Dari Lereng Muria, Tradisi Guyang Cekathak Jadi Simbol Perhomatan pada Alam

Senin, 02 November 2026 | 19:15 WIB
Air yang mengalir melalui sistem irigasi bambu tradisional.(dok.Pexels/ Wijs (Wise))

Suara.com - Tradisi Guyang Cekathak di Desa Colo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, bukan sekadar ritual mencuci peninggalan Sunan Muria. Tradisi ini juga mengandung pesan mengenai pentingnya menjaga sumber air yang menjadi bagian dari kehidpan masyarakat setempat.

Guyang Cekathak merupakan sebuah tradisi mencuci cekathak atau pelana peninggalan Sunan Muria. Masyarakat setempat melaksanakan ritual tersebut sebagai bentuk penghormatan sekaligus berdoa memohon agar hujan segera turun.

Namun, tradisi yang berlangsung di kawasan Gunung Muria ini juga erat kaitanya dengan keberadaan Sendang Rejoso. Mata air tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam pelaksanaan Guyang Cekathak.

Melalui penelitian berjudul Tradisi Guyang Cekathank sebagai Wujud Pelestarian Alam Berbasis Kearifan Lokal Masyarakat Desa Colo Kabupaten Kudus, tradisi ini digambarkan sebagai salah satu bentuk kearifan lokal yang mengajak masyarakat untuk menjaga kelestarian sumber air.

Untuk lokasi Sendang Rejoso ini berada sekitar 300 meter dari Masjid Sunan Muria. Lokasi itu juga dikenal sebagai tempat Sunan Muria dahulu mengambil air wudu.

Keberadaan mata air ini memiliki hubungan dengan sejarah dan kehidupan masyarakat di kawasan tersebut. Oleh karena itu, pelaksanaan Guyng Cekathank turut menjadi pengingat betapa pentingnya menjaga sumber air.

Di Balik Guyang Cekathak Ada Pesan Terkait Pelestarian Alam

Tradisi Guyang Cekathak ini dilaksanakan setiap Jumat Wage pada September. Waktu tersebut bertepatan dengan periode puncak musim kemarau dalam penanggalan musim Jawa.

Prosesi diawali dengan membawa cekathak dari Masjid Sunan Muria menuju Sendang Rejoso. Iring-iringan tersebut diikuti dengan lantunan rebana dan selawat.

Setibanya di mata air, masyarakat kemudian melaksanakan proses pencucian cekathak bersama sejumlah benda peninggalan lainnya. Setelah prosesi selesai, air dari Sendang Rejoso dipercikkan kepada warga yang hadir.

Percikan air tersebut menjadi simbol kebahagiaan masyarakat. Sebab, mata airnya masih mengalir. 

Makna ini memperlihatkan kedekatan tradisi dengan keberadaaan sumber air di lingkungan mereka.

Penelitian tersebut menjelaskan bahwa Guyang Cekathak pada mulanya juga menjadi media untuk mengajak masyarakat di sekitar Gunung Muria menjaga sumber air di sebelah utara Masjid Sunan Muria.

Dengan demikian, tradisi ini tidak sekadar berhubungan penghormatan terhadap peninggala Sunan Muria. Adapun nilai kepedulian terhadap lingkungan yang diwariskan melalui pelaksanaan ritual.

Pesan dalam ritual itu sangat penting, karena keberadaan mata air memiliki peran bagi kehidupan masyarakat. Menjaga sumber air sama saja dengan ikut andil dalam mempertahankan ketersediaan air bagi warga yang tinggal di sekitarnya.

Melibatkan Berbagai Unsur Masyarakat

Pelaksanaan Guyang Cekathak melibatkan berbagai kelompok masyarakat. Pesertanya antara lain pengelola makam Sunan Muria, warga setempat, pengemudi ojek Muria, pedagang di kawasan lereng Gunung Muria, serta anggota Sinom atau kelompok penjual aksesori di bawah masjid.

Dari sini kita tahu bahwa pelestarian tradisi ini tidak hanya bergantung pada satu kelompok, melainkan juga melibatkan masyarakat yang beraktivitas di kawasan Gunung Muria.

Bagi masyarakat Colo, ritual ini menjadi salah satu cara untuk mempertahankan adat setempat sekaligus menghormati Sunan Muria. Mereka juga memaknainya sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar turun hujan.

Meski Cekathak merupakan benda peninggalan yang dihormati dalam rangkaian tradisi, masyarakat itu sendiri bahkan tidak memandang pelana sebagai sesuatu yang disembah. 

Menjaga Tradisi Beriringan dengan Menjaga Sumber Air

Keberadaan Guyang Cekathak menunjukkan bahwa kearifan lokal dapat menjadi sarana untuk menyampaikan nilai kepedulian terhadap lingkungan.

Pesan tersebut hadir melalui simbol, kebiasaan, dan keterlibatan masyarakat dalam sebuah tradisi.

Dari penelitian ini juga menekankan betapa Guyang Cekathak diharapkn mampu memantik semangat masyarakat Desa Colo untuk terus menjaga kelestarian mata air.

Dengan begitu, sumber air tersebut dapat tetap mengalir dan dimanfaatkan oleh warga sekitarnya.

Upaya menjaga lingkungan tidak selalu harus diawali melalui pendekatan modern. Nilai-nilai yang hidup dan melekat dalam tradisi masyareakat juga dapat menjadi pengingat mengenai hubungan manusia dengan alam.

Melalui Guyang Cekathak, masyarakat Colo mewariskan lebih dari sekadar ritual tahunan. Tradisi ini turut membawa pesan bahwa sumber air merupakan bagian vital dari kehidupan yang perlu dijaga bersama.

Penulis: Chairunisa

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com