Suara.com - Coba tanya orang di sekitar Anda, apa yang terlintas ketika mendengar kata “kelapa”. Kemungkinan besar jawabannya adalah es kelapa muda yang menyegarkan di tengah teriknya siang atau santan untuk memasak opor saat Lebaran. Jarang ada yang membayangkan atap rumah.
Padahal, pohon kelapa punya kegunaan yang jauh lebih luas. Setiap 2 September, dunia memperingati Hari Kelapa Sedunia. Peringatan ini ditetapkan pada 2009, bertepatan dengan berdirinya Asian and Pacific Coconut Community (APCC), organisasi yang menaungi negara-negara penghasil kelapa di kawasan Asia-Pasifik.
Momentum ini menjadi pengingat bahwa kelapa bukan sekadar tanaman pangan. Pohon ini berperan dalam kehidupan ekonomi, sosial, hingga budaya masyarakat di negara-negara tropis.
Indonesia termasuk negara yang punya alasan kuat untuk memberi perhatian lebih pada komoditas ini. Berdasarkan data FAOSTAT 2024, Indonesia merupakan salah satu produsen kelapa terbesar dunia dengan luas perkebunan mencapai sekitar 3,4 juta hektare. Lebih dari 90 persen perkebunan tersebut dikelola oleh masyarakat.
Kelapa pun tumbuh hampir di seluruh penjuru Indonesia. Buahnya digunakan untuk kebutuhan pangan, sementara bagian lain dari pohonnya dimanfaatkan untuk berbagai keperluan rumah tangga dan ekonomi.
Namun, di balik pemanfaatan tersebut, ada persoalan yang kerap luput dibicarakan, limbah kelapa.
Setiap kali buah kelapa dibelah, sabut dan tempurungnya tersisa. Sebagian dimanfaatkan sebagai bahan bakar atau arang, tetapi tidak sedikit pula yang berakhir sebagai limbah.
Padahal, material yang selama ini dianggap sebagai sampah itu berpotensi digunakan untuk menghadapi persoalan perkotaan, termasuk limpasan air hujan yang dapat memperparah banjir.
Ketika Sabut Kelapa Naik ke Atap
Sebuah penelitian yang dilakukan tim dari Universiti Malaysia Pahang dan diterbitkan dalam jurnal Water Science & Technology menguji penggunaan limbah kelapa sebagai bagian dari sistem atap hijau.
Atap hijau pada dasarnya merupakan sistem yang menempatkan vegetasi dan sejumlah lapisan pendukung di atas bangunan. Sistem ini dapat membantu menahan air hujan sebelum air mengalir ke saluran drainase.
Dalam penelitian tersebut, para peneliti membandingkan tiga model atap dalam skala laboratorium. Model pertama merupakan atap biasa. Model kedua adalah atap hijau yang menggunakan material komersial seperti geotekstil dan pelat drainase. Sementara model ketiga menggunakan sabut dan tempurung kelapa yang telah diproses sebagai material penyaring dan drainase.
Hasilnya menarik. Pada simulasi hujan dengan intensitas 125 milimeter per jam, atap hijau menggunakan material komersial mampu menekan puncak aliran air atau peak flow hingga 67 persen dibandingkan atap biasa.
Sementara itu, atap hijau yang menggunakan limbah kelapa mampu menekan peak flow hingga 86 persen.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa sabut dan tempurung kelapa berpotensi menjadi alternatif material dalam sistem atap hijau. Karakteristik sabut yang berserat dan berpori memungkinkan air tertahan dan dialirkan secara lebih perlahan. Tempurung yang telah dihancurkan juga dapat membentuk ruang-ruang yang membantu memperlambat aliran air.
Dengan begitu, air hujan tidak langsung mengalir dalam jumlah besar dari permukaan bangunan menuju saluran drainase.
Bukan Sekadar Soal Teknis
Persoalan atap hijau sebenarnya tidak berdiri sendiri sebagai isu teknologi. Hal ini berkelindan dengan persoalan ruang di kota-kota kita yang semakin sesak. Yayat Supriyatna, pakar tata kota dari Universitas Trisakti, pernah menyoroti kondisi ini ketika banjir besar melanda Jabodetabek awal tahun ini. Menurutnya, rata-rata ruang tata hijau di kota-kota kawasan itu sudah berada di bawah 10 persen, jauh dari kata cukup untuk menahan limpasan air hujan.
Dalam situasi seperti itu, atap rumah dan gedung menjadi salah satu dari sedikit ruang tersisa yang bisa "dititipi" fungsi menyerap air hujan. Dan di titik inilah temuan soal limbah kelapa menjadi relevan, bukan sekadar sebagai eksperimen laboratorium.
Tim peneliti di balik studi ini sendiri menyimpulkan bahwa material daur ulang seperti sabut dan tempurung kelapa dapat menjadi solusi filter dan drainase yang lebih efektif sekaligus berkelanjutan untuk sistem atap hijau, dibandingkan material komersial yang selama ini digunakan.
Penulis: Inesia Dian