Perempuan Adat Kalimantan Utara Merawat Pengetahuan Leluhur Lewat Anyaman Rotan: Bagaimana Caranya?

Senin, 12 Oktober 2026 | 18:05 WIB
Sejumlah perempuan adat sedang menganyam di rumah yang berada di komunitas Bulusu Mogong Desa Bekiliu, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. (Dok.AMAN)

Suara.com - Pengetahuan tentang alam tidak selalu diwariskan melalui buku atau pendidikan formal. Bagi perempuan adat di Kalimantan Utara, pengetahuan tersebut tumbuh dari keseharian, mulai dari mengenali tanaman hingga mengolah rotan menjadi kerajinan yang memiliki nilai ekonomi dan budaya.

Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, sejumlah perempuan adat di komunitas Bulusu, Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan, melanjutkan aktivitas dengan menganyam tikar. Rotan diraut, dibersihkan, dan dibelah sebelum disusun menjadi berbagai bentuk kerajinan.

Keterampilan ini bukan sekadar kegiatan mengisi waktu luang. Bagi sebagian perempuan adat, menganyam menjadi sumber penghidupan yang membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Di balik prosesnya, terdapat pengetahuan yang diwariskan antargenerasi, termasuk cara mengolah bahan alam dan memahami kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari.

Menganyam Rotan sebagai Sumber Penghidupan

Bagi Nur Asikin, perempuan adat berusia 51 tahun dari komunitas Bulusu Mogon, keterampilan menganyam memiliki peran penting dalam kehidupannya. Hasil penjualan kerajinan membantunya membangun rumah. Ketika suaminya mengalami stroke, keterampilan tersebut juga menjadi sumber pendapatan bagi keluarga.

Selain memenuhi kebutuhan rumah tangga, Nur menyisihkan sebagian hasil penjualan anyaman untuk mendukung kegiatan adat dan budaya di komunitasnya.

Pengalaman serupa dialami Hellen, perempuan adat berusia 49 tahun dari komunitas Punan Tugung, Desa Punan Dulau. Hasil penjualan anyaman membantunya membeli kebutuhan dapur, perlengkapan sekolah, hingga uang jajan anak.

Sementara itu, Jainah, perempuan adat berusia 52 tahun yang akrab disapa Ijai, turut mempertahankan keterampilan tradisional tersebut.

Pengalaman mereka menunjukkan bahwa kerajinan tradisional tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga menjadi bagian dari upaya masyarakat memenuhi kebutuhan hidup.

Alam sebagai Ruang Pewarisan Pengetahuan

Bagi sebagian perempuan adat, keterampilan tradisional dipelajari sejak usia belia melalui pengamatan dan praktik langsung. Anak-anak dapat memulai dengan membantu mengambil atau membersihkan rotan, sebelum perlahan mempelajari proses pengolahan hingga menjadi kerajinan.

Pengetahuan tidak hanya disampaikan melalui cerita, tetapi juga melalui pengulangan dan pengalaman sehari-hari. Meski begitu, setiap komunitas memiliki tradisi dan cara tersendiri dalam mewariskan pengetahuannya.

Selain menganyam rotan, perempuan adat juga mempertahankan keterampilan membuat aksesori dari manik-manik. Benda tersebut bukan sekadar hiasan, melainkan bagian dari identitas dan tradisi masyarakat.

Jainah menjelaskan, manik-manik juga digunakan dalam ritual adat, termasuk buang pantang setelah pemakaman, yang berkaitan dengan pemisahan roh orang yang meninggal dari keluarga yang masih hidup.

"Manik sering kali dianggap sebagai pelindung masyarakat adat," jelas Jainah.

Ketika Pengetahuan Tradisional Terancam Terputus

Pewarisan pengetahuan lokal menghadapi tantangan ketika generasi muda mulai kehilangan minat mempelajari keterampilan yang diwariskan pendahulunya.

Jainah mengkhawatirkan siapa yang akan meneruskan keterampilan tersebut jika anak-anak tidak lagi tertarik mempelajarinya. Kekhawatiran ini bukan hanya menyangkut keberlangsungan kerajinan, tetapi juga pengetahuan tentang bahan alam, teknik pengolahan, dan makna budaya yang menyertainya.

Ketika suatu keterampilan tidak lagi dipraktikkan, pengetahuan yang terbentuk melalui pengalaman panjang masyarakat berisiko ikut menghilang.

Karena itu, perempuan adat terus berupaya mengenalkan keterampilan tradisional kepada generasi berikutnya. Bagi Jainah, pengetahuan perlu diwariskan melalui praktik langsung agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

"Pengetahuan tidak hanya diceritakan, pengetahuan harus dipraktikkan agar tidak hilang tergilas zaman," pungkasnya.

Penulis: Chairunisa

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com