Dua pekerja mengendarai sepeda motor untuk menyelamatkan diri saat terjadi guguran awan panas Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur, Jumat (6/11/2026). [ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/tom]
Guguran awan panas Gunung Semeru terlihat dari Lumajang, Jawa Timur, Jumat (6/11/2026). [ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/tom]
Guguran awan panas Gunung Semeru terlihat dari Lumajang, Jawa Timur, Jumat (6/11/2026). [ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/tom]
Asap vulkanis keluar dari kawah Gunung Semeru terlihat dari Desa Supiturang, Kecamatan Candipuro, Lumajang, Jawa Timur, Jumat (6/11/2026). [ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/tom]
Petugas memantau aktivitas vulkanik Gunung Semeru di pos pemantauan BPBD Curah Kobokan, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur, Jumat (6/11/2026). [ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/tom]
Petugas memantau aktivitas vulkanik Gunung Semeru melalui kamera pengawas (CCTV) di pos pemantauan BPBD Curah Kobokan, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur, Jumat (6/11/2026). [ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/tom]
Suara.com - Dua pekerja menyelamatkan diri menggunakan sepeda motor saat awan panas guguran Gunung Semeru meluncur di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Jumat (6/11/2026). Gunung teresebut kembali mengalami erupsi disertai guguran awan panas.
Peristiwa tersebut juga disertai kolom abu yang mencapai ketinggian 1.000 meter di atas puncak. Pada pukul 15.48 WIB, awan panas meluncur sejauh lima kilometer ke arah tenggara atau Besuk Kobokan. Kolom abu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal mengarah ke tenggara dan selatan.
Gunung Semeru sendiri masih berstatus Level III atau Siaga. PVMBG melarang aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga 13 kilometer dari puncak serta dalam radius lima kilometer dari kawah.
BPBD Kabupaten Lumajang meningkatkan pemantauan aktivitas Semeru melalui sejumlah pos pantau dan kamera CCTV, terutama di kawasan Curah Kobokan dan Oro-Oro Ombo. Warga diminta mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan banjir lahar.