/
Jum'at, 27 Mei 2022 | 00:15 WIB
KITLV

Satu abad lebih Persyarikatan Muhammadiyah berdiri di Indonesia terus menunjukkan perkembangan pesat dan menjelma menjadi sebuah organisasi yang besar diperhitungkan keberadaannya. Berbagai cabang Muhammadiyah telah tersebar ke seluruh wilayah Indonesia bahkan ke negara-negara  tetangga. 

Di Lampung khususnya pada saat Metro telah dibuka sebagai daerah kolonisasi, terdapat beberapa kader Muhammadiyah  dari daerah Jawa yang ikut berkolonisasi ke Metro. Atas inisiatif Ali Suhoedi, Muhammadiyah didirikan di Metro, dengan jumlah anggotanya lebih dari 50 orang dan aktifitas dilaksanakan di daerah kolonisasi Trimurjo, Gedung Dalam, dan Metro sendiri.

Seperti dijelaskan dalam buku Sejarah Perkembangan Perserikatan Muhammadiyah Kota Metro bahwa, Metro berasal dari bahasa Jawa, ‘Mitro’ yang berarti keluarga, persaudaraan, sahabat atau tempat ber- kumpulnya orang untuk menjalin persahabatan. Ada pula yang mengatakan berasal dari bahasa Belanda, ‘Metrem’ yang berarti pusat atau ‘centrum’ atau ‘cen- tral’, dengan pengertian sebagai suatu tempat yang letaknya strategis karena berada di tengah-tengah.

Persyarikatan Muhammadiyah Cabang Metro adalah cabang Muhammadiyah yang pertama kali berdiri di daerah Lampung Tengah. Karena itu sejarah ringkas Muhammadiyah Daerah Lampung Tengah ini dimulai dari sejarah perkembangan Persyarikatan Muhammadiyah Cabang Metro. Muhammadiyah sudah mulai tumbuh di daerah Lampung Tengah yaitu sejak zaman penjajahan Belanda. Pada saat Metro dibuka sebagai daerah kolonisasi ada beberapa kader Muhammadiyah dari Jawa yang ikut berkolonisasi ke Metro. Pada tahun 1938 mulailah timbul pemikiran-pemikiran untuk kemungkinan dapat dirintis berdirinya Muhammadiyah, dan apabila telah sampai saatnya didirikan sebuah ranting atau cabang.

Tokoh–tokoh perintis berdirinya Muhammadiyah Cabang Metro adalah Bapak Muhammad Chajad, Bapak Sosro Sudarmo, Bapak Abdullah Sajad dan Bapak Ki Mohammad Asrof. Pada tahun 1939, Persyarikatan Muhammadiyah di metro sudah dapat dikatakan terbentuk atau berdiri dengan Sosro Sudarmo sebagai Ketua dan Muhammad Chajad sebagai Wakil Ketua. Selain itu nama-nama Bapak Abdullah Sajadi, Bapak Ngali, Bapak Ki. Mohammad, Bapak Asrof, Bapak Muhajir, dan Bapak Seno Hadi Puspito juga duduk sebagai pengurus. 

Perlahan Muhammadiyah mulai melebar dengan berdirinya Muhammadiyah Ranting Hadimulyo dan Calon Ranting Yosodadi. Pada zaman Jepang dari tahun 1942 dan pergerakan perjuangan kemerdekaan tahun 1945, tokoh-tokoh bangsa dan masyarakat banyak terjun dalam kancah perjuangan. kemerdekaan, tak luput pula tokoh-tokoh persyarikatan Muhammadiyah di Metro ikut terjun pula dalam perjuangan tersebut.

Seperti dijelaskan dalam Buku Sejarah Metro Tempo Dulu bahwa pada tahun 1938 Muhammadiyah  telah menunjukan kiprahnya dalam bidang pendidikan. Ranting dan Cabang Muhammadiyah memiliki kedudukan yang sangat penting dalam sebuah persyarikatan. Karena salah satu peran cabang yaitu menyebarkan agama Islam dan merekrut para kader, yang kemudian dapat di tempuh melalui jalan  pendidikan.

Melalui bidang pendidikan dirintis berdirinya sebuah Sekolah Muhammadiyah yakni HIS Muhammadiyah. Pendiri HIS Muhammadiyah Metro sekaligus guru-guru perintis diantaranya: Bapak Surawinoto, Bapak Muhajir, Bapak Seno Haripuspito dan Bapak D. Subari.

Peranan Muhammadiyah sebagai organisasi keagamaan dan sosial pendidikan di Metro ditunjukkan lewat pendirian sekolah untuk memberikan pencerahan bagi anak-anak kolonis di Metro. 

Hadi Pranoto (Guru SMP Muhammadiyah 4 Metro)

Load More