Suara.com - Membuka TikTok, menonton satu video, lalu menggeser layar ke video berikutnya telah menjadi kebiasaan sehari-hari bagi jutaan pengguna internet.
Aktivitas tersebut terlihat sederhana. Namun, video yang muncul di layar tidak datang begitu saja dari ponsel.
Di balik setiap konten yang diputar, ada pusat data, jaringan internet, dan perangkat yang bekerja menggunakan listrik. Ketika listrik tersebut masih berasal dari sumber energi fosil, penggunaan internet dapat berkaitan dengan emisi gas rumah kaca.
Lalu, bagaimana sebenarnya aktivitas scrolling di TikTok bisa meninggalkan jejak karbon?
Saat pengguna membuka TikTok, video dikirim dari infrastruktur digital menuju perangkat melalui jaringan internet. Proses tersebut melibatkan penyimpanan dan pemrosesan data, transmisi melalui jaringan, hingga penggunaan listrik oleh perangkat.
Penelitian dalam jurnal Nature Communications pada 2024 mencoba menghitung dampak lingkungan dari konsumsi konten digital, termasuk penggunaan media sosial, penjelajahan internet, streaming video dan musik, serta konferensi video.
Hasilnya ditemukan bahwa rata-rata konsumsi konten digital pengguna internet global menghasilkan sekitar 229 kilogram setara karbon dioksida per tahun. Angka tersebut dapat berbeda bergantung pada sumber listrik yang digunakan.
Para peneliti menekankan bahwa salah satu faktor penting dalam menekan dampak iklim dari aktivitas digital adalah dekarbonisasi listrik.
Menurut mereka, penggunaan sumber listrik yang lebih rendah emisi dapat menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi dampak iklim dari meningkatnya konsumsi internet.
Baca Juga: Dulu Googling, Kini TikToking: Mengapa Gen Z Beralih ke TikTok?
Mengapa Video Memiliki Dampak Berbeda?
Tidak semua aktivitas di internet membutuhkan jumlah data dan energi yang sama.
Konten video, misalnya, membutuhkan proses pengiriman dan pemutaran data secara berkelanjutan. Faktor seperti kualitas video, perangkat, proses penyimpanan, pengambilan data, hingga teknologi pemutaran dapat memengaruhi konsumsi energi.
Hal ini dijelaskan dalam kajian "A Survey on Energy Consumption and Environmental Impact of Video Streaming" yang diterbitkan pada 2024.
Dalam penelitian tersebut, peningkatan permintaan video streaming serta kualitas video menjadi salah satu faktor yang membuat konsumsi energi dan jejak lingkungannya semakin penting untuk diperhatikan. Kajian itu juga menunjukkan bahwa konsumsi energi video tidak hanya terjadi ketika data ditransmisikan, tetapi melibatkan proses penyimpanan, pengambilan, pengodean, pemutaran, hingga tampilan di perangkat.
Karena itu, satu kali scroll TikTok tidak dapat langsung diterjemahkan ke dalam angka emisi karbon tertentu.
Berita Terkait
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
Terkini
-
Tegas! Menkeu Purbaya Ungkap Tak Ada Kenaikan Gaji Guru di 2027
-
Renjana Perca, Saat Fashion Indonesia Bertemu Ekonomi Sirkular
-
Modal Foto AI Berseragam Polisi, Pria di Bandung Tipu Korban dan Bawa Lari Uang
-
Insentif Guru Ngaji di Bogor Jadi Rp1,2 Juta per Tahun
-
Jaga Gajah Sumatera, Pertamina Kilang Plaju Perkuat Upaya Melestarikan Warisan Alam Sumsel
-
Temukan 1.500 Warga Terjebak Grup LGBT Daring, Pemkab Serang Siapkan Langkah Pembinaan
-
Bank Sumsel Babel dan Unsri Bersinergi Menyiapkan Generasi Pemimpin Masa Depan
-
Havaianas Debut Kitten Heel di Copenhagen Fashion Week
-
Perombakan Buku Sekolah, Solusi Literasi atau Cuma Proyek Bisnis Baru?
-
Filosofi Baru Oscar Bruzon Mulai Menggila, Pemain Bhayangkara FC Dipaksa Beradaptasi