Pekarangan merupakan elemen penting dalam pemukiman Jawa. Tidak hanya sebagai ruang terbuka antar rumah atau tetangga, tetapi juga sebagai sarana penunjang pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Pemanfaatan pekarangan rumah oleh masyarakat Jawa, menjadi topik untuk mengingatkan kembali kearifan lokal masyarakat Jawa di kawasan Landbouw, kolonisasi Metro, Lampung.
Istilah Pekarangan dalam Bahasa Jawa
Pekarangan merupakan hal yang umum dalam tradisi Jawa. Pekarangan atau kebun dalam bahasa Indonesia terlihat memiliki arti yang mirip dengan halaman belakang. Pekarangan (aslinya dari karya “karang”) adalah kawasan yang terletak di sekitar rumah. Sedangkan “kebun”, mirip kata dari dua prasasti. “kebwan” di Kamalagi dari tahun 831 dan “kbuan” di Watukara dari tahun 931. Kedua kata tersebut memiliki arti yang sama dengan “Kebun” (Subroto, 1985).
Landbouw-kolonisatie adalah program yang berfokus pada pembukaan lahan pertanian baru. Inilah alasan mengapa hutan di antara sungai Way Sekampung dan Way Seputih menjadi tempat yang cocok. Kawasan tersebut merupakan kawasan hutan tropis dataran rendah dengan kontur datar dan terdapat beberapa sungai kecil yang pada akhirnya bermuara pada dua sungai besar tersebut.
Selama tahun 1932 hingga 1941, atas izin masyarakat setempat, ribuan keluarga Jawa telah berhasil tiba di lokasi tersebut. Mereka kemudian tinggal di 70 pemukiman berbeda (bedeng). Bedeng tersebar di beberapa wilayah antara Gunung Sugih dan Sukadana. Saat ini kawasan Bedeng berada di Kecamatan Trimurjo Lampung Tengah, seluruh kecamatan di Kota Metro, dan 3 kecamatan di Lampung Timur; Pekalongan, Batanghari, Sekampung.
Tujuan utama dari program ini adalah pertanian lahan basah untuk produksi beras. Infrastruktur irigasi dibangun untuk memperbesar kemungkinan keberhasilan. Pada tahun 1935, Bendungan Argoguruh berhasil beroperasi. Bendungan ini dapat menyalurkan air dari sungai Way Sekampung ke seluruh wilayah Landbouw-kolonisatie. Untuk mempercepat pengangkutan hasil pertanian dan penjajah baru, jalan baru juga dibangun. Jalan baru sepanjang 19 kilometer dari Tegineneng ke metro menjadi akses dari Metro ke Tanjung Karang (Bandar Lampung).
Sistem Bawon
Daerah Sawah (sawah) terletak di daerah yang lebih rendah dekat pemukiman. Dan tanaman utamanya adalah padi. Hasil dari sawah cukup tinggi. Dan saat musim panen, hanya sedikit pekerja yang tersedia. Pada saat yang sama, hampir semua orang juga sibuk dengan tanaman mereka sendiri. Hal itu menyebabkan banyak padi yang tidak bisa dipanen. Bahkan, itu menjadi alasan untuk menarik orang-orang baru untuk datang. Pendatang baru menjadi buruh memanen padi. Kemudian program tersebut populer dengan sistem bawon. Bawon adalah gaji (padi) setelah pekerja memanen padi.
Permukiman pertama bagi para penjajah (bedeng/bedeng) adalah barak-barak kayu sederhana. Namun setelah pembukaan lahan berhasil, mereka membangun rumah sendiri. yang menarik adalah bagaimana para penjajah ini kemudian memanfaatkan halaman belakang mereka. Ada kesamaan di antara mereka, tentang bagaimana mereka memanfaatkan halaman belakang mereka. Mereka memanfaatkan dan mengoptimalkan pekarangan rumahnya untuk menunjang kebutuhan sehari-hari.
Baca Juga: Pasar Agroceria, Inovasi DKP3 Metro Bantu Petani dan Dorong Pemulihan Ekonomi
Alasan Pemanfaatan Halaman Belakang
Setidaknya ada beberapa alasan bagaimana mereka memilih dan menanam tanaman di halaman belakang mereka. Pertama, adalah untuk makanan. Kita bisa menemukan beberapa tanaman pangan alternatif (tidak termasuk beras) di halaman belakang rumah mereka. Kedua adalah alasan medis.
Tradisi pengobatan Jawa menggunakan berbagai tanaman obat. Orang Jawa selalu menggunakan ramuan tradisional (Jamu) untuk menyembuhkan dan memelihara tubuh mereka. Dan ketiga, untuk tabungan masa depan, terkait dengan tempat tinggal dan kegunaan lainnya. Biasanya tanaman yang ditanam adalah tanaman berkayu. Dan Keempat, untuk ritual baik agama maupun tradisi.
Bambu, Pisang, dan kelapa Mudah ditemukan di Pemukiman
Bambu, pisang, dan kelapa selalu mudah ditemukan di pemukiman penjajah. Desain permukimannya juga unik. Jarak rumah dari jalan raya sekitar 5-10 meter. Pisang dan Kelapa ditanam secara acak di bagian kiri, kanan dan belakang halaman belakang. Setidaknya ada satu jenis pisang di pekarangan. Kelapa juga sedikit, hanya beberapa tanaman yang tumbuh di halaman belakang. Namun, bambu selalu menjadi tanaman pembatas di bagian belakang. Mereka menanam bambu di sepanjang perbatasan dengan tetangga di belakang mereka.
Desain halaman belakang yang serupa mudah ditemukan di semua pemukiman penjajah hingga tahun 1990-an. Namun sayangnya, saat ini, wilayah tersebut memiliki populasi yang lebih padat. Bambu sebagai pembatas tanah sedikit demi sedikit mulai hilang. Namun di beberapa pemukiman baru yang lebih muda, desainnya masih ada dan dilestarikan. Pisang dan kelapa di pekarangan, serta bambu sebagai pembatas masih bisa dijumpai di kawasan Batanghari. Di beberapa area di luar Landbouw-kolonisatie pertama, desain yang merepresentasikan pemanfaatan halaman belakang.
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
Pilihan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
Terkini
-
Rute Transjakarta Dialihkan Imbas Kebakaran Kemayoran, Cek Jalur Alternatifnya
-
Jangan Asal Investasi! Pahami 3 Hal Ini Sebelum Uang Anda Ludes di Pasar Berjangka
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Kenduri Kurban di Pidie Jaya, Tradisi yang Sembuhkan Duka Penyintas Banjir
-
Cushion Sudah Mahal tapi Tetap Abu-Abu? Mungkin Undertone Anda Salah
-
7 Sepatu Lari Daily Trainer Paling Awet: Tetap Nyaman Meski Sudah Menempuh Ribuan Kilometer
-
Catat! Laga Timnas Putri Indonesia vs Singapura Digelar Tanpa Penonton di Arcamanik
-
Dulu Rusak Akibat PETI, Sungai di Tebo Kini Jadi Tempat Anak Muda Menanam Kehidupan
-
Bandung Terancam Jadi Lautan Sampah Pasca Libur Panjang
-
Teddy ke Dino Patti Djalal: Jangan Kaburkan Fakta Hasil Lawatan Prabowo