Buku Badai dalam Tungku, Abadikan Perjuangan Menjaga Seni dan Budaya Nusantara

Minggu, 01 November 2026 | 19:36 WIB
Ni Luh Made Dwi Indriati meluncurkan buku Badai dalam Tungku. (Dok. Ist)
BACA 10 DETIK
  • Ni Luh Made Dwi Indriati meluncurkan buku Badai dalam Tungku di Galeri Seni Sampan Bujana Sentra, Jakarta Pusat, pada 28 November 2026.
  • Buku tersebut mendokumentasikan perjalanan ruang budaya Sampan Bujana Sentra karya almarhum Sampan Hismanto dalam menjaga seni dan tradisi Indonesia.
  • Penerbitan buku ini bertujuan mengenalkan ruang budaya tersebut sebagai destinasi wisata serta menginspirasi masyarakat melalui kisah perjuangannya.

Suara.com - Ni Luh Made Dwi Indriati atau yang akrab disapa Wiwiek akan meluncurkan buku terbarunya berjudul Badai dalam Tungku, Kisah Keteguhan Sampan Bujana Sentra pada 28 November 2026. Buku ini mengangkat perjalanan Sampan Bujana Sentra (SBS), ruang budaya yang mempertemukan seni pertunjukan dan kuliner tradisional Indonesia.

Peluncuran buku tersebut akan berlangsung di Galeri Seni Sampan Bujana Sentra, Jalan Cik Ditiro II No. 1, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat.

Melalui buku ini, Wiwiek ingin mengabadikan perjalanan SBS sebagai salah satu karya almarhum Sampan Hismanto, pendiri tempat tersebut. Kisah yang diangkat tidak hanya mengenai keberadaan sebuah ruang budaya, tetapi juga mimpi, perjuangan, dan keteguhan dalam menjaga seni serta tradisi Indonesia.

Sampan Bujana Sentra dikenal sebagai ruang yang menghadirkan pengalaman budaya melalui perpaduan kuliner Nusantara dan seni pertunjukan. Pengunjung dapat menikmati masakan tradisional Indonesia sembari menyaksikan tari daerah, pertunjukan musik, alunan angklung, hingga lagu-lagu daerah.

Bagi Wiwiek, gagasan menulis buku ini berawal dari pengalaman personal. Saat berada di dalam ruangan SBS dan melihat sekelilingnya, ia teringat berbagai kegiatan dan pengalaman yang pernah berlangsung di tempat tersebut.

Kenangan itu kemudian mendorongnya untuk merekam perjalanan SBS dalam bentuk tulisan agar cerita dan nilai-nilai yang diperjuangkan di dalamnya dapat dikenal lebih luas.

“Keinginan saya adalah mendokumentasikan secara khusus salah satu karya terbaik almarhum Bapak Sampan Hismanto, yaitu Sampan Bujana Sentra. Saya ingin bercerita melalui buku,” ungkap Wiwiek.

Perjalanan SBS juga menjadi cerita tentang keteguhan melanjutkan sebuah cita-cita. Setelah sang pendiri berpulang, keberlangsungan ruang budaya tersebut menjadi tanggung jawab para penerusnya di tengah berbagai perubahan dan tantangan.

Wiwiek berharap buku ini dapat menginspirasi pembaca tentang pentingnya keberanian memulai dan konsistensi dalam memperjuangkan sesuatu yang bermakna.

“Menurut saya, setiap mimpi yang baik perlu dimulai dari satu langkah kecil. Kita tidak harus menunggu semuanya sempurna untuk mulai melangkah. Yang terpenting adalah memiliki keberanian untuk memulai dan menjaga komitmen agar apa yang kita impikan bisa diwujudkan,” ujarnya.

Sebelum Badai dalam Tungku, Wiwiek telah menerbitkan novel Wirasa Ayuri serta buku Sampan Hismanto Sang Maestro Tari, Panggungnya Tak Pernah Habis. Karya terbarunya ini kembali menjadikan literasi sebagai medium untuk mendokumentasikan perjalanan tokoh dan ruang yang memiliki kontribusi bagi kebudayaan.

Melalui penerbitan buku tersebut, Wiwiek berharap Sampan Bujana Sentra semakin dikenal sebagai destinasi wisata budaya sekaligus ruang bagi para pelaku seni untuk berkarya dan mengembangkan karier.

Bagi masyarakat yang ingin memiliki buku Badai dalam Tungku, Kisah Keteguhan Sampan Bujana Sentra, pemesanan dapat dilakukan melalui WhatsApp 0818811037 atau pesan langsung ke akun Instagram @wiwiekmade.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com