Suara.com - Kebutuhan air di perkotaan terus meningkat, sementara perubahan iklim membuat ketersediaan air semakin sulit diprediksi. Salah satu sumber yang berpotensi dimanfaatkan adalah air hujan, tetapi penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa persoalannya bukan hanya seberapa banyak air yang tersedia.
Kesiapan masyarakat dan karakteristik wilayah juga menentukan apakah potensi tersebut benar-benar bisa dimanfaatkan.
Dalam penelitian mengenai pemanenan air hujan (rainwater harvesting) di Kota Semarang, periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Yosef Prihanto, mengembangkan model sosio-spasial yang menghubungkan potensi fisik air hujan dengan kondisi sosial masyarakat.
Pendekatan ini dapat menjadi dasar berbasis bukti bagi pemerintah untuk menentukan wilayah prioritas dan merancang kebijakan ketahanan air perkotaan.
Secara fisik, atap permukiman di Kota Semarang diperkirakan mampu menampung sekitar 89,01 miliar liter air hujan per tahun pada 2020. Potensinya diproyeksikan meningkat menjadi 96,78 miliar liter pada 2025 dan 105,62 miliar liter pada 2030.
Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan. Penelitian menunjukkan pemanfaatan realistis baru sekitar 24 miliar liter atau 27% dari potensi fisiknya.
“Hasil penelitian ini memberikan bukti bahwa potensi sumber daya air tidak dapat diterjemahkan secara langsung menjadi potensi pemanfaatan. Ada faktor sosial dan spasial yang memengaruhi keberhasilan suatu intervensi,” kata Yosef.
Potensi air tidak sama dengan kesiapan wilayah
Semarang dipilih sebagai lokasi penelitian karena memiliki karakter geografis yang beragam, mulai dari kawasan pesisir hingga perbukitan. Perbedaan kondisi tersebut membuat kebutuhan dan tantangan pengelolaan air tidak sama di setiap wilayah.
Penelitian juga menemukan bahwa penerimaan masyarakat terhadap pemanenan air hujan dipengaruhi oleh pengetahuan, persepsi, dan sikap.
Kawasan Semarang tengah, misalnya, memiliki tingkat penerimaan yang relatif lebih tinggi dibandingkan Semarang bawah.
Temuan ini menunjukkan adanya paradoks dalam perencanaan ketahanan air. Wilayah yang memiliki kebutuhan atau kerentanan air lebih tinggi belum tentu merupakan wilayah yang paling siap menerapkan solusi tertentu.
Karena itu, kebijakan yang hanya menggunakan data curah hujan atau luas atap sebagai dasar penentuan lokasi intervensi berisiko tidak efektif.
Model sosio-spasial yang dikembangkan Yosef mencoba menggabungkan data fisik, sosial, dan karakteristik permukiman. Dengan pendekatan tersebut, pemerintah tidak hanya dapat memperkirakan berapa banyak air hujan yang tersedia, tetapi juga mengidentifikasi lokasi yang memiliki peluang lebih besar untuk berhasil menerapkan pemanenan air hujan.
“Pendekatan ini memungkinkan kebijakan tidak hanya menjawab berapa besar potensi air yang tersedia, tetapi juga di mana intervensi memiliki peluang keberhasilan lebih tinggi,” ujarnya.
Ketahanan air membutuhkan masyarakat
BRIN pada 2026 menempatkan penguatan ketahanan air sebagai salah satu agenda dalam menghadapi perubahan iklim. Pemanenan air hujan dapat menjadi salah satu strategi diversifikasi sumber air perkotaan.
Namun, penelitian di Semarang menunjukkan bahwa teknologi saja tidak cukup.
Penerapannya perlu disesuaikan dengan karakter sosial dan spasial setiap wilayah, diperkuat melalui pendekatan berbasis komunitas, serta didukung bukti dari fasilitas publik.
Masyarakat juga perlu memahami bahwa air hujan bukan sekadar limpasan yang harus dibuang, tetapi sumber daya yang dapat dikelola.
“Teknologi saja tidak cukup. Kita perlu membangun pemahaman dan kepercayaan masyarakat bahwa air hujan merupakan sumber daya yang dapat dikelola,” kata Yosef.
Karena itu, edukasi, peningkatan kapasitas, dan keterlibatan masyarakat perlu berjalan bersama pembangunan infrastruktur.
Penulis: Chairunisa
Berita Terkait
-
Mahjong Kembali Populer, Kini Jadi Pilihan Aktivitas Sosial di Tengah Era Digital
-
Bukan Modifikasi Cuaca, BMKG Jelaskan Penyebab Hujan yang Guyur Jakarta Hari Ini
-
Jakarta Diguyur Hujan Lagi Hari Ini, Pramono Sebut Hasil Modifikasi Cuaca
-
Punya Potensi Besar, Mengapa Ketahanan Pangan Indonesia Belum Optimal?
-
3 Orang Tewas saat Banjir Besar di Chiba Jepang, Hujan Ekstrem Kepung Pinggiran Tokyo
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- Sunscreen Apa yang Bisa Memudarkan Flek Hitam di Wajah? Ini 9 Rekomendasi Terbaiknya
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Misteri Besar di Balik Kematian Tim Lama dalam Serial Reacher Season 2
-
Profil 4 Anggota Pancatera, Ada Marissa Anita hingga Karina Basrewan
-
Punya Potensi Air Hujan Besar: Mengapa Semarang Hanya Bisa Manfaatkan 27 Persen?
-
Eks Dirut PGN Hendi Prio Santoso Divonis 4 Tahun Penjara Kasus Korupsi Gas Rp255 Miliar
-
Dari Tazos hingga Tamiya: Mengenang Indahnya Bermain Tanpa Koneksi Internet
-
Apa Bedanya Magic Com, Magic Jar, dan Rice Cooker? Ini Fungsi Masing-Masing
-
Cicil Emas dari BRI Bisa Dapat Emas Langsung, Ini Caranya
-
Agnez Mo Raih Posisi 6 IMDb STARmeter Berkat Perankan Lila Hoth
-
Wacana Pengadilan Ad Hoc BUMN: Solusi Bersih-bersih atau Potensi Tumpang Tindih?
-
3 Krim Wajah Brand Korea untuk Noda Hitam Sesuai Review dan Harga