/
Jum'at, 27 Mei 2022 | 00:12 WIB
suara.com

Metro, Suara.com- Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Syarif Bando mengingatkan selain kemampuan baca, tulis dan hitung, gerakan literasi juga harus menyediakan akses terhadap bahan bacaan yang semakin luas. Hal tersebut disampaikanya dalam acara talk show Radio Sonora FM (25/05/2022).

Menurut Syarif Bando, literasi harus mencapai tahapan memahami semua yang tersirat dan tersurat, lalu melakukan inovasi pada produk yang sudah ada, dan tiba pada level puncak yaitu mampu membawa masyarakat pada tingkatan menciptakan barang dan jasa secara mandiri.

"Literasi digital ini sangat penting, karena di negara-negara maju, mereka sudah tidak lagi bicara kegemaran membaca dan akses kepada buku. Mereka sudah menciptakan teknologi baru yang mendunia," ungkap Syarif. 

Syarif menambahkan penguatan literasi harus diyakini dapat menjadi daya ungkit pemulihan ekonomi di tengah kondisi pandemi. Menurutnya  literasi saat ini bukan hanya sekedar membaca dan mengambil inspirasinya, tapi sudah harus menciptakan sesuatu. Literasi digital yang digalang Perpusnas menurutnya  adalah kebutuhan yang urgen. Urgensinya bukan hanya sebagai pusat data dan informasi, namun juga bergerak maju mencapai lima tingkatan literasi.

“Perpustakaan harus bisa menyediakan tutorial dalam memberikan ruang dan kesempatan bagi seluruh rakyat Indonesia dalam menciptakan lapangan kerja. Terutama, bagi masyarakat yang terdampak oleh pandemi Covid-19,”jelasnya.

Pada kesempatan sama, Ketua Komisi X DPR RI, Syaiful Huda menyampaikan agar perpustakaan selalu relevan dimata publik. Lewat digitalisasi konten diharapkan dapat mendorong perluasan jejaringnya ke seluruh unit perpustakaan daerah-daerah," kata Syaiful Huda. 

Syaiful Huda juga menginginkan gerakan literasi sebagai usaha kolaboratif lintas sektor, termasuk kementerian dan lembaga dari pusat sampai desa. Pihaknya juga selama ini selalu mengafirmasi agar Perpusnas mendapatkan porsi anggaran yang memadai, untuk menyiapkan SDM Indonesia unggul.
 
"Kami sering mengetuk pintu, termasuk ke Kementerian Keuangan untuk membantu. Gerakan literasi ini bukanlah gerakan instan, tapi ini jangka panjang. Apalagi, literasi saat ini bukan hanya sekedar membaca dan mengambil inspirasinya, tapi sudah harus menciptakan sesuatu," pungkasnya.

Load More