Waraya: Gelang Tradisional Masyarakat Adat Mairasi yang Simpan Identitas dan Hubungan Dengan Alam

Senin, 05 Oktober 2026 | 16:13 WIB
Waraya: Gelang Tradisional Masyarakat Adat Mairasi yang Simpan Identitas dan Hubungan Dengan Alam. (Dok. Aliansi Masyarakat Adat Nusantara)
BACA 10 DETIK
  • Masyarakat Adat Mairasi di Papua Barat menggunakan gelang waraya sebagai penanda identitas dan hubungan dengan alam.
  • Perempuan adat mewariskan pengetahuan pembuatan gelang waraya berbagai warna ini kepada generasi muda secara turun-temurun.
  • Generasi muda Mairasi perlu mempelajari dan melestarikan makna waraya agar budaya leluhur tidak hilang ditelan modernisasi.

Menjaga Cerita di Balik Waraya

Perubahan zaman membawa tantangan tersendiri bagi keberlangsungan waraya. Bagi Ishak, pengetahuan tentang gelang adat itu tidak cukup jika hanya tersimpan dalam ingatan generasi tua.

Seperti kebudayaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, pengetahuan tentang waraya juga perlu terus dikenalkan kepada anak-anak muda Mairasi. Mereka perlu memahami bahwa warisan budaya tidak selalu hadir dalam bentuk rumah adat, tarian, bahasa, atau upacara.

Benda yang tampak sederhana pun dapat menyimpan pengetahuan tentang siapa mereka dan dari mana mereka berasal.

Untuk memahami waraya, kata Ishak, generasi muda perlu kembali bertanya kepada para tetua: dari mana gelang itu berasal, siapa yang boleh mengenakannya, bagaimana cara membuatnya, kapan digunakan, dan apa makna yang terkandung di dalamnya.

“Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena sebuah budaya akan tetap hidup ketika generasi muda tidak hanya melihatnya sebagai benda lama, tetapi memahami cerita dan nilai yang ada di baliknya,” tuturnya.

Membawa Waraya Keluar dari Mairasi

Modernisasi membuat pakaian dan aksesori baru semakin mudah ditemukan. Gelang tradisional pun berhadapan dengan berbagai pilihan yang lebih dekat dengan selera zaman.

Namun, bagi pemuda adat Mairasi Agustinus Vet, perubahan tidak harus membuat waraya ditinggalkan.

Generasi sekarang, menurutnya, tetap dapat mengenakan waraya sekaligus memperkenalkan makna yang menyertainya kepada masyarakat di luar komunitas.

“Seorang lelaki Mairasi yang mengenakan waraya bukan sekadar memakai aksesori tradisional. Ia sedang membawa serta makna waraya: sebuah cerita tentang leluhur, tanah adat, hubungan sosial, dan identitas masyarakatnya,” kata Agustinus.

Karena itu, menjaga waraya bukan semata-mata mempertahankan bentuk gelang. Yang lebih penting adalah menjaga pengetahuan, cerita, nilai, serta tata cara yang menyertainya.

Para tetua adat dapat terus menceritakan sejarah waraya, sementara generasi muda memiliki ruang untuk mendokumentasikan, mempelajari, dan meneruskannya.

Sebab, gelang itu mungkin masih dapat dibuat bertahun-tahun mendatang. Tetapi jika cerita di baliknya tidak lagi diwariskan, waraya bisa saja tetap melingkar di pergelangan tangan, sementara sebagian dari maknanya perlahan hilang.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com