- Pertumbuhan bakteri dan kebiasaan pemakaian alat yang kurang tepat menyebabkan nasi di rice cooker cepat basi.
- Lima penyebab utamanya meliputi alat kurang bersih, air berlebih, embun menempel, colokan terputus, dan panci terkelupas.
- Pengguna dapat mencegah nasi basi dengan mengaduk nasi, mencuci komponen, menggunakan jeruk nipis, dan mengelap embun.
Suara.com - Pernahkah kamu bertanya-tanya kenapa nasi di rice cooker cepat basi padahal baru saja dimasak beberapa jam yang lalu?
Fenomena ini sangat umum terjadi dan sering kali membuat frustrasi karena menyebabkan pemborosan bahan makanan.
Nasi yang berubah warna menjadi kekuningan, berbau asam, atau bertekstur terlalu lembek umumnya disebabkan oleh pertumbuhan bakteri serta kebiasaan pemakaian alat yang kurang tepat.
Untuk mencegah hal tersebut terulang kembali, ketahui 5 penyebab utama nasi cepat basi di dalam rice cooker beserta solusinya berikut ini.
1. Rice Cooker Tidak Dibersihkan Hingga Tuntas
Bakteri dan sisa uap air sering kali menempel pada tutup bagian dalam, karet pelapis, serta saluran pembuangan uap rice cooker.
Jika komponen-komponen ini jarang dicuci, mikroorganisme akan berkembang biak dan mengontaminasi nasi baru yang kamu masak.
2. Takaran Air Terlalu Banyak saat Memasak
Takaran air yang berlebihan membuat tekstur nasi menjadi sangat basah dan lembek. Kadar kelembapan yang terlalu tinggi merupakan lingkungan ideal bagi bakteri pembusuk untuk berkembang pesat, sehingga nasi lebih cepat berbau.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Rice Cooker Digital, Nasi Tetap Pulen hingga 48 Jam
3. Membiarkan Uap Air Mengembun di Tutup
Uap air yang terperangkap di dalam penanak nasi saat proses penghangatan (warm) akan mengembun di bagian tutup atas.
Tetesan air embun yang jatuh kembali ke permukaan nasi membuat bagian atas nasi menjadi basah dan cepat berjamur.
4. Membiarkan Colokan Terputus Terlalu Lama
Mematikan rice cooker saat nasi masih ada di dalamnya menyebabkan suhu di dalam panci turun ke rentang suhu ruang (20°C–40°C).
Suhu hangat suam-suam kuku ini adalah "zona bahaya" di mana bakteri berkembang biak paling cepat.
Berita Terkait
Terpopuler
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- 6 Tanda-Tanda Rumah Memiliki Energi Positif Chi yang Membuat Penghuni Tenang
- 5 Sunscreen untuk Flek Hitam Usia 30 Tahun ke Atas Sesuai Review dan Harga
- Media Italia Sebut Jay Idzes Masuk Radar PSG: Transfer Mewah untuk Sassuolo
Pilihan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
Terkini
-
Emas 23 Kg Senilai Rp63 M Nyaris Terbang ke Hong Kong, Diselundupkan 7 WNA China
-
Tak Melulu Merek Luar, ini 6 Sepatu Lokal yang Gak Kalah Keren!
-
Urutan Pemakaian Serum, Essence, dan Moisturizer yang Benar Saat Skincare-an
-
Pemangkasan Tarif UMKM hingga 50 Persen di e-Commerce Masih Dibahas Pemerintah
-
Sudah Ditolak, Persija Belum Kapok Kejar Tanda Tangan Eks Pemain AS Roma
-
Proyek Mobil Listrik Nasional di Subang Akan Mulai Produksi di 2028
-
Momen Purbaya Cecar Direktur Kemenhub! Bongkar "Uang Gelap": Lo-Lo Bikin Rugi Devisa Rp 3 Triliun
-
Cicil Emas Lebih Mudah, BRI Hadirkan Layanan Pembiayaan Emas di BRImo
-
Kata Pemprov DKI Soal JPO Viral Tanpa Tangga di Depan Gedung DPR RI
-
Ratusan Pelajar SMA di Karo Diduga Keracunan MBG, Terungkap SPPG Milik Kodim