Metro, Suara.com- Pameran Seni Rupa Kontemporer Indonesia MANIFESTO VIII kembali digelar di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta serta menampilkan karya 108 perupa Indonesia (perorangan dan kelompok).
Masing-masing perupa menyuguhkan karya yang dipilih berdasarkan hasil seleksi kurasi dari 613 calon peserta yang mengajukan melalui undangan terbuka (open call). Karya-karya tersebut berupa lukisan, grafis, drawing, mural, patung, instalasi, found object, kolase, kriya tekstil, fotografi, seni digital, video art, animasi, video mapping, dan virtual reality.
Pameran Seni Rupa Kontemporer Indonesia MANIFESTO VIII “TRANSPOSISI” dikuratori oleh Rizki A. Zaelani, Suwarno Wisetrotomo, Citra Smara Dewi, dan Teguh Margono. Kurator Rizki mengatakan, karya-karya yang dipamerkan menunjukkan jenis dan karakter medium ekspresi yang beraneka. Bentuk dan ukuran karya-karyanya bervariasi: ukuran maksimal dengan sifatnya yang ekspansif atau instalatif, atau ukuran minimal yang justru memilih karakter ekspresi yang lebih intim.
“Ada tiga catatan penting dalam watak medium ekspresi: pertama, adanya kecenderungan intensifikasi pengolahan medium-medium ekspresi yang bersifat konvensional (dari gambar, lukisan, atau patung); kedua, adanya jenis eksplorasi dan perluasan karakter medium ekspresi dari gabungan berbagi material, objek, atau benda yang termanifestasikan sebagai kesatuan gagasan; dan ketiga, adanya penggabungan atau interaksi antara medium karya yang bersifat aktual dengan karya digital yang bersifat virtual,” kata Rizki.
Ia menambahkan, Pameran MANIFESTO terus menegaskan dua hal penting. Pertama, perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia kini telah mengembangkan model apresiasi publik terhadap ekspresi karya-karya seni rupa yang dipresentasikan di ruang-ruang publik (termasuk gedung STOVIA yang kini dijadikan museum kesejarahan). Kedua, gagasan penciptaan karya-karya seni rupa kontemporer Indonesia pun, pada umumnya, tetap menjadi khas dan signifikan karena selalu menghubungkan dinamika kemajuan masyarakat kontemporer kini dengan landasan pembelaan sikap-sikap kebangsaan.
“TRANSPOSISI” sebagai tema kerja kurasi maupun judul pameran kali ini lebih dari sekadar undangan bagi para seniman untuk menentukan posisi dan peran kerja penciptaan seni mereka yang baru (atau sekadar “reposisi”). Tema “TRANSPOSISI” menganggap penting upaya pengetahuan dan kesadaran para seniman untuk terus memeriksa kamus gagasan serta tindakan penciptaan seni yang sebelumnya telah dikerjakan masing-masing seniman untuk menciptakan lokasi peran seni yang terbarukan.
“Pendek kata, pameran ini memanfaatkan gagasan ‘TRANSPOSISI’ sebagai kemungkinan cara untuk terus menemukan atau menciptakan bentuk-bentuk yang hidup dari ekspresi perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia, kini dan masa kemudian,” ujar Rizki.
Kurator Suwarno mengatakan, Pameran “MANIFESTO VIII: TRANSPOSISI” memiliki tiga arti penting. Pertama, penting bagi jagad wacana dan praktik seni rupa di Indonesia karena menghadirkan seniman dan karya seni melalui proses kurasi yang tajam di bawah bingkai keindonesiaan, kebangsaan, serta keseharian. Kedua, penting bagi seniman berada dalam tantangan untuk mengelaborasi ide-ide kurasi yang terus bergerak seiring dengan isu-isu aktual dan kontekstual dalam karya seni visual. Ketiga, publik seni maupun masyarakat luas dapat menyaksikan sekaligus mengonfirmasi perkembangan wacana dan praktik seni mutakhir.
Sementara Kurator Citra menuturkan, berbagai dinamika, perubahan, peralihan, hingga ‘turbulensi’ dalam proses berkesenian para perupa menjadi pertaruhan pada pameran MANIFESTO VIII kali ini.
