Sejarah awal terbentuknya Kodim 0411/KM sendiri memiliki beberapa runtutan peristiwa yang terkait dengan peristiwa nasional. Tanggal 2 Februari 1947, Panglima tertinggi yaitu Presiden Republik Indonesia Ir. Soekarno mengumumkan gencatan senjata. Pengumuman Presiden Ir. Soekarno ini ditaati oleh seluruh Angkatan Perang termasuk yang ada di Sumatera Selatan. Kemudian pada tanggal 3 Juni 1947 dikeluarkan Dekrit Presiden yang memerintahkan perubahan TRI (Tentara Rakyat Indonesia) dan laskar–laskar melebur menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Namun, perubahan tersebut di daerah Sumatera Selatan baru dapat terlaksana pada tanggal 27 Oktober 1947.
Hal ini di sebabkan adanya beberapa pertempuran yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Terjadinya Aksi Militer Belanda (AMB) I yang terjadi pada tanggal 21 Juli 1947 yang telah menyerang seluruh garis pertahanan terdepan yang ada di Sumatera Selatan. Untuk membendung laju tentara Belanda maka pada tanggal 1 Juni 1945 terbentuklah struktur organisasi keamanan negara yaitu Divisi VIII Garuda. Pada perjalanannya Devisi VIII Garuda mengalami beberapa perubahan nama dan memiliki komandan
Seiring waktu Divisi VIII Garuda beserta kesatuan-kesatuan bawahannya mengalami perubahan kembali pada tanggal 1 Juli 1948 yaitu dari Devisi VIII Garuda diubah menjadi Sub Komandemen Sumatera Selatan yang di bawahi teritorial. Pada akhir bulan Desember 1948 dibentuk juga tugas Gubernur Militer Daerah Istimewa Sumatera Selatan (GMDISS) bersama dengan Sub Komandemen Sumatera Selatan yang telah ada sebelumnya. Sejak adanya Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948 (di Lampung agresi dimulai sejak 1 Januari 1949) maka pasukan Sub Teritorial Lampung (STL) melanjutkan perang dengan cara bergerilya. Selama perang kemerdekaan kedua ini Sub Teritorial Lampung (STL) pimpinan Letkol Syamaun Gaharu.
Pada tahun 1950 merupakan tahun dimana salah satu kesatuan pasukan yang ada di daerah Lampung diubah menjadi Batalyon XXI dan di-pindah ke Palembang menjadi Batalyon 201 yang dipimpin oleh Kapten Zin dan Batalyon 206 yang dipimpin oleh Kapten RM. Ryacudu yang berkedudu- kan di Baturaja.
Pada Januari 1953 Batalyon 206 dan Brigade IX dipimpin Letkol R. Rita dipindahkan dari Baturaja ke Tanjung Karang untuk bergabung menjadi Resimen Infanteri Sub Terr-6 Teritorium II Sumatera Selatan. Selain itu Batalyon 202 yang dipimpin oleh Mayor Subordo di Baturaja masuk juga dalam susunan Sub Terr-6 Teritorium II Sumatera Selatan. Pada tahun 1962 Resimen Infanteri Sub Terr-6 Teritorium II Sumatera Selatan mengalami perubahan menjadi Komando Resort Militer (KOREM) Garuda Hitam,Kodam II/Sriwijaya.
Tahun 1963 Korem Garuda Hitam resmi menjadi di Korem 043/ Garuda Hitam dipimpin oleh Letnan Kolonel Infanteri Animan Ahyat. Kemudian tanggal 13 Desember 1984 Batalyon Infanteri 143/TWEJ masuk juga dalam susunan Korem 043/Garuda Hitam. Susunan organisasi TNI ini tetap tidak berubah sampai perang kemerdekaan dan Konfrensi Meja Bundar (KMB) tanggal 2 November 1949 yang diikuti dengan pelaksanaan serah terima kekuasaan militer dan wakil pimpinan tentara Belanda kepada wakil pimpinan TNI baik yang ada di Lampung maupun Sumatera Selatan.
Kesatuan Divisi VIII Garuda beserta kesatuan–kesatuan bawahannya mengalami perubahan pada tanggal 1 Juli 1948. Devisi VIII Garuda diubah menjadi Sub Komandemen Sumatera Selatan yang membawahi teritorial sebagai berikut :
1. Sub Teritorial Jambi (STD) berkedudukan di Jambi.
2. Sub Teritorial Bengkulu (STB) berkedudukan di Bengkulu.
3. Sub Teritorial Lampung (STL) berkedudukan di Tanjung Karang.
4. Sub Teritorial Palembang (STP) berkedudukan di Muara Beliti.
Sub Tertorial Lampung sendiri terdiri atas :
1. Komandan Distrik Militer Lampung (Lampung Selatan di Tanjung Karang) dipimpin oleh Kapten Ismail Husin.
2. Komandan Distrik Militer Lampung (Lampung Tengah di Metro Yon 21) dipimpin oleh Kapten Harun Hadimarto.
3. Komandan Distrik Militer Lampung (Lampung Utara di Kotabumi Yon 22) dipimpin oleh Kapten Sukardi Hamdani.
Tag
Terpopuler
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
- 5 HP Xiaomi RAM Besar Termurah, Baterai Awet untuk Multitasking Harian
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
Pilihan
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
Terkini
-
Cara Pemkot Malang Menyisir Penyakit di Balik Daging Kurban 2026
-
Niat Lerai Cekcok Berujung Maut, Dico Tewas Dikeroyok dan Dilempar dari Lantai 2 Weston Billiard
-
Buron Setahun, Pencuri Berkedok Ninja Sarung Diringkus di Panjang
-
Prakiraan Cuaca Wilayah Pekanbaru dan Kota Lain di Indonesia Hari Ini
-
Membaca Kapan Nanti: Sastra Absurd yang Menantang Konsentrasi Pembaca
-
Airlangga Bawa Pulang Komitmen Bisnis Rp7 Triliun dari Belarus
-
Perempuan Muda Asal Jombang Tewas Terlindas Truk Akibat Motor Oleng
-
Harga Emas Hari Ini di Pegadaian Turun, Antam, UBS, dan Galeri24 Kompak Melemah
-
Tayang 2027, Oh Jung Se Berpeluang Bintangi Drakor Sunning Baseball Club
-
Hilirisasi Nikel Dinilai Ganjil: Modal Asing Diduga Dimanja, Pengusaha Lokal Berdarah-darah