- Enam jajanan tradisional Jogja menyimpan cita rasa otentik dan legendaris.
- Keberagaman jajanan tradisional Jogja cocok untuk oleh-oleh para wisatawan.
- Setiap jajanan tradisional Jogja menawarkan keunikan rasa serta sejarah lokal.
Suara.com - Jajanan tradisional merupakan salah satu warisan budaya benda yang dapat dinikmati hingga saat ini. Ada banya pilihan jajanan yang bisa jadi oleh-oleh autentik khas Jogja.
Seperti diketahui, Yogyakarta tidak hanya menyimpan pesona budaya dan lanskap alam yang memikat. Kota Pelajar ini juga keberagaman kuliner tradisional yang senantiasa memanjakan lidah.
Di tengah menjamurnya camilan modern bertema kekinian, jajanan pasar khas Kota Pelajar ini justru memiliki daya pikat tersendiri yang tak lekang oleh waktu.
Setiap kudapan menyimpan rasa autentik dan memori yang siap membawa siapa saja bernostalgia seperti kembali ke masa lalu.
Menelusuri kekayaan kuliner di sudut-sudut Jogja, gudeg memang kerap menjadi ikon utama, tetapi deretan jajanan tradisional daerah ini menyimpan daya tarik yang tak kalah istimewa.
Berikut adalah beberapa jajanan tradisional otentik Jogja yang bisa kamu coba.
Jadah Tempe
Pertama ada Jadah Tempe, kudapan ini berasal dari wilayah Kaliurang Sleman. Makanan ini menyatukan dua elemen sederhana menjadi satu sajian yang unik dan legendaris.
Jadah Tempe merupakan perpaduan antara Jadah (uli/ketan) dan juga tempe bacem.
Perpaduan rasa yang unik antara gurih dan kenyalnya ketan berpadu dengan manis dan tekstur legit dari tempe yang menambah cita rasa.
Cara terbaik untuk menikmatinya adalah dengan menjepit sepotong tempe bacem di antara dua lembar jadah layaknya sandwich lokal.
Perpaduan tekstur kenyal-gurih dan manis legit yang berpadu di dalam mulut, apalagi diselingi gigitan cabai rawit segar, menghadirkan cita rasa yang legend dan autentik.
Yangko
Selanjutnya adalah kudapan manis yang berasal dari wilayah Kotagede. Yangko kerap dijuluki “mochi lokal” karena teksturnya yang lengket dan chewy dipadukan dengan isian kacang yang lembut.
Kue tradisional ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu dan masih dibuat secara turun-temurun. Baluran tepung terigu atau tepung ketan di bagian luarnya menjaga potongan berbentuk dadu ini agar tidak lengket saat disentuh.
Geblek
Geblek adalah jajanan tradisional khas Kulon Progo, Yogyakarta, yang menawarkan sensasi renyah di luar dan sangat kenyal di dalam.
Tekstur Geblek sebenarnya hampir mirip dengan Cireng yang berasal dari tanah pasundan, ada yang mengatakan Geblek adalah “Cirengnya Kulon Progo”.
Terbuat dari adonan pati kanil (tepung tapioka/singkong) yang dibumbui bawang putih dan garam, kudapan gurih ini dibentuk unik menyerupai angka delapan atau rantai ganda sebelum digoreng hingga putih merekah.
Makanan ini menjadi inspirasi motif Batik dari Kulon Progo juga yaitu Motif Geblek Renteng.
Kipo
Mungil, kenyal, dan beraroma wangi, Kipo adalah jajanan tradisional khas Kotagede, Yogyakarta, yang keberadaannya kian langka namun selalu diburu para pecinta kuliner klasik.
Kudapan berukuran seibu jari ini terbuat dari adonan tepung ketan hijau alami dari perasan daun suji dan pandan, dengan isian unti kelapa parut manis bersalut gula jawa di dalamnya.
Nama Kipo diyakini berasal dari pertanyaan singkat Sultan Agung, "Iki opo?" (Ini apa?), yang diucapkan saat pertama kali melihat jajanan berukuran mungil tersebut. Singkatan itu pun akhirnya melekat menjadi nama resminya.
Kipo tidak digoreng maupun dikukus, melainkan dipanggang secara tradisional di atas wajan cobek tanah liat yang dialasi daun pisang.
Jajanan ini cocok untuk kamu yang menerapkan hidup sehat dan menghindari goreng-gorengan.
Emping Garut
Kudapan selanjutnya adalah Emping Garut. Nama Emping Garut bukan merepresentasikan daerah asal Garut, tetapi Emping ini diproduksi dari umbi Garut.
Jika kamu berkunjung di luar Yogyakarta Emping Garut kemungkinan dapat ditemui.
Tetapi, di daerah Yogyakarta dapat kamu temui seperti di daerah Gunungkidul, Kulon Progo dan Bantul khususnya di Dusun Cawan produksi Emping Garut sangat banyak dan dapat kamu jumpai.
Produksi Emping Garut banyak dikelola oleh UMKM di tiga daerah tersebut.
Berbeda dari emping melinjo yang memiliki after taste rasa pahit khas, emping ini diolah dari umbi garut yang ditumbuk pipih lalu digoreng hingga renyah.
Selain menawarkan tekstur krispi yang ringan dengan cita rasa asin-gurih yang pekat, olahan umbi lokal ini juga dikenal kaya serat dan aman bagi penderita asam lambung dan gluten free.
Bakpia
Membahas kuliner khas Jogja tentu belum lengkap tanpa menyapa sang legenda, Bakpia Pathok.
Kudapan manis bertekstur lembut dengan isian kacang hijau yang legit ini telah menjadi ikon oleh-oleh utama sejak puluhan tahun lalu.
Baik varian kering yang tahan lama maupun varian basah yang lumer di mulut, bakpia selalu berhasil mempertahankan posisinya sebagai buah tangan paling dicari para pelancong.
Kontributor : Muhammad Ikhwan Nur Ariyansyah