- Rupiah ditutup Rp17.696 per dolar AS, melemah 0,01%.
- Harga minyak naik ikut menekan pergerakan rupiah.
- Pasar menanti keputusan dan sinyal suku bunga The Fed.
Suara.com - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Rabu (16/9/2026), meski mayoritas mata uang Asia justru menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp17.696 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 2 poin atau 0,01% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.694 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan pergerakan rupiah cenderung datar di tengah koreksi indeks dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Namun, kenaikan harga minyak mentah dunia turut memberikan tekanan terhadap mata uang Garuda.
"Rupiah ditutup datar di tengah menurunnya dan koreksi pada indeks dolar AS, imbal hasil obligasi AS dan harga minyak mentah dunia," kata Lukman saat dihubungi Suara.com.
Menurut dia, pelaku pasar saat ini cenderung menahan diri atau wait and see menjelang hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed yang dijadwalkan malam ini.
Pasar memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga untuk pertama kalinya sejak Juli 2023. Karena itu, arah rupiah pada perdagangan berikutnya akan sangat bergantung pada sinyal kebijakan yang disampaikan bank sentral AS tersebut.
"Rupiah besok akan tergantung pada sinyal atau nada pernyataan The Fed akan prospek suku bunga ke depannya," ujarnya.
Di kawasan Asia, ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan penguatan terbesar setelah naik 0,25%. Penguatan berikutnya dicatat dolar Taiwan yang terapresiasi 0,20%.
Peso Filipina juga menguat 0,16%, sementara yen Jepang dan yuan China masing-masing naik 0,06%.
Baht Thailand turut menguat 0,02%, sedangkan dolar Hong Kong naik tipis 0,01%.
Sebaliknya, won Korea Selatan menjadi mata uang Asia dengan pelemahan terdalam setelah turun 0,26%. Dolar Singapura melemah 0,02%, sedangkan rupee India turun tipis 0,001% terhadap dolar AS.