Kisa Perempuan Adat Sembuan Menjaga Hutan Sekaligus Menopang Kehidupan Keluarga

Rabu, 16 September 2026 | 15:55 WIB
Potret dua perempuan adat yang sedang membuat sesuatu dari hasil hutan. (dok.AMAN)

Suara.com - Bagi Masyarakat Adat Kampung Sembuan, hutan bukan sekadar hamparan pepohonan, melainkan “lumbung hidup” yang diwariskan leluhur. Pengetahuan lokal turun-temurun menjadi panduan perempuan adat dalam memanfaatkan hasil hutan tanpa merusak ekosistem.

Rayun, perempuan adat Kampung Sembuan, Kecamatan Nyuatan, Kutai Barat, Kalimantan Timur, mengatakan hutan menyediakan kebutuhan pangan selama dimanfaatkan secara bijaksana.

“Hutan menyediakan semua yang kami butuhkan, asalkan kita tahu cara mengambilnya dengan santun,” kata Rayun.
Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Rayun mengambil pucuk pakis, jamur hutan, dan umbi-umbian dengan mempertimbangkan siklus regenerasi alam agar tetap dapat tumbuh kembali. Hutan juga menjadi sumber tanaman untuk obat tradisional.

“Tak hanya untuk pangan pokok, kekayaan rimba juga membuat keluarga sehat melalui obat-obatan tradisional,” imbuhnya.

Hasil Hutan Jadi Penopang Ekonomi

Hutan Kampung Sembuan diambil dari udara. (dok.YouTube/KKI Warsi)

Peran perempuan adat dalam mengelola hasil hutan tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Hasil hutan turut menjadi salah satu sumber pendapatan alternatif ketika komoditas perkebunan mengalami penurunan harga.

Hal tersebut sangat penting bagi masyarakat yang menggantungkan sebagian penghasilannya pada komoditas, seperti karet dan kelapa sawit.

Ketidakstabilan harga kedua komoditas tersebut sangat berpengaruh terhadap pendapatan keluarga, sehingga dibutuhkan sumber ekonomi lain.

Di tengah kondisi tersebut, perempuan adat memanfaatkan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) serta keterampilan mengolah bahan alam menjadi produk bernilai ekonomi.

Ketua Kelompok Pengrajin Lolakng Adey Kampung Sembuan, Warina, menyatakan bahwa anyaman tradisional dan anyaman rotan dengan pewarna alami menjadi salah satu sumber pendapatan alternatif bagi perempuan di komunitasnya.

Kerajinan itulah yang juga menjadi penopang masyarakat ketika harga komoditas perkebunan sedang dalam kondisi tidak baik—memberi keuntungan yang cukup—bagi keluarga.

"Ketika harga karet jatuh atau sawit murah, kerajinan anyaman, seraung dan hasil hutan non-kayu inilah yang menyambung napas dapur kami," ucap Warina.

Warina menilai keberadaan sumber pangan dan hasil hutan yang bisa dimanfaatkan ini tidak bisa sepenuhnya bergantung pada pendapatan komoditas perkebunan maupun pasokan pangan dari luar.

"Kami tidak lagi perlu berutang untuk sekadar makan sehat," timpalnya.

Menjaga Hutan Berarti Menjaga Kehidupan

Adanya pemanfaatan potensi hutan oleh Masyarakat Adat Kampung Sembuan memperlihatkan bahwa aktivitas ekonomi dan pelestarian lingkungan dapat berjalan bersamaan.

Dalam hal ini, perempuan tidak hanya mengambil hasil alam untuk memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi juga membawa pengetahuan mengenai kapan dan bagaimana sumber daya tersebut bisa dimanfaatkan lebih maksimal.

Bahkan dengan pengetahuan yang diwariskan oleh para leluhur secara turun-temurun menjadi penting. Mengingat keberlangsungan ekonomi masyarakat tersebut sangat bergantung pada keberadaan hutan.

Bayangkan, jika sumber daya alam rusak atau habis, bukan hanya kebutuhan pangan yang terdampak, tetapi juga separuh hidup mereka terdampak, seperti sumber pendapatan yang bersumber pada hasil hutan dan kerajinan.

Di lain sisi, keberagaman sumber pangan dari pekarangan dan hutan komunal juga membantu masyarakat meminimalisir ketergantungannya terhadap pangan instan dari luar.

Warina membeberkan bahwa anak-anak di komunitas adat Dayeq Jumetn Tuwoyatn dan Dayeq Murai Madekng ini mendapatkan asupan nutrisi yang segar, alami, dan beragam langsung dari pekarangan serta hutan komunal mereka.

Masyarakat Adat menyakini bahwa kondisi tersebut erat kaitannya dengan kemandirian dalam menentukan sumber pangan. Selain itu, berupaya mempertahankan sumber daya alam yang menopangnya.

"Kedaulatan berarti kemandirian dan kebebasan menentukan apa yang dikonsumsi tanpa terdikte oleh rantai pasok luar atau lonjakan harga bahan pokok di pasar," paparnya dikutip dalam laman resmi AMAN, Selasa (15/9).

Selama hasil hutan tersebut dimanfaatkan secara bijaksana dengan pengetahuan lokal yang terus diwariskan, perempuan adat tidak hanya berperan sebagai pengelola kebutuhan rumah tangga.

Mereka telah menjadi bagian penting dalam menjaga dan mempertahankan sumber penghidupan sekaligus melindungi keberlangsungan hutan bagi generasi berikutnya di masa depan.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com