- Sepanjang Tahun Kuda Api 2026, pemilik shio Tikus, Kerbau, Kelinci, dan Ayam mengalami kondisi ciong.
- Kondisi ciong tersebut membuat keempat shio itu disarankan lebih berhati-hati saat mengunjungi rumah duka.
- Tradisi feng shui mengaitkan rumah duka dengan energi yin yang berbenturan dengan energi shio ciong.
Shio Kelinci juga masuk dalam daftar shio yang perlu lebih waspada pada 2026.
Dalam kepercayaan feng shui, kondisi ciong membuat seseorang dianjurkan menjaga keseimbangan diri dan tidak sembarangan melakukan aktivitas yang dianggap dapat memengaruhi keberuntungan.
Karena itu, pemilik shio Kelinci disarankan lebih selektif ketika mengunjungi tempat yang dianggap memiliki energi yin kuat, termasuk rumah duka dan tempat pemakaman.
Pantangan ini bukan berarti pemilik shio Kelinci sama sekali tidak boleh menunjukkan rasa belasungkawa. Mereka tetap dapat memberikan penghormatan kepada keluarga yang berduka dengan menyesuaikan tradisi dan kepercayaan yang dianut.
4. Shio Ayam
Shio Ayam menjadi shio berikutnya yang disebut perlu berhati-hati selama Tahun Kuda Api 2026.
Pemilik shio Ayam dipercaya perlu lebih memperhatikan aktivitas yang dilakukan, terutama jika berkaitan dengan tempat atau situasi yang dianggap memiliki energi kurang harmonis.
Dalam pantangan yang beredar, shio Ayam disarankan menghindari kunjungan ke rumah duka jika tidak memiliki keperluan mendesak.
Jika harus melayat, mereka dianjurkan tidak berlama-lama dan melakukan sejumlah ritual pembersihan diri setelah meninggalkan rumah duka sesuai kepercayaan masing-masing.
Mengapa Shio Ciong Disarankan Tidak Melayat?
Pantangan mengunjungi rumah duka bagi shio tertentu berkaitan dengan kepercayaan mengenai energi yin dan yang dalam tradisi Tionghoa.
Dalam konsep tersebut, yin sering dikaitkan dengan kematian, kegelapan, ketenangan, dan unsur pasif. Sebaliknya, yang atau yang disebut juga energi yang bersifat aktif dikaitkan dengan kehidupan, cahaya, dan pergerakan.
Rumah duka menjadi tempat berlangsungnya berbagai ritual penghormatan kepada orang yang meninggal. Oleh sebab itu, sebagian masyarakat menganggap tempat tersebut memiliki energi yin yang kuat.
Ketika seseorang sedang mengalami ciong, kondisi energi dirinya dipercaya sedang tidak harmonis. Pertemuan dengan energi yang dianggap kurang selaras dikhawatirkan dapat memengaruhi keseimbangan dan keberuntungan.
Meski demikian, kepercayaan ini tidak berlaku seragam bagi seluruh masyarakat Tionghoa. Penafsiran mengenai ciong dan pantangan melayat dapat berbeda menurut tradisi keluarga maupun praktisi feng shui.
Ciong merupakan istilah yang digunakan dalam kepercayaan tradisional Tionghoa untuk menggambarkan benturan atau ketidakselarasan energi antara seseorang dengan elemen atau siklus tertentu.
Konsep ini berkaitan dengan perhitungan astrologi Tionghoa, termasuk shio dan siklus pergantian tahun.
Penelitian berjudul Fenomena Ciong Pada Budaya Penganut Konghucu yang ditulis Rizki Tanto Wijaya, Suzy S. Azeharie, dan Muhammad Adi Pribadi dari Universitas Tarumanagara pada 2019 membahas fenomena tersebut.
Penelitian yang menggunakan metode kualitatif fenomenologi itu menemukan bahwa sebagian penganut Konghucu di Jakarta memandang ciong sebagai bagian dari warisan budaya leluhur.
Dalam penelitian tersebut, ciong juga dikaitkan dengan berbagai kepercayaan yang bersifat mitos dan mistis.
Dengan demikian, ciong tidak hanya berkaitan dengan perhitungan keberuntungan, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi dan cara sebagian masyarakat Tionghoa memahami hubungan manusia dengan lingkungan serta siklus kehidupan.