- Enam SMA Taruna Nusantara dan empat puluh sekolah Indonesia mengikuti AYIMUN Presents Taruna Nusantara MUN 2026.
- Peserta melakukan simulasi sidang PBB untuk membahas isu diskriminasi pekerja, hukuman mati, serta ketegangan antarnegara.
- Kegiatan dua hari ini bertujuan melatih kemampuan berpikir kritis, bernegosiasi, dan berdiplomasi bagi generasi muda.
Suara.com - Dunia yang dihadapi generasi muda saat ini semakin kompleks. Persoalan seperti perubahan iklim, perkembangan teknologi, ketimpangan sosial, konflik antarnegara, hingga isu hak asasi manusia tidak dapat diselesaikan hanya dengan kemampuan akademik.
Para pelajar juga membutuhkan kemampuan untuk berpikir kritis, memahami sudut pandang yang berbeda, berkomunikasi, bernegosiasi, dan mencari jalan keluar melalui dialog.
Kemampuan tersebut dapat mulai dibangun sejak bangku sekolah, salah satunya melalui kegiatan Model United Nations (MUN). Dalam kegiatan ini, pelajar mengikuti simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan berperan sebagai delegasi suatu negara.
Mereka tidak hanya dituntut memahami isu yang dibahas, tetapi juga harus mampu menyampaikan pendapat, mempertahankan kepentingan negara yang diwakili, sekaligus mencari titik temu dengan delegasi lain.
Konsep tersebut diterapkan dalam AYIMUN Presents Taruna Nusantara MUN 2026 yang mengusung tema “From Taruna Nusantara to the Global Stage”. Konferensi ini diikuti peserta dari enam SMA Taruna Nusantara, yakni Magelang, Cimahi, IKN, Langowan, Malang, dan Pagar Alam.
Kegiatan tersebut juga terbuka bagi sekolah lain dan melibatkan 40 sekolah non-Taruna Nusantara dari berbagai daerah di Indonesia.
Bagi pelajar seperti Taruna Nusantara, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam mempersiapkan diri menghadapi lingkungan yang semakin terhubung secara global.
Kepala Sekolah SMA Taruna Nusantara Magelang, Mayor Jenderal TNI M.I. Gogor A. A., S.IP., M.Han., mengatakan pendidikan tidak cukup hanya diarahkan pada pencapaian akademik.
“Hal ini mencerminkan komitmen kami untuk mempersiapkan para siswa tidak hanya mencapai keunggulan akademik, tetapi juga berpartisipasi dalam dunia yang semakin saling terhubung,” ujar Gogor.
Menurutnya, dialog, kolaborasi, dan kemampuan memahami beragam perspektif menjadi bekal penting bagi generasi muda ketika menghadapi persoalan global.
Melalui kegiatan seperti MUN, pelajar juga dapat melihat bahwa sebuah persoalan tidak selalu memiliki satu jawaban sederhana. Dalam konferensi tersebut, peserta menghadapi sejumlah isu yang merepresentasikan persoalan nyata di dunia.
Dewan International Labour Organization (ILO), misalnya, membahas diskriminasi terhadap pekerja dengan penyakit kronis dan disabilitas. Sementara United Nations Human Rights Council (UNHRC) membahas kembali persoalan hukuman mati dari perspektif hak asasi manusia, keadilan, dan perlindungan kehidupan.
Adapun Disarmament and International Security Committee (DISEC) membahas upaya meredakan ketegangan antara Kamboja dan Thailand.
Beragam tema tersebut membuat peserta harus melakukan riset, memahami posisi negara yang diwakili, kemudian menyampaikan pandangan berdasarkan kepentingan negara tersebut.
Di sinilah kemampuan berpikir kritis dan diplomasi diuji. Peserta tidak cukup hanya mengetahui suatu masalah. Mereka harus mampu memilah informasi, menyusun argumen, mendengarkan pihak lain, serta menentukan strategi negosiasi agar gagasan yang mereka bawa dapat diterima.