“Sinergitas antara seni, sains, dan teknologi yang saling berkelindan dengan mengusung tema-tema masa lalu, masa kini, dan masa mendatang membawa imajinasi, persepsi, dan interpretasi publik tentang konsep kebangsaan melalui karya seni rupa kontemporer,” tutur Citra.
Kepala Galeri Nasional Indonesia, Pustanto, berharap melalui Pameran Seni Rupa Kontemporer Indonesia “MANIFESTO VIII: TRANSPOSISI”, diharapkan para perupa memiliki kepekaan yang tajam untuk membuat seni rupa memiliki posisi dan peran krusial yang mampu berkontribusi positif dalam kehidupan masyarakat dan mendorong kemajuan zaman.
“Semoga karya-karya dalam pameran ini juga mampu menggugah para apresiator untuk turut mendukung perkembangan dan kemajuan seni rupa serta berkontribusi bagi masa depan Indonesia,” ujar Pustanto.
Pameran Seni Rupa Kontemporer Indonesia MANIFESTO VIII: TRANSPOSISI dapat dikunjungi publik mulai 27 Juli hingga 26 Agustus 2022. Pameran ini digelar di dua tempat, yakni di Gedung A Galeri Nasional Indonesia dan di Museum Kebangkitan Nasional. Di Galeri Nasional, pameran dibuka setiap hari (kecuali hari libur nasional), pukul 10.00-19.00 WIB. Pengunjung dapat melakukan registrasi di laman https://gni.kemdikbud.go.id/kunjungi-kami.
Sementara di Museum Kebangkitan Nasional, pameran dibuka setiap hari (kecuali hari libur nasional), pukul 08.00-16.00 WIB. Registrasi pengunjung dapat dilakukan melalui laman https://muskitnas.net/. Selain digelar secara luring, publik juga akan bisa mengakses 360 pameran ini di laman https://gni.kemdikbud.go.id/ .
Penyelenggaraan MANIFESTO tahun ini berbeda dengan penyelenggaraan sebelumnya, khususnya terkait dengan lokasi pameran yang kali ini bertempat di Galeri Nasional Indonesia (GNI) dan gedung bersejarah STOVIA (kini disebut Museum Kebangkitan Nasional), Jakarta. Relasi kedua lokasi itu menyegarkan kembali gagasan awal penyelenggaraan Pameran MANIFESTO kali pertama (2008) sebagai peringatan momen satu abad gerakan Kebangkitan Nasional Indonesia (sejak 1908).
Berita Terkait
Terpopuler
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Harga Serum Penghilang Flek Hitam yang Efektif dan Aman, Ini 5 Rekomendasi Produknya
- Warga Jogja Protes Desil Naik, Status Miskin Masuk Desil 9, Pemda DIY Minta BPS Klarifikasi
- Kunjungi Korban Gempa di NTT Hari Ini, Gus Miftah Gelontorkan Bantuan Rp500 Juta
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Ahli UMJ Sebut Penggeledahan Rumah Febrie di Sentul Tetap Sah, Wilayah Hukum Bukan Penghalang
-
Aging Population dan Gen Z yang Terjepit Generasi Sandwich
-
Asap Karhutla Ganggu Penerbangan di Nabire, Dua Pesawat Batal Beroperasi
-
Dirut Bulog Ahmad Rizal Ramdhani Raih Gelar Doktor dari Universitas Indonesia
-
Kalimantan Membara, Ridwan Andi Wittiri Desak Evaluasi Total Karhutla: Ini Soal Nyawa Rakyat
-
Viral Kuskus Waigeo di Atas Pohon Tumbang: Saat Hutan Habitat Satwa Endemik Papua Menyusut
-
Bung Ropan Ubah Pernyataan soal Rizky Ridho, Peluang ke Timnas Indonesia Masih Terbuka
-
Sempat Ingin Berhenti demi Orang Tua, Kasman Kini Jadi Jembatan Bahasa di Industri Nikel Obi
-
Siapkan 1.000 Pengacara dan Digitalisasi Data, PPP Mulai Panaskan Mesin Hadapi Pemilu 2029
-
Hadirkan CFX Cryptalk dan CFX Seaside Mixer, Ekosistem CFXM Dorong Sinergi Industri Aset Digital