Tak Sekadar Baca Buku, Mengapa Literasi Diri Jadi Bekal Transformasi Generasi Muda?

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:30 WIB
Tak Sekadar Membaca Buku, Literasi Diri Jadi Bekal Transformasi Generasi Muda. (Dok. Isimtewa)
BACA 10 DETIK
  • Syam Basrijal meluncurkan program Narasraya Literasi 2026 di Jakarta Selatan pada Sabtu, 24 Oktober 2026.
  • Kegiatan tersebut mengenalkan konsep literasi diri untuk membantu individu mengenali potensi dan emosi.
  • Acara ini diisi penyerahan buku simbolis kepada Sekolah Rakyat Kemensos dan sejumlah perguruan tinggi.

Suara.com - Literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca buku dan menguasai informasi, tetapi juga kemampuan memahami diri sendiri. Kesadaran terhadap pola pikir, emosi, dan kebiasaan dinilai menjadi bagian penting dalam membangun karakter serta mendorong perubahan perilaku yang berkelanjutan.

Founder Restorasi Jiwa Indonesia, Syam Basrijal, mengatakan literasi diri dapat membantu individu mengenali potensi, memahami hambatan dalam dirinya, serta mengambil keputusan secara lebih sadar dan bertanggung jawab.

“Membaca buku membuka jendela pengetahuan. Membaca diri membuka pintu kesadaran. Dan ketika kesadaran menjadi tindakan, di sanalah transformasi kehidupan dimulai,” ujar Syam dalam peluncuran NARASRAYA LITERASI 2026 di Jakarta Selatan, Sabtu (24/10/2026).

Menurut Syam, kemajuan manusia tidak cukup diukur dari tingkat pendidikan maupun penguasaan teknologi. Kemampuan mengelola emosi, berpikir jernih, membangun hubungan sosial yang sehat, dan menentukan arah kehidupan juga menjadi bagian penting dalam pengembangan kualitas manusia.

Melalui pendekatan Restorasi Jiwa Indonesia, literasi diri mencakup kemampuan mengenali pola pikir, memahami emosi, mengidentifikasi keyakinan yang membatasi, hingga mengubah kebiasaan menjadi tindakan yang lebih konstruktif.

Pendekatan tersebut menjadi salah satu upaya untuk memperluas pemahaman mengenai literasi, terutama di tengah perkembangan teknologi digital dan perubahan sosial yang semakin cepat.

Penguatan kesadaran diri juga dinilai relevan bagi generasi muda yang menghadapi beragam tantangan dalam pendidikan, pekerjaan, maupun kehidupan sosial. Kemampuan memahami diri diharapkan membantu mereka mengembangkan potensi sekaligus membangun karakter dan integritas.

Syam menyampaikan gagasan tersebut melalui materi bertajuk Dari Membaca Buku Menuju Membaca Diri, dari Kesadaran Menuju Transformasi Kehidupan dalam kegiatan yang diselenggarakan Restorasi Jiwa Indonesia bersama Narasraya Raksaka Indonesia.

Selain penguatan literasi diri, kegiatan tersebut juga mendorong perluasan akses pengetahuan melalui penyerahan buku secara simbolis kepada perwakilan Sekolah Rakyat Kementerian Sosial dan sejumlah perguruan tinggi, di antaranya UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Bina Sarana Informatika, Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran, dan ITB Ahmad Dahlan.

Inisiatif tersebut diharapkan dapat mendorong budaya membaca yang tidak berhenti pada penambahan pengetahuan, tetapi juga mendukung pembentukan karakter dan kemampuan berpikir kritis.

Peluncuran NARASRAYA LITERASI 2026 turut menghadirkan sejumlah narasumber dari bidang kewirausahaan dan kepemimpinan. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mempertemukan berbagai perspektif dalam pengembangan kapasitas generasi muda.

Momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 juga menjadi pengingat bahwa pembangunan bangsa membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kematangan emosional, kepedulian sosial, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

Melalui penguatan literasi diri, kesadaran individu diharapkan dapat berkembang menjadi kontribusi nyata bagi keluarga, komunitas, dan masyarakat. Dengan demikian, pengembangan manusia menjadi salah satu fondasi untuk mewujudkan generasi muda yang berkarakter dan siap menghadapi tantangan menuju Indonesia Emas 2045.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com