Lifestyle / Food & Travel
Rabu, 19 Agustus 2026 | 14:02 WIB
Sejumlah wisatawan mancanegara tengah menjalani tradisi Sembeq Buraq. (dok.Aliansi Masyarakat Adat Nusantara)

Suara.com - Sebagai gunung tertinggi kedua di Indonesia, Gunung Rinjani sering menjadi incaran wisatawan domestik dan mancanegara. Dalam memfasilitasi para pengunjungnya, Gunung Rinjani dilengkapi dengan beberapa jalur, salah satunya adalah jalur selatan.

Jalur selatan pendakian Gunung Rinjani yang terletak di Desa Pengadangan, Kabupaten Lombok Timur ini menyuguhkan keindahan alam yang kaya dengan filosofi adat. Filosofi tersebut mengacu pada keharmonisan manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Bagi wisatawan yang ingin menempuh jalur tersebut, ada tradisi yang harus dilakukan terlebih dahulu. Tradisi Sembeq Buraq ini tengah dipersiapkan oleh Masyarakat Adat setempat yang bertujuan untuk menaati hukum adat atau awiq-awiq.

Jika dibedah secara etimologis, Sembeq Buraq terdiri dari dua kata yang saling melengkapi dalam pandangan Masyarakat Adat. Sembeq berarti mengoleskan sesuatu sebagai tanda pada bagian tubuh tertentu, sementara Buraq mengandung arti bersih atau suci.

Sebagai tetua adat di Desa Pengadangan, Nandur Annasip menjelaskan bahwa media yang digunakan dalam ritual ternyata tidak sekadar pamaq, yakni hasil kunyahan tradisi mamaq dari daun sirih, buah pinang, kapur, dan tembakau.

Untuk titik pengolesannya bisa di kening, telapak kaki, tengkuk, hingga dada, selama menyimbolkan tata cara manusia berinteraksi dan berdamai dengan alam semesta.

"Alam semesta juga memiliki cara tersendiri dalam memuja Pencipta," katanya.

Dalam menerapkan Sembeq Buraq bisa disesuaikan dengan hajatan ritualnya. Misalnya, saat seseorang hendak mendaki gunung, bentuk ritualnya bisa berbeda dengan penanganan terhadap orang sakit atau kondisi ketemuq—sebutan lokal Sasak untuk gangguan fisik ringan akibat melanggar aturan di tempat sakral atau alam liar.

Namun, Nandur tidak menepis bahwa tradisi tersebut sempat memicu polemik di tengah kelompok masyarakat. Menurutnya, hal itu disebabkan oleh kurangnya pemahaman terhadap isi doa yang dipanjatkan dalam bahasa lokal Sasak.

Baca Juga: Dosen UBBG dan Sanggar Aceh Art Dance Community Perkuat Pelestarian Tari Tradisi Aceh

Padahal tradisi Sembeq Buraq ini tidak hanya diperuntukkan manusia, melainkan bisa digunakan sebagai ritual keselamatan (nyelemetang) bagi benda-benda baru, seperti kendaraan hingga rumah yang baru ditempati.

Pihak Pemuda Rinjani Selatan hingga para tokoh adat Pengadangan mengusulkan untuk mengintegrasikan Sembeq Buraq ini ke dalam aturan pendakian (awiq-awiq).

Dengan adanya usulan ini, para pendaki, baik lokal ataupun mancanegara, diwajibkan untuk mengikuti adat tersebut sebelum mendaki. Dalam pertemuan singkat tersebut, para pendaki diingatkan untuk tidak membunuh hewan, menebang pohon, berkata kasar, hingga melanggar sopan santun.

Para pendaki juga dibekali dengan bawang putih sebagai perlengkapan ritual yang kemudian dimasukkan ke dalam mondoq mama—wadah anyaman daun kelapa mirip ketupat kecil memanjang yang digantungkan di tas atau pakaian.

"Mondoq mama itu bukan jimat, melainkan hanya sebagai pengingat bagi pendaki. Mendaki adalah jalan untuk menikmati keagungan Tuhan Yang Maha Esa, bukan berjalan semau kita," jelasnya.

Dari Mondoq mama itu rencananya ingin menambahkan briket gula arena sebagai sumber energi alami pengganti permen. Melalui langkah ini diyakini sebagai sarana pemberdayaan ekonomi bagi para pembuat gula aren lokal di kawasan setempat.

Load More