- Indonesia resmi hentikan impor solar mulai kuartal II-2026.
- SPBU swasta mulai pesan solar CN48 ke Pertamina untuk stok April.
- Produksi kilang domestik surplus 3-4 juta KL, pasokan nasional aman.
Suara.com - Era ketergantungan Indonesia terhadap solar impor segera berakhir. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan bahwa per April atau kuartal II-2026, keran impor solar resmi ditutup rapat.
Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman mengungkapkan, sejumlah perusahaan SPBU swasta kini sudah mulai bergerak melakukan pemesanan BBM jenis solar CN48 ke PT Pertamina (Persero).
"Jadi rencananya April sudah harus mulai menggunakan solar dalam negeri," ujar Laode saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (6/2/2026).
Guna memastikan transisi berjalan mulus tanpa gejolak, pemerintah mewajibkan Pertamina menyiapkan infrastruktur yang mumpuni. Hal ini mencakup ketersediaan pelabuhan muat (loading port) hingga kepastian kargo yang sesuai dengan volume pesanan masing-masing operator swasta.
Selain logistik, aspek teknis mengenai spesifikasi bahan bakar juga menjadi sorotan. Laode menegaskan bahwa solar yang disuplai Pertamina kepada pihak swasta harus berupa minyak murni atau base fuel.
"Jadi pada bulan April nanti sudah tidak ada lagi krisis-krisis yang terjadi (kelangkaan BBM). Jadi sekarang kami mitigasi semua," tegas Laode meyakinkan.
Langkah berani menyetop impor ini bukan tanpa alasan. Tulang punggung dari kebijakan ini adalah beroperasinya proyek raksasa Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan. Kilang tersebut diklaim mampu memenuhi seluruh kebutuhan solar domestik secara mandiri.
Senada dengan itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya bahkan optimis Indonesia tidak hanya swasembada, tapi juga bakal mengalami surplus produksi.
"Itu surplus kurang lebih sekitar 3-4 juta (kiloliter). Nah, agenda kami 2026 itu enggak ada impor solar lagi," kata Bahlil akhir tahun lalu.
Baca Juga: Pemerintah Rem Produksi Batu Bara, DMO Dipastikan Naik Kisaran 30%
Dengan beroperasinya RDMP Balikpapan, ketergantungan pada pasokan luar negeri kini tinggal sejarah.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- 4 AC Hemat Listrik untuk Rumah Daya Listrik 450 VA, Pilihan Terbaik agar Tidak Jeglek
Pilihan
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
Terkini
-
Harga Emas di Pegadaian Hari Ini: Cek Rincian Lengkap untuk Semua Ukuran
-
Industri AI Perbankan Kian Diminati, 96 Persen Perusahaan Siap Beri Gaji Lebih Tinggi
-
Emiten DSFI Akui Pelemahan Rupiah Bikin Harga Barang Jadi Naik
-
Driver Sambut Potongan Komisi Ojol 8 Persen, Berharap Tak Muncul Biaya Baru yang Kurangi Pendapatan
-
BPKH Diminta Tak Jadi 'Kasir' Kementerian, DPR Dorong Dana Haji Dikelola Lebih Mandiri
-
Bulog Tegaskan Komitmen Dukung Swasembada Pangan Berkelanjutan di Puncak Penas XVII 2026
-
Delapan Dekade Bertransformasi, BNI Memperluas Dampak Lewat Inovasi dan Digitalisasi
-
Pasar Aplikasi Rp 2.700 Triliun Diburu TikTok
-
DPR Apresiasi Dian Siswarini karena Dividen PT Telkom Jadi yang Tertinggi
-
Komisi Ojol Turun Jadi 8 Persen, Suara Pengguna: Tarif Jangan Naik!