Suara.com - Dasar laut sering kali dilihat hanya sebatas permukaan tempat berbagai organisme hidup di dalamnya. Padahal, di bawah lautan tersebut mengemban peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hingga siklus karbon global.
Dua pertiga permukaan Bumi ini dipenuhi oleh lautan dengan kedalaman rata-rata mencapai empat kilometer. Letaknya pun jauh dari aktivitas manusia sehingga sempat membuat dasar laut terlindungi dari gangguan.
Sayangnya, seiring dengan berjalannya waktu terjadi peningkatan aktivitas di kawasan tersebut.
Misalnya, penangkapan ikan menggunakan pukat dasar hingga kedalaman kurang lebih 4.000 meter. Aktivitas itulah yang diduga telah mengganggu hingga dua persen dasar laut global setiap tahunnya.
Tak hanya itu, penambangan nodul mangan, jalur pelayaran, kabel bawah laut, pipa, hingga berbagai infrastruktur turut memberikan tekanan tambahan terhadap dasar laut.
Menyimpan Karbon dan Mengatur Siklus Nutrisi
Berdasarkan laporan dari Planetary Health Check (PHC) 2026, para peneliti menegaskan bahwa dasar laut perlu dilihat sebagai bagian integral dari sistem Bumi.
Dasar laut seharusnya tidak hanya menjadi tempat organisme hidup dan berkembang biak, melainkan juga mengambil peran dalam proses ekologis yang lebih luas.
Seorang ahli geologi kelautan dari Leibniz Institute for Baltic Sea Research Warnemünde (IOW), Jacob Geersen, memaparkan bahwa gangguan terhadap dasar laut mampu memengaruhi proses penyimpanan karbon, daur ulang nutrisi, hingga kestabilan jaring makanan laut.
"Kita perlu memahami dasar laut sebagai bagian integral dari sistem Bumi," katanya, mengutip laman Phys, Jumat (25/9).
Peran tersebut bisa dilihat salah satunya dari kemampuan sedimen laut menyimpan karbon organik dalam jumlah besar.
Ratusan miliar ton karbon organik tersimpan di lapisan sedimen landasan kontinental yang menjadi bagian vital dari penyerapan karbon jangka panjang di laut.
Dari situlah, sedimen dasar laut terganggu secara berulang kali. Karbon-karbon yang tersimpan di dalamnya berpotensi akan terlepas kembali ke atmosfer.
Mengacu pada pemodelan global, aktivitas pukat dasar saja bisa dengan mudah melepaskan lebih dari 100 juta ton karbon dari sedimen setiap tahunnya.
Meski begitu, para peneliti masih belum dapat memastikan seberapa besar karbon tersebut yang pada akhirnya terlepas ke atmosfer sebagai tambahan karbon dioksida (CO2).
Sebagai peneliti iklim dari Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK), Levke Caesar mengatakan bahwa perhatian terhadap penyerap karbon alami selama ini tidak semestinya hanya berpusat pada hutan dan tanah di daratan.
"PHC 2026 dengan mendesak menyoroti hal-hal lain, bahwa penyerap karbon alami semakin mendapat tekanan. Terkait hal ini, kita tidak boleh membatasi fokus pada hutan dan tanah di darat. Dasar laut juga termasuk bagian dari sistem ini," tekannya.
Gangguan Dasar Laut Mengancam Ekosistem
Fungsi dasar laut juga tidak berfokus pada penyimpanan karbon.
Terumbu karang, hamparan spons, kerang, organisme penggali, hingga komunitas mikroba ikut berkontribusi dalam membentuk habitat dan mengatur pertukaran karbon serta nutrisi antara sedimen dan air.
Bahkan organisme dan mikroorganisme diduga turut memengaruhi siklus nitrogen, fosfor, dan karbon.
Apabila struktur dan komunitas dasar laut mengalami kerusakan, proses-proses tersebut pun ikut mengalami perubahan.
Dampaknya nyaris berlangsung dalam jangka yang cukup lama.
Eksperimen mengenai pertambangan laut dalam membuktikan bahwa sebagian gangguan terhadap ekosistem dasar laut mampu bertahan selama beberapa waktu.
Salah satu contohnya adalah kondisi Laut Baltik. Wilayah tersebut telah mengalami campur tangan manusia selama bertahun-tahun lamanya, lalu diperparah oleh pemanasan global, pengasaman, eutrofikasi, dan penipisan oksigen.
Peneliti menarik kesimpulan bahwa tidak ada satu meter persegi pun dasar Laut Baltik yang berada pada kondisi benar-benar bebas dari perubahan akibat aktivitas manusia.
Perlindungan Dasar Laut Perlu Diperkuat
Memantau berbagai fungsi tersebut, para peneliti mendesak perlindungan dasar laut untuk tidak sekadar mementingkan keberadaan spesies dan habitat.
Ada fungsi ekologis seperti penyimpanan karbon dan siklus nutrisi yang juga perlu diperhitungkan dalam perencanaan tata kelola ruang laut dan penilaian lingkungan.
Ekosistem laut dalam menjadi salah satu perhatian, mengingat proses pemulihannya berlangsung begitu lambat.
Sedimen kaya karbon juga dinilai perlu menapat perlakuan setara seperti perlindungan terhadap aktivitas manusia yang intensif.
Wakil direktur Walther Schücking Institute for International Law di Universitas Kiel, Nele Matz-Lück, mengatakan berbagai aktivitas seperti perikanan, pelayaran, pertambangan, dan perlindungan keanekaragaman hayati masih sering dikelola secara terpisah.
"Lalu, seberapa efektifnya bergantung pada apakah temuan ilmiah itu diintegrasikan secara efisien ke dalam kawasan lindung laut, penilaian lingkungan, dan keputusan konkret mengenai penggunaan dasar laut," tuturnya.
Sampai sekarang pun, integritas dasar laut belum memiliki indikator pemantauan global maupun nilai ambang batas yang telah ditetapkan secara ilmiah.
Maka dari itu, penelitian lebih lanjut masih sangat dibutuhkan untuk memahami tekanan terhadap dasar laut, tingkat sensitivitasnya, sekaligus kemampuan eksositem tersebut untuk pulih.
Semakin meluasnya aktivitas manusia di laut, maka menjaga dasar laut bukan lagi hanya soal melindungi habitat yang hadir di dalamnya.
Lebih dalam lagi, dasar laut membawa fungsi yang berhubungan dengan penyimpanan karbon, siklus nutrisi, jaring makanan, termasuk keseimbangan sistem Bumi secara menyeluruh.
Penulis: Inesia Dian