yang kerap diasosiasikan dengan perang dan konflik.

Somalia dan Yaman, misalnya, ternyata masih memiliki pusat perbelanjaan, taman hiburan, hingga ruang publik yang tetap aktif digunakan masyarakat sehari-hari.

"Bagi seorang peneliti, ini bukan anekdot. Ini adalah pelajaran metodologi yang paling mendasar. Jangan percaya pada asumsi sebelum melakukan verifikasi lapangan," ujarnya.

Kekayaan Tidak Selalu Berbanding Lurus dengan Kebahagiaan

Load More